
Pagi harinya Gus Adnan tidak langsung pergi ke kampus seperti biasanya, karena menurut istrinya teror itu datang di jam yang sama. Sudah pukul 10.00WIB, tapi Suci belum menerima paket apa pun.
" Mas pergi saja, ini sudah siang, sepertinya hari ini aman deh."
Gus Adnan melihat jam di pergelangan tangannya, ia memang sudah terlambat, tapi ia tidak tenang jika harus meninggalkan istrinya sendirian
" Mas antar kamu ke rumah abi saja iya? Atau kamu mau ikut mas pergi ke kampus? Jujur mas tidak tenang, mas takut kamu kenapa-napa."
" Uci di rumah saja mas. Lagian juga peneror itu tidak mungkin datang ke rumah untuk membahayakan nyawanya sendiri."
" Iya sudah kalau ada apa-apa kamu telpon mas, ingat jangan bertindak gegabah."
Suci hanya menganggukan kepalanya. Gus Adnan langsung mencium kening istrinya, ia langsung memeluk istrinya sangat lama, perasaannya tidak enak, tapi ia tepis jauh-jauh perasaan itu dan berfikir positf.
" YA Allah, lindungi istri hamba." batin Gus Adnan
Gus Adnan melepaskan pelukannya.
" Mas berangkat sekarang iya."
" Iya mas, hati-hati."
" Iya sayang."
Setelah kepergian suaminya, Suci hanya duduk saja, sebenarnya ia sedikit cemas, bukan karena takut peneror itu membunuhnya, tapi ia takut kalau terperangkap dalam permainan si peneror itu. Setelah satu jam kepergian Gus Adnan, tiba-tiba bel rumah berbunyi.
Ting-tong.
Suci mengambil ponselnya untuk siap siaga, ia langsung membuka pintu rumahnya. Setelah membuka pintu Suci sangat terkejut saat melihat Ustazah Marwah di depannya.
" Ustazah Marwah?"
" Assalamualikum, Suci saya ke sini untuk."
Belum sempat Ustazah Marwah menyelsaikan ucapannya, Suci sudah memotong ucapannya.
" Mau apa lo kesini?!"
__ADS_1
Suci sangat marah pada Ustazah Marwah, karena ia yakin kalau Ustazah Marwah salah satu dari teror tersebut. Ustazah Marwah sangat terkejut saat mendengar bentakan dari Suci
" Suci, saya ke sini untuk minta maaf."
" Apa lo bilang minta maaf?! Masuk!"
Suci tidak mau membuat keributan dan di lihat oleh tetengga rumahnya, jadi ia menyuruh Ustazah Marah untuk masuk. Ustazah Marwah masuk ke dalam rumah itu mengikuti Suci
" Suci saya sadar kalau saya saat itu sangat salah, jadi tolong maafkan saya."
Suci menatap Ustazah Marwah dengan tatapan tajam
" Gampang banget lo bilang maaf! Lo pikir gue bakalan maafin lo setelah apa yang lo lakuin ke gue?! Lo minta suami gue buat nikahin lo, dan lo teror gue karena suami gue nolak lo! Lo masih waras kan?! Lo masih ingat kan status lo sebagai Ustazah?!
Ustazah Marwah sangat bingung saat mendengar ucapan dari Suci
" Teror? Teror apa Suci?"
" Halah! Nggak usah berlaga so polos deh! Lo yang teror gue kan?! Lo yang kirimin paketan-paketan sialan itu! Maksud lo apa kirimin gue paketan-paketan itu hah?! Dan lo bukan hanya ingin rumah tangga gue hancur, tapi lo juga pengen ngerusak persahabatan gue dengan Sisil dan siapa saja yang terlibat dalam teror ini?! Maksud lo apa libatin semuanya tentang masalah pribadi gue hah?!"
