Cinta Suci

Cinta Suci
BAB. 27 Mencari Suci


__ADS_3

Maya di buat terkejut karena tidak mendapati Suci berada di kamarnya, ia pikir Suci sudah pergi ke musollah, tapi ia tidak menemukan Suci, hingga ia menjadi panik karena sudah pagi Suci masih saja belum terlihat. Maya dan ke dua temannya segera melapor pada Lia yang selaku mejadi roisah dan sekarang Lia segera melapor ke para ustazah, hingga sampai di sana yang hanya ada ustazah Marwa


" Assalammualaikum, ustazah."


" Wa'alaikumsalam, ada apa Lia?"


Ustazah Marwah bertanya dengan suara lembut seperti biasanya


" Tadi Maya dan teman-temanya bercerita pada saya, kalau Suci sudah tidak ada di kamarnya dari sebelum adzan subuh."


" Apa jangan-jangan Suci kabur?"


" Iya sudah, kita lapor ke kantor saja."


Keadaan di kantor tidak jauh beda dengan di asrama putri, para ustaz termasuk Gus Adnan, Gus Ilham dan Gus Wahyu sedang berbicara serius di kantor


" Assalamualaikum."


Ustazah Mawrah dan Lia langsung ngucapkan salam


" Wa'alaikumsalam."


Semua yang ada di dalam kantor mejawabnya dengan serempak. Gus Adnan langsung bertanya pada ustazah Marwa


" Ada apa ustazah Marwah?"


" Saya mau melapor Gus, di asrama putri ada satu santri yang menghilang."


Gus Adnan langsung menghela nafasnya, tadi baru saja ada yang lapor kalau santri putra hilang dan sekarang santri putri juga hilang


" Apa sudah di pastikan memang tidak ada?"


" Sudah Gus."


" Siapa yang hilang?"


" Suci, Gus."

__ADS_1


Gus Adnan sangat terkejut, begitu pula dengan Gus Ilham dan Gus Wahyu


" Apa santri yang kemarin di hukum karena pacaran?"


" Iya Gus."


Gus Adnan langsung menghela nafas berat, pikiranya sangat kalut, mungkin kalau bukan Suci ia tidak begitu takut terjadi apa-apa, walau pun kuatir, tapi berbeda dengan Suci, bagai mana pun juga Suci adalah istrinya. Gus Wahyu hanya menepuk bahu Gus Adnan, ia tau kalau pikiran Gus Adnan sekarang kacau, termasuk pikiran ia juga. Sementara Gus Ilham, ia langsung mengepalkan dua tangannya sambil berkali-kali istigfar, ia yakin kalau Suci memang sengaja kabur, bagai mana pun juga kehidupan di pesantren jauh berbeda dengan kehidupan di jakarta


" Apa Suci kabur hanya untuk pacarnya? Ini sudah benar-benar keterlaluan, bagai mana bisa Suci mejadi sangat nakal." batin Gus Ilham


Gus Ilham memang tidak tau menau tentang kehidupan Suci, bahkan ia juga tidak tau kalau Suci sering tawuran dan balapan liar, hingga masuk kantor polisi, karena ke dua orang tua Gus Ilham tidak pernah menceritakan apapun tentang Suci, selain Suci malas untuk pergi kuliah.


" Apa Suci ikut kabur bersama Danil?"


Ustaz Darma bertanya seperti itu karena Suci dan Danil hilang secara bersamaan


" Sepertinya memang seperti itu, Suci tidak mungkin berani kabar sendiri karena. Ah sudahlah kita coba cari dulu."


Gus Wahyu hampir saja mengatakan karena saya sangat mengenal Suci dengan baik, senakal-nakalnya Suci tidak akan berani untuk kabur sendiri, tapi kata itu ia urungkan, karena kalau sampai kata-kata itu keluar, mereka pasti curiga siapa Suci sebenarnya. Gus Adnan langsung membagi tugas mereka


" Gus Wahyu dan Ustaz Darma cari di setasiun. Saya dan Gus Ilham akan cari di halte bus."


" Ilham, kita mau cari Suci kemana? Jakarta itu luas?"


