Cinta Suci

Cinta Suci
BAB. 28 Rencana dan penyesalan Danil


__ADS_3

Sudah hampir magrib, tapi Danil masih sibuk dengan membaca majalah, membuat Suci benar-benar kesal, ia dari tadi di tahan oleh Danil, dengan alasan kalau Danil akan mengantarkannya nanti setelah mobil kakanya datang, tapi hingga kini Danil masih belum bilang apa-apa, bahkan belum ada tanda-tanda kakanya datang


" Danil, sebenarnya lo niat nggak sih nganterin gue?! Kalau nggak gue pulang sendiri saja."


" Lo mau pulang pakai apa Suci? Di sini jarang ada taksi atau pun ojeg, gue juga ngagak punya ponsel buat mesenin lo taksi, tunggu bentar, mungkin habis magrib kaka gue datang bawa mobil, nanti gue anterin lo ke apartemen pacar lo."


Suci menghela nafas kasar, ia sudah bosan di apartemen Danil, memang di sini tempatnya komplek, kalau ia memaksa untuk keluar dari apartemen itu juga belum tentu ia mendapat taksi, kalau misalnya ia hanya mendapatnya bus, ia harus bayar, uang dari mana, ia juga tidak berani untuk meminjam uang pada Danil, terlebih lagi semalam ongkos ia juga di bayar oleh Danil


" Suci kamu lapar nggak?"


" Sekarang gue sudah lapar."


Memang dari tadi pagi Suci selalu menolak untuk makan, ia memang tidak lapar, ia hanya menyesal teleh mengikuti Danil hingga ia seperti terdampar. Sulit untuk kemana-mana


" Gue bikinin nasi goreng kornet mau? Jujur gue nggak bisa masak, di tambah lagi uang gue nggak ada buat beli makanan."


" Mang di sini ada restoran?"


" Nggak ada kalau di sini, cuma kalau mau jalan kaki sekitar 20 menit ada warung nasi padang."


" Sorry."


" Kenapa lo bilang sorry sama gue?"


" Iya karena semalam gue pakai uang lo buat bayar bus."


" Itu sudah tanggung jawab gue, lagian siapa juga yang mau dapat musibah."


Suci hanya menjawab dengan anggukan kepalanya, ia beruntung karena tadi tidak meminjam uang pada Danil, ternyata Danil memang sudah kehabisan uang, itu membuat Suci berpikir itu kenapa Danil dari tadi hanya menunggu kakanya datang. Danil langsung pergi ke dapur sambil tersenyum, ia tidak bodoh, kalau ia bilang masih punya uang, mungkin Suci hanya memijam uang untuk mencari halte bus terdekat dari sini dan membuat rencananya gagal. Danil melakukan segala cara hanya tidak ingin terus di benci oleh kakanya yang berbeda satu minggu itu, bukan karena mereka kembar, melainkan Danil adalah anak dari istri ke dua dari pernikahan sirih, sedangkan kakanya adalah anak dari istri sah di mata agama maupun negara. Setelah masak nasi goreng, Danil langsung membuat jus jeruk, tidak lupa ia taburkan obat yang semalam ia beli, setelah itu langsung membawa nasi goreng dan jus itu ke meja makan

__ADS_1


" Suci ayo makan."


Suci hanya menjawab dengan anggukan kepala sambil mengikuti Danil ke arah meja makan. Suci duduk berlawanan bersama Danil


" Gimana nasi gorengnya? Jujur gue nggak bisa masak, bisanya temen kaka gue yang masak di sini."


" Lumayan masih bisa di makan, hanya sedikit asin."


Mereka langsung melajutkan makan, tidak ada obrolan di sana hingga selsai makan. Suci langsung meminum jus jeruk, setelah habis ia langsung berdiri untuk mencuci galas dan piring itu


" Suci, gue saja yang beresin."


" Nggak apa-apa gue saja, tadi gue diam saja."


Suci membawa piring itu ke arah dapur, sampai depan pintu dapur tubuhnya merasa lemas dan tidak ada tenaga, hingga piring itu jatuh


Crak....


" Suci!"


Danil langsung lari ke arah Suci, ia langsung menatap kaki Suci


" Lo nggak apa-apa?! Apa kaki lo sakit?!"


