Cinta Suci

Cinta Suci
BAB. 62 Romatis


__ADS_3

Suci tiduran di lengan suaminya yang masih dengan posisi terduduk, ia menatap wajah suaminya, rasa senang dan bahagia menyelimuti hatinya, karena perlakuan suaminya ini selalu membuatnya semakin besar mencintai suaminya. Gus Adnan mulai mencoba menasehati istrinya, bagai mana pun juga ia wajib membimbing istrinya untuk pribadi yang lebih baik, menurut ia Suci itu memang baik, hanya saja sifat bar-barnya selalu muncul tanpa di duga, tapi ia percaya itu semua karena masa lalunya yang selalu di tindas oleh yang kuat, ia tau kalau istrinya hanya mempertahankan haknya.


" Jangan pernah emosi selalu menguasi dirimu Uci. Semarah apapun kita harus bersabar. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabar yang di cukupkan pahala mereka tanpa batas. Saya mengerti perasaanmu saat mereka menghkimi dirimu, saya juga merasakan hal yang sama, tapi apa kita harus membalas yang sama juga? Jika kita berlaku kasar maka mereka akan senang, karena mereka merasa menang. Saya minta kamu tujukan sisi lainnya yang tidak mereka ketahui, yaitu sisi baik dirimu."


" Itu karena Uci takut di poligami mas. Uci lebih baik mejadi janda dari pada harus berbagi suami, karena sampai kapan pun Uci tidak rela berbagi suami."


" Saya memang tidak menyalahkan poligami, tapi insya Allah saya tidak akan melakukannnya, karena memiliki dirimu saja sudah lebih dari cukup. Apa lagi yang harus saya harapkan? Apa pun yang di miliki wanita di luar sana, semuanya ada di dalam dirimu."


Suci cukup tersipu dengan apa yang di katakan oleh suaminya, ternyata suaminya memang bisa romantis juga, memang ucapan suaminya itu tidak lebay sedikit pun, tapi ucapan suaminya mampu membuat hatinya sangat bahagia


" Awas iya mas, pakonnya jangan turutin kemauan Ustazah Marwah, apa pun yang terjadi nanti, cukup jadikan Uci orang ke dua yang mas cintai selain umi, dan jadikan Uci midadari pertama dan terakhir mas di dunia mau pun di akhirat."


" Insya Allah."


Gus Adnan mencium kening Suci sekils, ia tersenyum hangat pada istrinya


" Mas romantis banget sih, mau lagi dong mas, tapi di sini."


Suci menujuk bibirnya agar di cium oleh suaminya


" Kamu itu mesum banget!"


" Ih mas, istri mesum pada suami itu wajar mas, lagian juga siapa coba yang sering ngajakin making love tiap malam? Bukan Uci kan? Tapi mas."


Gus Adnan tidak mempedulikan ucapan mesum istrinya, apa lagi ini siang bolong, tapi istrinya begitu mesum. Gus Adnan melepas hijab istrinya dengan lembut, lalu melepas juga ikat rambutnya


" Kamu adalah midadari yang sangat sempurna yang di ciptakan untuk saya."


Suci menggaruk tengkuknya memakai tangan kirinya, karena mendengar ucapan suaminya yang mengalihkan pembicaraan, tapi ia tetap senang saat mendengar kata-kata romantis dari suaminya.


" Uci."


" Iya mas."


" Kira-kira kamu pengen punya anak berapa?"


" Sepertinya Uci mau empat mas, kalau dua nanti pas berantem lawannya itu-itu terus, kalau empat kan bisa tukeran."

__ADS_1


Gus Adnan tidak percaya dengan ucapan istrinya, ibu macam apa yang menyuruh anaknya itu untuk melakukan kekerasan? Benar-benar istrinya itu selalu beda dari yang lain


"Apa kamu mau mereka melakukan kekerasan?"


" Boleh-boleh saja selama itu membuat mereka bahagia."


" Uci, melakukan kekerasan itu sangat merugikan diri sendiri dan orang lain. Kita itu harus memberikan contoh yang baik, bukan mengajarkan mereka kekerasan, jangan membuat anak kita dalam situasi celaka."


Suci yang mendengar ucapan dari suaminya, matanya mulai berkaca-kaca, entah suaminya itu sengaja menyidir atau tidak, hatinya merasakan sakit, saat suaminya mengatakan sangat merugikan orang lain, ia mengingat diri sendiri saat melakukan tawuran, dan akhirnya Reyhan mejadi korban karena keegoisannya sendiri. Gus Adnan menatap mata Suci yang berkaca-kaca, membuat ia bingung


" Kamu kenapa?"