" Saya juga tidak tau mas, kita hanya mengikuti di halte mana bus itu berhenti, karena saya yakin kalau Suci tidak akan pulang kerumah."


Gus Ilham menghela nafas berat, ia yakin kalau Suci pergi ke rumah pacarnya, dan ia yakin Suci tidak akan berani pulang kerumah orang tuanya, bagai mana pun Suci sedikit takut dengan ayahnya. Setelah sampai di halte bus yang di tuju, mereka langsung bertanya kembali ke petugas penjaga halte


" Maaf pak, saya mau bertanya, apa bapak melihat orang yang ciri-ciri di foto ini?"


Gus Adnan memperlihatkan dua foto pada petugas halte bus.


" Iya saya memang melihatnya semalam, mungkin sekitar jam setengah tigaan."


" Lalu bapak melihat mereka pergi ke arah mana?"


" Mereka berdua hanya pergi ke arah sana, tapi hanya berjalan kaki saja, jadi saya kurang tau."

__ADS_1


" Baik pak, terima kasih."


" Sama-sama."


" Alhamdulilah." batin Gus Adnan


" Aku nggak nyangka kalau Suci benar-benar menjadi sangat nakal dan nekad." batin Gus Ilham


Mereka langsung mencari informasi lagi. Gus Ilham menjadi tidak enak dengan kelakuan Suci, ia bisa melihat kalau raut wajah Gus Adnan sangat kuatir


" Mas, saya minta maaf atas kelakuan Suci, jujur saya benar-benar terkejut dengan tingkah laku Suci yang begitu nakal."


Gus Adnan yang sedang menyetir, ia melirik ke arah Gus Ilham sambil tersenyum


" Sudah saya katakan Ilham, kamu jangan bilang minta maaf dan terima kasih pada saya tentang Suci. Suci adalah istri saya, tentu itu sudah menjadi tanggung jawab saya."


" Jujur saya benar-benar malu dengan kelakuan Suci pada Mas, saya juga tidak pernah menyangka kalau Suci menjadi sangat nakal."


" Nggak apa-apa Ilham."


Memang setiap kejadian yang terjadi dengan Suci, Gus Adnan tidak pernah menyalahkan siapapun, ia hanya berharap kalau Suci baik-baik saja. Di perjalanan menjadi hening, hanya wajah mereka berdua yang masih saja menghuatirkan Suci, walau pun sudah tau kabur, tapi mereka belum melihat keadaan Suci bagai mana. Pencarian itu terus di lanjutkan hingga suara azan asar terdengar.


" Ilahm, kita cari masjid untuk sholat asar dulu, setelah itu kita lanjutkan untuk mencari Suci lagi."


" Baik mas."


Gus Adnan langsung mencari masjid terdekat untuk menunaikan ibadah sholat asar. Setelah itu bertemu masjid mereka langsung melaksanakan sholat asar. Setelah selsai sholat asar Gus Adnan langsung menadahkan ke dua tanganya, ia berdo'a untuk keselamatan Suci


" Ya Allah ya rabb, berilah perlindunganmu untuk istri hamba di mana pun istri hamba berada, jauhkanlah istri hamba dari marahbahaya, dan berilah titik terang pada hamba, agar hamba bisa menemukan istri hamba, hanya kepada engkau hamba meminta petujuk dan pertolongan. Amin."


Setelah selsai sholat asar, mereka berdua masuk lagi ke dalam mobil


" Mas, apa kita kabari ayah saja? Siapa tau ayah tau tentang Suci."


" Jangan Ilahm, jujur saya tidak enak dengan ke dua orang tuamu, saya malu karena belum bisa menjadi imam yang baik untuk Suci."


" Tapi mas, ini sama sekali bukan salah mas, ini salah Suci yang sudah benar-benar keterlaluan. Kalau mas memang tidak mau untuk mengabari ayah tidak apa-apa, kita lanjut pencarian, kita lihat cctv jalan, siapa tau ada titik terang."

__ADS_1


Gus Adnan hanya menganggukan kepalanya, ia berharap bisa menemukan titik terang dari cctv jalan.


__ADS_2