" Kaki gue nggak sampai kena pecahan piring, hanya saja tubuh gue lemas."


" Iya sudah gue bantu lo ke sofa dulu."


Danil langsung memapah Suci ke sofa, walau pun ini sengaja, tapi ia benar-benar takut, bukan masalah tubuh Suci yang lemas, tapi ia takut kalau kaki Suci terkena pecahan beling. Mereka duduk di sofa dengan berdampingan

__ADS_1


" Lo masukin makanan gue sesuatu? Atau minuman gue yang lo kasih sesuatu?"


Suci bertanya dengan suara yang sangat lemas


"Gue nggak masukin apa-apa, gue nggak sejahat yang lo pikirin."


" Tapi tubuh gue lemas dan ini belum pernah terjadi sebelumnya."


" Lo tenangin dulu, gue bakalan cari lo dokter."


Suci hanya menjawab dengan anggukan kepalanya. Danil langsung meninggalkan Suci di apartemen, ia juga mengunci pintu itu, bagai mana pun juga pintu apartemen itu menggunakan kode. Danil sampai di jalan yang tidak jauh dari apartemen, ia mendekati kakanya dan ke dua teman kakanya


" Kak, Suci sudah ada di dalam, semuanya sudah beres, tapi ada satu hal yang ingin aku minta pada kaka."


" Apa?!"


" Tolong jangan terlalu kasar pada Suci."


Setelah mengatakan itu Danil memutuskan untuk pergi, baru beberapa langkah ia mendengar ucapan terima kasih dari kakanya


" Terima kasih."


Danil tersenyum tanpa berbalik, ini pertama kalinya kakanya mengucapkan terima kasih padanya, ia langsung mengangguk tanpa membalikan badan, lalu langsung pergi dari sana. Danil pergi dengan perasaan campur aduk, ada perasan senang karena bisa membantu kakanya dan menerima ucapan terima kasih, ada rasa sedih karena ia mencintai Suci dalam pandangan pertama, ada rasa kecewa, karena ia akan merusak harga diri dari wanita yang di cintainya oleh kakanya, begitulah perasan Danil sekarang, semua perasanya menjadi campur aduk


" Gue minta maaf Suci, mungkin kalau gue nanti bisa bertemu lo lagi, gue bakalan bersujud di kali lo untuk minta maaf sama lo, tapi gue juga malu bertemu sama lo lagi, gue jahat mengorbankan lo hanya ingin hubungan gue sama kaka gue mejadi lebih baik."


Danil berkali-kali menghela nafas berat, ia memang tidak sejahat itu pada siapapun kalau tidak menyangkut masalah keluarganya, terutama masalah kakanya, ia lelah di benci bertahun-tahun oleh kakanya, karena kakanya bilang kalau perpisan ibu dari kakanya bersama ayahnya itu karena ibunya yang tidak tau diri. Danil akui memang ibunya tidak tau diri, ibunya mau menikah sirih dengan lelaki yang sudah beristri, bahkan menikah secara diam-diam, setelah usian ia mengijak 9 tahun, ibunya meminta di nikahi secara sah, atau memalsukan datanya agar mendapatkan setengah harta dari ayahnya dan ibunya secara terang-terangan pada istri sahnya kalau ibunya memiliki anak seusia anak istri sah itu. Danil juga kalau bisa memilih, ia memilih tidak ingin di lahirkan ke dunia, ia lelah dengan semua permasalahan dan cacian dari keluarga ayahnya yang hingga sekarang masih belum bisa di terima oleh mereka, walau pun sekarang ibunya menjadi istri sah dengan ayahnya. Memang setelah ayahnya bercerai sekitar tujuh bulan, ayahnya menikahi ibunya secara sah di mata agama maupun negara, tapi ia tetap tidak bahagia, ia selalu mendapatkan cacian dan makian dari keluarga ayahnya.


" Ma, andai mama tidak melakukan kesalahan, Danil tidak akan pernah melakukan kesalahan sebesar ini." batin Danil

__ADS_1


Walau pun Danil menyalahkan ibunya, tapi ia sama sekali tidak pernah membenci ibunya


__ADS_2