Cinta Suci

Cinta Suci
BAB. 33 Pidato menyidir diri sendiri


__ADS_3

Suci sudah kembali lagi ke pasantren 1 minggu yang lalu, ia juga melakukan kegiatan seperti biasanya, tapi sekarang ia jauh berbeda, ia sekarang akan belajar untuk lebih baik lagi. Suci melakukan semuanya karena mengingat Reyhan yang memutuskan telpon sepihak, ia tau kalau Reyhan sangat kecewa, ia tau kalau Reyhan marah, tapi kemarahan Reyhan tidak bisa di ungkapan dengan kata-kata, mulai dari situlah ia akan berusaha untuk mejadi lebih baik lagi dan mencoba tidak membuat Reyhan kuatir. Hari ini Suci di tujuk untuk berpidato seperti santri lainnya, ia tidak bisa duduk diam rasanya bingung dan merasa deg-degan, menurut ia ini lebih parah takutnya dari pada tawuran dan balapan liar, sebelumnya ia tidak pernah berpidato, di sekolah hingga masuk perkuliahan ia belum pernah berpidato sekalipun, apa lagi sekarang ia berpidato tentang pacaran, itu sama saja seperti sedang menyindir diri sendiri


" Kenapa harus pidato seperti ini?! Sangat menyebalkan, apa lagi temanya tentang pacaran!"


Maya dan teman-teman yang lain hanya tertawa melihat kelakuan Suci yang mondar-mandir dan tidak terima kalau di berikan pidato tentang pacaran. Kini giliran Suci yang berpidato, ia menetralkan detak jantungnya dan berjalan santai. Semua pandangan mata tertuju pada Suci, itu membuat Suci sangat malu, entahlah sipat bar-bar dan mulut pedas itu hilang sekita saat akan berpidato. Gus Adnan yang duduk di barisan santri putra, ia sangat terkejut saat Suci mau belajar lebih baik lagi dan mengitu acara pidato ini, ia tidak henti-henti menatap Suci yang terlihat sangat cantik,ia juga menyinggung senyum karena istrinya sudah mau berubah, walau ia tidak tau atas dasar apa istrinya berubah menjadi lebih baik lagi, tapi ia berharap kalau istrinya berubah karena Allah. Suci berdiri tegak di depan


" Haii geas?! Oh maksud saya Assalamualikum warahmatullahi wabarakaatuh."


" Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakaatuh."


Mereka menjawab salam Suci serempak. Suci langsung memulainya dengan muqadimah dengan berbahasa arab, walau pun cukup banyak tersedat, semua cukup lancar hingga ia di pertengahan pidatonya


" Pacaran itu jelas di larang agama. Berduaan antara lelaki dan perempuan yang bukan makhrom itu sangat tidak di perbolehkan, sebagai mana Rasulallah SAW besabda, yang artinya: Tidak boleh antara laki-laki dan wanita berduaan, terkecuali di sertai oleh makhromnya dan seorang wanita tidak boleh bepergian terkecuali dengan makhromnya. H.R. Muslim. Sejatinya budaya berpacaran adalah budaya asing yang masuk ke Indonesia akibat pengaruh globalisasi, sayangnya banyak dari kita yang mengikuti budaya tersebut hanya demi sebuah trend, bahkan bayak orang yang menganggap berpacaran adalah salah satu ciri pendewasaan diri. Nyatanya, berpacaran itu adalah perbuatan dosa yang akan membawa kita ke pada perbuatan zina, dan tentunya pacaran akan merugikan diri sendiri dan orang lain."


Suci terdiam, ia lupa kelanjutan pidatonya, ia menatap ke arah barisan putra, ia menatap Gus Adan yang menatapnya dengan kagum. Suci masih belum bisa mengingat kelajutan pidatonya, ia membuat bacaan pidato itu dengan asal


" Jadi pokonya kalian kalau cinta langsung saja ajak nikah, karena kalau pacaran cuma bisa menghabiskan duitmu."


Suci masih bingung, pada akhirnya ia seperti biasanya akan membuat kerusuhan, tapi kali kerusuhan yang ia buat tidak di pikir dengan otak, entah mulutnya berbicara seprti itu tanpa malu


" Gus Adnan kenapa liatin Uci terus? Cantik iya Uci? Kalau naksir langsung saja nikahin jangan cuma di tatap. Uci juga sudah siap jadi istri Gus Adnan."


