Cinta Suci

Cinta Suci
BAB. 89 Gus Adnan masuk rumah sakit


__ADS_3

Menurut Suci Indra memang iblis yang berbentuk manusia, karena tidak ada kapok-kapoknya, jelas-jelas ia dan Indra tidak pernah memiliki masalah sama sekali, tapi Indra terus saja ingin menghancurkan hidupnya bersama suaminya.


" Bukan'kah gue sudah bilang? Bahwa saat itu bukan akhir hidup gue? Dan pada akhirnya suami lo terluka, gue harap suami lo segera menyusul Reyhan, biar lo jadi janda! Biar lo ngerasain apa yang gue rasain, lo nolak gue, rasanya gue sakit. Gue sakit hati karena gue enggak bisa sama orang yang gue cintai, dan gue mau hidup lo juga tersiksa karena lo tidak bisa memiliki lelaki yang lo cintai!"


" Lo jahat Indra! Kenapa pada akhirnya persahabatan kita berhakhir dengan bermusuhan? Kita sahabatan sudah lama Indra, tapi lo tega merusak kebahagian gue!"


" Gue hanya ingin kalau lo itu milik gue! Kalau saja lo menerima tawaran gue untuk meninggalkan Gus Adnan dan menikah sama gue, lo enggak akan melihat orang yang lo cintai itu terluka, tapi karena lo keras kepala, nikmati saja penderitan lo."


Suci langsung menendang kaki Indra yang sedang berlutut, karena Indra sudah tidak mampu untuk berdir lagi. Suci mengepalkan ke dua tangannya, tiba-tiba ada dua mobil polisi berhenti di samping Suci. Menampilkan sosok Sholihin dan ke dua polisi lainnya.


" Kamu tidak apa-apa Suci?"


Suci melihat ke arah sumber suara, ternyata Sholihin dan ke dua polisi lainnya.


" Saya tidak apa-apa, tapi kenapa ini cecunguk bisa kabur?!"


Ke dua polisi itu langsung membangunkan Indra dan langsung memborgol tangan Indra.


" Saya juga tidak tau kejadiannya."


Suci baru ingat suaminya.


" Pak Sholihin tolong antarkan saya ke rumah sakit, suami saya masih ada di mobil."


Suci berlari ke arah mobil di ikuti Sholihin. Sholihin langsung memapah Gus Adnan yang tidak sadarkan diri, lalu salah satu polisi itu langsung membuka pintu mobil milik Sholihin.


" Urus Indra, saya akan mengantar Suci dulu."


" Siap ketua ketua."


Mereka menjawab serempak. Sholihin langsung melajukan mobilnya ke arah rumah sakit. Suci sudah menangis saat menyadari kalau kaki suaminya mengalir darah dan banyak luka di tangan dan punggung juga mengeluarkan darah.


" Mas harus bertahan mas, mas enggak boleh tinggalin Uci."


Suci mengusap lembut wajah Suaminya, ia langsung menyadarkan kepala suaminya di dada miliknya.


" Mas harus bertahan untuk anak kita. Hiks... Hiks..."


Mereka sampai di rumah sakit, dan dokter sedang menangani Gus Adnan, sedangkan Sholihin sudah berpamitan dari tadi. Suci juga tadi sudah menghubungi Umi dan Abi untuk datang ke rumah sakit. Suci mondar-mandar di depan pintu ruang rawat suaminya, sudah setengah jam dokter itu masih saja belum keluar.

__ADS_1


" Ya Allah, selamatkan suami hamba." batin Suci


Suci sangat menyesal telah memukul punggung suaminya karena panik, tanpa memikirkan hal apa pun lagi tadi, kalau ia tidak panik, mungkin ia tidak akan memukul suaminya. Tidak lama ke dua orang tua Gus Adnan datang.


" Nak Uci."


" Umi."


Suci langsung memeluk Umi Mariyam. Umi Mariyam juga membalas pelukan dari menantunya, ia mengelus lembut punggung menantunya.


" Jangan terlalu stres nak, kasihan janin kamu."


" Tapi dokter dari tadi belum keluar Umi."


" Iya Umi tau, tapi tenangkan dirimu nak."


Suci hanya mengganggukan kepalanya. Tiba-tiba pintu ruang rawat Gus Ali terbuka.


Cklek.


Dokter itu langsung keluar mendekati ke arah Suci. Suci langsung melepaskan pelukannya saat dokter itu berjalan ke arah Suci.