Gus Adnan bertanya sambil mengusap pipi istrinya dengan lembut. Seketika itu juga Suci langsung memeluk suaminya dengan kepala yang ia sandarkan di dada, lalu tangisannya pecah begitu saja


" Hiks.. Hiks... Uci jahat iya mas.. Hkis... Hiks... Uci sudah membuat Rey meninggal."


Gus Adnan membulatkan matanya, ia sangat terkejut saat istrinya menangis dan membahas soal Reyhan, jujur saja ia sama sekali tidak menyindir istrinya ke masalah masa lalunya, ia hanya tidak ingin anak-anaknya itu salah jalan, ia hanya ingin anak-anaknya mengikuti jejaknya dan jejak istrinya yang baik-baik, bukan jejak kekerasan istrinya yang akan merugikan diri sendiri dan orang lain, tapi ia tidak bermaksud untuk menyangkut pautkan dengan masalah Reyhan.


" Siapa yang bilang kamu jahat? Kalau pun ada orang yang mengatakan kamu jahat itu adalah orang gila. Uci, takdir manusia itu sudah di tentukan saat kita belum lahir, kita tidak bisa menyalahkan takdir pada diri sendiri atau orang lain. Kamu itu baik, bahkan sangat baik."


Suci tidak melajutkan ucapannya, ia masih menangis, dadanya merasakan sangat sakit.


" Uci, maaf, saya sama sekali tidak menyindir kamu, kamu enggak jahat, kalau kamu jahat mungkin pak Mahendra sudah menuntut kamu, ini sama sekali tidak ada kaitanya dengan kamu. Jangan menangis lagi, penyesalan tidak akan bisa merubah apa pun, yang bisa merubah segalanya adalah belajar untuk lebih baik lagi."


Gus Adnan mengusap-usap kepala Suci, ia sama sekali tidak cemburu sudah berapa kali istrinya menangis untuk Reyhan, bahkan tiap minggu ia juga mengantar istrinya untuk jarah ke makam Reyhan, ia sama sekali tidak keberatan, yang sudah lalu memang biarlah berlalu, yang jelas ia berterima kasih pada sosok seorang Reyhan yang telah mejaga istrinya selama ini. Suci menggeleng-gelengkan kepalanya, ia mulai menghentikan tangisannya, lalu langsung menatap suaminya


" Kamu tidak mau bertanya saya ingin punya anak berapa?"


Gus Adnan sengaja mengalihkan topik agar istrinya itu tidak sedih lagi


" Oh iya Uci lupa."


Suci langsung menghapus air matanya, setelah selsai ia melanjutkan ucapannya lagi


" Memang mas ingin punya anak berapa?"


" Saya menginginkan punya anak enam, agar rumah ini terasa hangat."

__ADS_1


Suci membulatkan matanya tidak percaya dengan ucapan suaminya


" Enak saja! Cari saja wanita lain yang bisa memberikan mas anak! Emang nggak susah apa mengandung?!"


Ucapan Suci membuat Gus Adnan sangat terkejut


" Kamu ko jadi memperbolehkan saya berpoligami?"


" Siapa juga yang memperbolehkan mas berpoligami?!"


" Itu ucapanmu?"


" Awas saja kalau berpoligami! Uci akan buat tuh burung nggak akan berdiri lagi!"


Suci sangat marah, sedangkan Gus Adnan hanya menampilkan seyuman hangatnya


" Lalu kalau di buat begitu kita punya anak dari mana?"


" Iya pakonnya nggak boleh poligami! Ayo kita buat anak sekarang! Biar Uci cepat hamil."


" Hah?!"


Gus Adnan sangat terkejut dengan ajakan istrinya


" Uci, ini masih siang."


Memang jam itu masih menujukan pukul 13.00WIB


" Iya mau siang mau malam, lagian juga sudah halal. Mau di ruang tamu, mau di dapur, mau di kamar mandi juga boleh, lagian ngelakuinnya di rumah."


Pltek..


Gus Adnan langsung menyentil kening istrinya, istrinya itu selalu saja berbicara tidak masuk di akal


" Sakit mas."


" Lagian kamu itu kalau ngomong selalu ngawur!"

__ADS_1


__ADS_2