Cinta Suci

Cinta Suci
BAB. 65 Kemarahan Gus Adnan


__ADS_3

Suci sekarang sudah ada di rumah, tadi saat ia pulang juga du pantau oleh Samuel, karena Samuel hanya ingin memastikan kalau Suci selamat sampai rumah. Suci duduk sambil menunggu suaminya yang masih belum pulang.


" Assalamualaikum."


" Wa'alaikumsalam."


Suci langsung segera membuka pintu untuk menyambut sang suami, ia mengambil tas yang suaminya bawa dan mencium tangannya. Gus Adnan tersenyum sambil mencium kening istrinya sekilas, lalu ia memberikan buckt bunga mawar pada istrinya. Itu membuat Suci senang dengan perlakuan romatis dari suaminya, ia langsung meletakan tas itu di sofa ruang keluarga.


" Mas sengaja beli bunga buat Uci? Aduh romantis banget suami Uci."


Suci langsung berjinjit di depan suaminya, ia mencium bibir suaminya sekilas


" Terima kasih mas."


" Saya tadi kasihan sama bapak-bapak. Bapak-bapak itu sudah tua, tapi masih berjualan, jadi saya beli bungannya."


Senyuman Suci langsung memudar, ternyata suaminya itu tetap saja tidak bisa romantis


" Mas itu nggak bisa iya sekali saja bikin Uci senang? Nyesel deh Uci tadi sudah kasih mas ciuman!"


Suci memeukul-mukul lengan Suaminya dengan bunga, ia sangat kesal. Sedangkan Gus Adnan hanya terkekeh mendengar dan melihat kemarahan istrinya.


" Sebuah bunga tidak ada artinya, di bandingkan ketulusan cinta saya sama kamu. Toh biasanya juga Uci selalu nyosor duluan iya kan?"


Suci yang awalnya memukul-mukul pakai bunga, ia langsung membalikan tubuhnya karena kesal. Gus Adnan langsung memeluk Suci dari belakang.


" Jangan marah dong sayang."


Suci langsung tersenyum, yang awalnya marah hilang seketika saat mendengar suaminya memanggil sayang. Suci langsung membalikan tubuhnya sambil tersenyum. Gus Adnan langsung menyuruh istrinya duduk di sofa, karena tadi pagi istrinya ijin untuk bertemu dengan mantan Dosennya.


" Ayo sini duduk."


Suci hanya mengangguk, ia duduk di samping suaminya yang duduk lebih dulu di sofa.

__ADS_1


" Jadi bagai mana, kamu serius mau kuliah lagi?


Suci yang mendengar pertanyaan itu gelegepan, tapi ia sebisa mungkin agar tidak gugup.


" Ehhmm rencananya sih gitu, tapi Uci mau pikir-pikir lagi."


Saat mendengar jawaban dari istrinya, Gus Adnan sedikit curiga, tapi ia tepis rasa kecurigaannya terhadap istrinya, ia berusaha percaya pada istrinya.


" Apa pun keputusan kamu saya akan selalu mendukungmu selama itu untuk kebaikan. Kuliah atau tidak kamu tetep istri saya, seperti yang kamu ketahui saya tidak suka kebohongan, jadi jangan sembunyikan apa pun dari saya."


Suci sedikit terkejut saat mendengar ucapan Gus Adnan, ia yakin kalau Gus Adnan itu curiga padanya, lalu ia hanya mejawab dengan anggukan kepala. Setelah dua menit diam Suci berbicara untuk mencairkan suasana.


" Mas, jangan formal terus dong bicaranya, jangan saya-sayahan terus, jadi Uci ngerasa seperti ngomong sama Dosen."


Gus Adnan hanya tersenyum, ia sudah biasa berbicara formal, itu kenapa ia sulit membahasakan diri, apa lagi istrinya bilang berasa berbicara sama Dosen, memang dirinya Dosen.


" Uci, mas memang Dosen, dan kamu nikah sama Dosen, jadi kamu jangan terlalu benci sama Dosen."


" Uci nggak benci sama Dosen, cuma kesel saja, masa Uci di kasih IPK paling gede 3,3."


Suci sangat terkejut dengan jawaban dari suaminya, ia itu kan tidak pintar, bisa masuk ke kampus yang sama dengan Reyhan saja saat pindah itu ia mati-matian belajar, karena di kampus itu harus memiliki IQ tinggi. Tiba-tiba ada bel berbunyi


Ting-tong


" Tunggu di sini."