" Sakit suami ibu sangat parah, punggungnya mengalami banyak luka, seperti terkena goresan kaca mobil, dan tulang kakinya patah, tapi tidak perlu kuatir ibu, nanti akan sembuh juga, hanya saja saya belum bisa memastikan kapan suami ibu akan sadar."


" Dok, kenapa bisa begitu?"


" Pukulan di punggung suami ibu sangat keras, jadi belum bisa memastikan kapan akan sadar."


" Pukulan?!"


" Iya ibu."


Suci tidak menyangka kalau pukulannya sekeras itu, mungkin ia karena panik hingga membuat suaminya tidak sadarkan diri sampai sekarang.


" Kalau tidak ada yang ingin di tanyakan lagi saya permisi bu pak."


Dokter itu langsung pergi. Setelah dokter pergi Suci langsung masuk ke ruang rawat suaminya di ikuti oleh ke dua mertuanya. Suci langsung duduk sambil memegang tangan suaminya yang ia tempelkan di pipinya.


" Mas harus cepat bangun mas, Uci tidak mau sendiri, Uci tidak mau mas seperti ini, hati Uci sakit melihat mas seperti ini. Hiks... Hiks... Hiks..."

__ADS_1


Umi Maryam mengelus punggung menantunya.


" Sabar nak Uci, jangan terus menangis."


Umi Maryam bukan tidak sedih, ia juga meneteskan air mata, tidak ada seorang ibu yang tidak sedih saat melihat putra satu-satunya berbaring di atas ranjang rumah sakit, tapi ia sebisa mungkin untuk menenangkan menantunya.


" Ini salah Uci Umi, seharusnya Uci tidak ingin membeli es cream ke jakarta. Hiks... Hiks... Hiks..."


" Jangan pernah menyalahkan diri sendiri nak Uci, itu bawaan orang hamil, mungkin sedang ngidam. Apa lagi nak Uci harus tau, kalau jodoh, maut, celaka, rezeki itu sudah Allah yang mengatur, ingat semua ini adalah ujian dari Allah. Nak Uci harus sabar dan berdo'a pada Allah agar Adnan segera sadar."


Suci menggelengkan kepalanya, tetap saja walau pun sudah takdir, ia tidak bisa menerima itu, apa lagi yang memukul suaminya ia sendiri, ia hanya ingin menyelsaikan masalah bersama Indra dan tidak ingin suaminya dalam bahaya, tapi ia sendiri yang membahayakan suaminya.


" Bangun mas. Hiks... Hiks... Hiks... Bangun."


Tangisan Suci semakin pecah saat melihat suaminya sama sekali tidak ada respon. Abi Gus Adnan menghela nafas berat, ia mengelus lembut kepala putranya.


" Adnan, cepat sadar nak, kasihan istrimu yang terus saja menangis. Kamu harus cepat sadar, ada anakmu di dalam kandungan Suci yang menunggumu ingin cepat sadar juga."


Tangan Gus Ali yang di taro di pipi istrinya, lambat laun mulai bergerak. Suci sangat terkejut saat melihat tangan suaminya bergerak.


" Mas, mas sudah sadar?"


Suci mencium tangan Suaminya berkali-kali, karena ia merasa sangat senang. Mata Gus Adnan mulai terbuka perlahan, ia melihat istrinya yang sedang menangis.


" Jangan menangis Uci."


" Bagai mana tidak menangis mas, mas terluka karena Uci, karena pukulan Uci."


Gus Adnan juga mengingatnya, saat ia di pukul dengan keras hingga tidak sadarkan diri, tapi ia tidak menyangka kalau istrinya yang memukulnya.


" Maafin Uci mas. Hiks... Hiks... Hiks... Uci hanya ingin melindungi mas, karena mas telah melindungi Uci dengan selamat. Bahkan mas rela mengorbankan nyawa mas hanya untuk Uci, bagai mana Uci akan diam saja saat melihat mas sudah terluka, tentu saja cara satu-satunya Uci memukul mas, tidak mungkin mas melawan Indra dengan tubuh banyak luka, yang ada nanti Indra akan mudah membunuh mas."


" Apa kamu baik-baik saja Uci?"


" Uci baik-baik saja mas, hanya saja tangan kiri Uci terkilir."


" Harus segera di urut Uci, kalau tidak akan semakin parah nanti."


" Iya mas Uci tau. Nanti Uci cari tukang urut."

__ADS_1


__ADS_2