Gus Adnan sangat terkejut saat mendengar pertanyaan dari Suci, walau pun sifat datarnya masih menyelimuti wajahnya, dan entah itu candaan atau apa, yang jelas ada rasa bahagia di hati Gus Adan. Suci membekap mulutnya sendiri setelah sadar apa yang ia katan, ia hanya akan berbicara membuat kerusuhan, tapi entah kenapa pertanyaan bodoh itu terlontar dari mulutnya, itu membuat ia merasa malu, tanpa di akhiri dengan salam, ia langsung lari dari sana. Entah kenapa semejak Suci mencoba berubah untuk lebih baik lagi, ia sekarang mejadi memiliki rasa malu, bisanya ia sama sekali tidak peduli dengan mulutnya yang ceplas ceplos. Suci duduk di asrama


" Bagai mana kalau Gus Adnan memberiku hukuman karena mulutku ini sudah membuatnya malu? Atau bagai mana kalau dia berpikir ucapanku itu serius, lalu Gus Adnan langsung melamarku, aku harus gimana? Mulut, kenapa kamu asal bicara tampa tau akibatnya?!"


Suci berbicara sambil memukul mulutnya sendiri. Inilah Suci walau pun sudah mencoba untuk berubah agar lebih baik lagi, tapi mulut ia masih tetap sama, tetap berbicara tanpa berpikir panjang lagi. Sudah sekitar setengah jam Suci berpikir, ke tiga sahabatnya itu datang, mereka langsung duduk di samping Suci

__ADS_1


" Cie yang mau jadi istrinya Gus Adnan."


Maya langsung mengoda Suci sambil tersenyum, sedangkan ke dua teman lainya hanya tersenyum sambil menatap Suci


" Bisa diam nggak sih?!"


Suci berbicara sambil melempar bantal ke arah Maya, itu membuat mereka semakin menggodanya


" Cie yang mau di halalin sama Gus Adnan."


Najwa juga ikut menggoda Suci.


" Jujur aku nggak bermaksud ngomong gitu, tapi mulutku yang tiba-tiba ngomong gitu."


Rianti langsung bertanya pada Suci karena rasa penasran


" Berarti dari hati dong Uci?"


Suci mengingat saat ia masih sakit, Gus adnan mengatakan kekasih halal dan kekasih haram, sungguh ia sampai sekarang masih saja penasaran, apa artinya. Najwa langsung bertanya balik


" Kamu nggak tau maksudku Uci?"


Suci menjawab sambil menganggukan kepalanya


" Di halalin itu artinya adalah ingin di nikahin."


" Hah?!"

__ADS_1


Spontan jawaban Najwa membuat Suci berteriak, ia sangat terkejut, berarti itu dalam artian kalau Gus Adnan memang sudah menikah


" Lalu siapa istrinya?!"


Pertanyaan itu membuat ke tiga sahabat Suci bingung


" Uci, kamu lagi ngomongin apa sih? Aku nggak ngerti omonganmu?"


Rianti bertanya sambil mengerutkan keningnya, bukan hanya ia, Najwa dan Maya juga memang bingung.


" Oh itu, aku kangen banget sama Reyhan."


Suci langsung mengalihkan pembicaraan, ia memang sangat merindukan Reyhan, ia masih takut kalau Reyhan masih marah padanya, terlebih lagi masalah pidatonya yang sangat kacau, jelas-jelas ia berusa untuk membuat Reyhan bangga, tapi pada akhirnya ia tetap tidak bisa


" Kamu kalau kangen bisa pinjem telpon ke bagian komunikasi peaantren Uci."


Setelah mendengar jawaban dari Maya, ia langsung lari untuk meminjam ponsel. Setelah sampai sana, ia langsung menpon Reyhan. Suci langsung berbicara lebih dulu saat telpon itu di angkat


" Rey, ini aku, aku minta maaf tentang ucapan seminggu yang lalu, aku sunggu sangat merindukanmu."


" Sayang! Aku juga sangat merindukanmu, apa kamu baik-baik saja sayang?"


Suci bisa mendengar suara Reyhan yang sangat kuatir padanya


" Aku baik-baik saja Rey."


" Aku akan kesana besok sayang, kita berketemu di kedai saja, aku tidak enak sama santri lain."

__ADS_1


" baik Rey."


Reyhan langsung mematikan sambungan telponnya. Suci langsung tersenyum saat mendengar Reyhan besok akan menemuinya


__ADS_2