Cinta Suci

Cinta Suci
BAB. 71 Masih ada pelaku teror


__ADS_3

Suci masih diam, ia hanya menatap cincin berlian itu dengan perasaan bingung, karena tidak tau maksud Samuel itu apa. Sedangkan Samuel yang menatap Suci hanya melihat cincin berlian itu, ia hanya menghela nafas kasar


" Uci, pakailah cincin itu."


" Hah? Untuk apa Sam?"


" Itu adalah cincin pelacak, aku hanya kuatir denganmu, karena masih ada orang yang terlibat di masalah ini selain Maya dan Indra."


Suci melebarkan matanya, ia tidak percaya kalau masih ada orang yang terlibat di dalam pelaku teror ini, ia sudah cukup di kejutkan oleh dua sahabatnya dan sekarang di kejutkan oleh pelaku teror itu masih ada satu lagi


" Siapa Sam?"


" Nanti kamu akan tau, untuk saat ini aku tidak bisa bilang, biar waktu yang akan membuktikan, kamu harus hati-hati, ingat hukum itu bisa di beli, jadi aku minta kamu jangan ceroboh, cincin itu untuk berjaga-jaga saja."


" Baik Sam, terima kasih banyak."


Samuel hanya mengangguk sambil tersenyum. Suci langsung memakai cincin itu, karena ia tau kalau Samuel selalu memperhitungkannya dengan sangat hati-hati.


" Assalamualaikum."


" Wa'alaikumsalam."


Samuel dan Suci menjawab serempak saat ada yang uluk salam sambil berdiri.


" Mas."


Gus Adnan melihat istrinya yang habis menangis dan gamis yang masih ada darahnya. Gus Adnan langsung menarik istrinya dalam pelukannya


" Mas, percaya'kan kalau Uci nggak melakukan kekerasan? Uci di jebak mas oleh mereka."

__ADS_1


" Mas percaya Uci."


Gus Adnan memang sangat percaya kalau istrinya ini tidak melakukan hal itu. Gus Adnan tau kalau istrinya memang sangat nakal, tapi ia percaya kalau istrinya di jebak. Mereka langsung melepaskan pelukanya. Samuel yang jadi penonton kini memilih untuk berpamitan


" Gus, apa saya boleh berbicara dengan anda?"


Samuel berbicara formal, karena bagai mana pun juga usia suami Suci jauh lebih tua dan di hormati oleh banyak orang di lingkungan pesantren. Kini Gus Adnan langsung melihat ke arah Samuel


" Tentu boleh."


" Saya tunggu di cafe dekat kantor polisi. Uci, kamu harus jaga diri kamu baik-baik, aku akan secepatnya mendapatkan buktinya."


" Baik."


" Iya Sam, sekali lagi terima kasih."


Samuel hanya menganggukan kepalanya sambil tersenyum, lalu ia langsung pergi dari ruangan itu. Gus Adnan duduk di samping istrinya dengan tangan yang ia genggam erat.


" Mas, mereka licik, Uci pikir Maya akan bunuh Uci, tapi ternyata Maya tusukan pisau itu ke diri sendiri. Kalau bukan sahabat Uci, mungkin Uci nggak berpikir dua kali, seharusnya Uci tendang pisau itu bukan berjalan mudur. Maaf mas Uci bodoh, dan Uci gegabah."


" Tidak perlu minta maaf Uci, semuanya sudah kejadian, mas akan berusaha untuk mengeluarkan kamu dari sini, dan kamu berdo'a agar masalah ini segera cepat selsai."


" Iya mas."


Gus Adnan mengelus ubun-ubun istrinya, ia benar-benar sedih melihat mata istrinya habis menangis, tapi ia sebagai suami hanya bisa pura-pura tersenyum dan memberikan dukungan pada istrinya, agar istrinya tidak sedih, sudah cukup istrinya sedih karena masalah ini.


" Ingat mas jangan gegabah, untuk kali ini mas ikuti saran Samuel iya, Uci tau mas nggak pernah suka sama sahabat lelaki Uci, tapi Samuel baik mas, hanya Samuel satu-satunya sahabat Uci yang Uci percaya."


" Awalnya mas akan meminta bantuan pada sahabat mas, Dia Adam, kebetulan dia juga sudah terbiasa menangani khasus seperti ini, tapi kalau kamu meminta mas untuk mendengarkan Samuel, maka kali ini mas akan mengikutinya. Kamu jangan sedih dan kuatir, cukup do'akan saja."