Gus Adnan langsung keluar, ia tidak melihat siapa pun di sana, di sana hanya ada amplop berwarna coklat. Gus Adnan mengambil amplop itu, ia membuka amplop itu, saat melihat amplop itu nafasnya memburu dan amarah yang tidak bisa ia tahan, biasanya ia ingat istighfar, tapi kali ini tidak, hatinya di penuhi rasa cemburu. Gus Adnan melempar foto-foto itu ke meja depan istrinya


" Jelaskan apa ini maksudnya?!"


Suci langsung tercengang saat melihat foto-foto bersama Samuel, foto saat Samuel menahan tubuhnya yang akan terjatuh, fofo saat duduk di cafe, bahkan foto saat Samuel memegang tangannya. Ternyata dugannya dan dugaan Samuel memang benar kalau ia di ikuti oleh sesaorang, buktinya bukti ini sampai di tangan suaminya. Motif orang tersebut bukan hanya ingin menghancurkan rumah tangganya saja, tapi persahabatan dengan Sisil pun ingin orang itu hancurkan, hanya saja Samuel berpikir lebih pintar dari pada otaknya.


" Kamu menghianati mas?"

__ADS_1


Suaranya sangat pelan dan berat, tapi sukses membuat Suci takut pada suaminya. Suci masih diam sambil menunduk, haruskan ia jelaskan pada suaminya? Lalu kalau sudah seperti ini apa'kah suaminya akan percaya? Yang di katakan Samuel memang benar, harusnya ia memberi tahu suaminya


" Ma-mas."


" Kalau berbicara itu tatap mata mas, Uci?!"


Suci dengan rasa takut, ia menatap mata suaminya, entah kenapa sekarang nyalinya jadi ciut semejak mengetahui Gus Adnan itu suaminya, sifat bar-barnya itu sulit untuk muncul saat berhadapan dengan suaminya.


" Mas itu tidak seperti yang mas pikirkan, Uci tidak mungkin menghianati lelaki yang Uci cintai."


" Jelaskan!"


" Uci di teror mas."


Gus Adnan sangat terkejut dengan jawaban dari istrinya, kenapa istrinya menyembunyikan masalah sebesar itu?


" Sudah empat hari berturut-turut Uci dapat kiriman berupa ancaman, jadi Uci mengajak bertemu dengan Samuel untuk mendapatkan solusi mas, walau pun Uci yakin kalau ini ada hubungannya dengan Ustazah Marwah, tapi Uci masih sedikit ada kejanggalan, tadi juga Sisil mendapatkan foto Uci yang di cafe bersama Samuel, jadi Uci yakin masih ada orang yang terlibat di masalah ini."


" Kenapa harus lelaki lain Uci?! Mas ini suami kamu! Apa pantas kamu pegi dengan lelaki yang bukan makhrom kamu! Tanpa sepengetahuan Mas?! Apa yang kamu lakukan telah melukai harga diri mas sebagai seorang suami!"


" Nggak mas, nggak seperiti itu, Uci hanya takut mas terlibat dalam masalah ini."


Suci panik, ia tidak tau sebesar apa rasa sakit hati suaminya hanya karena satu kesalahan


" Tapi mas itu suami kamu Uci! Bukan'kah keterbukaan itu adalah poin utama? Mas rasa kamu sudah dewasa untuk mengerti kewajiban kamu sebagai seorang istri!"


" Demi Allah mas, Uci nggak ngelakuin apa-apa sama Samuel. Uci cuma minta bantuan Samuel, karena cuma Samuel sahabat yang Uci percaya untuk saat ini."


Gus Adan meremas baju kemejanya sendiri, ia berusaha untuk meredam amarahnya, terutama saat istrinya bilang hanya Samuel orang yang istrinya pecraya, walau pun istrinya mengatakan sahabat, lalu apa ia selama ini tidak pernah di percaya oleh istrinya?


" Terserah! Yang jelas mas benar-benar kecewa sama kamu! Karena kamu sudah bohongin mas."


" Uci berbohong demi kebaikan kita."

__ADS_1


" Kebaikan seperti apa?! Mas bisa maafkan kamu tentang teror itu, tapi mas tidak memaafkan kamu saat kamu berbohong akan bertemu Dosen untuk melajutkan kuliah! Mas tau tentang teror berupa ancaman itu masalah besar tidak main-main, tapi kenapa harus orang lain yang di minta cari solusi?!"


__ADS_2