__ADS_1


Suci langsung memeluk suaminya lagi, ia merasa sangat berat harus berpisah dengan suaminya, walau pun mungkin tidak lama, tapi jangankan untuk berhari-hari, ia bahkan 1 jam saja nggak bisa kalau saja suaminya bukan Dosen, mana mau ia berpisah dengan suaminya untuk berjam-jam. Gus Adnan juga membalas pelukan dari istrinya, ia juga sangat berat untuk meninggalkan istrinya, tapi waktu jenguk sudah habis. Mereka langsung melepaskan pelukannya dan saling menatap mata


" Kamu jangan takut iya, dan selalu jaga kesahatan kamu, mungkin mas untuk beberapa hari nggak bisa nemuin kamu, karena kita harus mencari semuanya dengan detail."


" Uci nggak takut ko mas, ada Allah yang selalu lindungi Uci."


Suci berbicara sambil tersenyum, sebenarnya air matanya sudah akan menetes, ia tidak bisa berpisah dengan suaminya, tapi ia sadar ini adalah kesalahannya dan kebodohannya, kalau ia menangis itu sama saja ia akan membuat suaminya tidak tenang.


Gus Adnan langsung memberikan tasbih pada istrinya


" Tasbih ini yang menemani kamu untuk sementara, mas pergi dulu."


Suci mengambil tasbih yang di berikan suaminya sambil menganggukan kepalanya. Setelah suaminya pergi dan sudah tidak terlihat lagi, air mata Suci langsung mengalir deras, dadanya sesak.


" Mas, semoga kamu selalu di lindungi oleh maha pencipta di setiap langkahmu. Amin." batin Suci


Gus Adnan yang baru saja keluar dari kantor polisi, ia langsung mendekati Samuel, lalu langsung duduk di kursi bersebrangan. Setelah mereka pesan jus dan jus itu sudah ada di meja, Samuel langsung memulai membuka pembicaraan


" Saya mengajak kesini sebelumnya ingin minta maaf atas kejadian di cafe H&L, jujur saya pikir Suci datang bersama Gus, tapi ternyata Suci datang sendiri. Saya tau serong wanita tidak boleh berduaan dengan yang bukan makhromnya di lungkungan pesantren, untuk itu saya minta maaf. Dan saya juga mengajak kesini untuk minta ijin karena saya ingin ikut campur dalam masalah rumah tangga kalian. Suci adalah mantan pacar sahabat saya, dan saya ingin untuk membantunya menyelsaikan masalah ini. Saya juga minta maaf karena sudah lancang mengirim mata-mata untuk istri anda, Gus. Saya hanya tidak ingin Suci mengambil langkah yang gegabah, karena kita juga tau kalau tindakan Suci selalu saja gegabah."


Samuel langsung menyodorkan ponselnya di meja depan Gus Adnan


" Itu adalah rekaman video tadi siang, sebenarnya kita bisa mengeluarkan Suci sekarang, tapi kita tau sendiri ayah Maya adalah serong anggota dewan."


Gus Adnan langsung mengambil ponsel Samuel, ia langsung memutar rekaman video itu sampai habis, dari saat Suci masuk gedung dengan teriak-teriak hingga sampai kejadian Suci yang di borgol. Gus Adnan langsung menyodorkan kembali ponsel samuel ke meja depan Samuel


" Terima kasih banyak atas bantuanmu, jujur saya sangat beruntung karena istri saya memiliki sahabat sepertimu."


" Gus, saya minta tolong jangan gegabah dalam bertindak, Suci tidak ingin dirimu kenapa-kenapa. Besok kita pergi ke rumah pak Mahendra, hanya dia satu-satunya yang mudah untuk membobol akun pak Samsul, itu pun kalau tidak keberatan, kalau memang Gus memiliki rencana lain dan tidak sesuai dengan ucapan saya, silahkan katakan saja."

__ADS_1


Sebenarnya Gus Adnan sangat malu berurusan dengan pak Mahendra, karena ia dan Suci seperti sedang menghianti putranya yang baru meninggal beberapa bulan, tapi Suci sudah menikah, tapi ini adalah permintaan Suci dan ia juga tidak ahli dalam hal itu, mau tidak mau ia hanya menyutujinya


" Baik."


__ADS_2