" Maksud kamu apa Suci? Demi Allah saya tidak pernah melakukan itu semua, bahkan saya tau alamat rumah kamu dan Gus Adnan saja baru sekarang, untuk itu saya datang ke sini untuk minta maaf, dan masalah tentang Sisil saya tidak tau menau tentang sahabatmu, bahkan wujudnya saja saya tidak tau, saya juga tidak tau siapa saja sahabatmu, karena saya tidak pernah terlibat dalam teror itu."
Kini Suci diam sambil berpikir, kalau bukan Ustazah Marwah siapa lagi? Selama ini Suci tidak pernah memiliki masalah dengan siapa pun selain Ustazah Marwah. Suci memutar otaknya untuk berpikir, hingga ingatannya mengingat masa lalu bersama Bayu. Permasalahan terahkir adalah bersama Bayu. Suci berpikir bisa saja Danil yang melakukan ini semua untuk balas dendam, karena Rey telah memasukan Raka ke dalam penjara
" Kalau Ustazah Marwah tidak melakukannya, apa Danil yang melakukan ini?" batin Suci
" Suci."
Ustazah Marwah mencoba menyadarkan Suci yang sedang melamun, ia tidak tau apa yang Suci lamunkan, tapi ia bisa melihat dengan jelas kalau Suci sedang berpikir sesuatu dengan keras. Suci yang di panggil namanya, ia langsung menatap ke arah Ustazah Marwah
" Serius pelakunya bukan lo? Gue bisa maafin lo kalau lo jujur sama gue, dan hentikan semua teror gila lo itu!"
" Sudah saya bilang Suci, kalau ini tidak ada kaitannya dengan saya, saya tidak tau apa-apa tentang teror yang kamu maksud, saya masih cukup waras, saya tidak akan melukai sesaorang dengan kejam seperti itu, karena sebuah teror dampaknya tidak main-main, bisa saja orang yang di teror itu gila."
Dret... Dret...
Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Suci, entah mengapa Suci merasa cemas, ia langsung membuka pesan itu dan membacanya. Lo pasti mau tau siapa gue? Gue tunggu lo di jalan simpang empat dekat rumah lo. Jangan coba-coba untuk hubungi suami lo, kalau lo mau suami lo selamat. Orang suruhan gue lagi ngawasin suami lo, kalau lo salah ambil langkah, gue nggak akan segan-segan untuk lukai suami lo, iya walau pun gue cinta sama suami lo. Setelah membaca pesan itu Suci langsung mengepalkan tanganya erat, nafasnya memburu, benar apa yang suaminya katakan di sini Ustazah Marwah hanya di jadikan kambing hitam.
__ADS_1
Dret... Dret...
Sebuah pesan masuk kembali, terlihat jelas foto suaminya yang sedang menikmati makan siang di kantin fakulitas tempatnya mengajar.
" Psikopat Gila!"
Ustazah Marwah sangat terkejut mendengar ucapan Suci yang sangat marah setelah melihat pesan yang ia juga tidak tau isinya apa, dan itu membuat ia sedikit kuatir
" Suci, kamu tidak apa-apa'kan?"
Suci menarik nafasnya dengan kasar, ia menatap Ustazah Marwah dengan rasa bersalah
" Saya tidak apa-apa Ustazah."
Suci sudah mengganti bahasa kasarnya dengan bahasa yang lebih sopan, karena bagai mana pun juga Ustazah Marwah bukan lah dalang dari teror tersebut. Ustazah Marwah tersenyum saat mendengar jawaban dari Suci
"Jadi apa kamu mau memaafkan saya?"
" Saya sudah memaafkan semua kesalahan yang Ustazah buat, saya juga minta maaf karena sudah menuduh Ustazah dalang dari teror ini."
" Tidak apa-apa, saya paham kalau kamu salah paham, bagai mana pun juga kita pernah memiliki masalah, dan terima kasih sudah memaafkan saya."
Mereka langsung bersalaman, Suci mencium tangan Ustazah Marwah, lalu langsung memeluk Ustazah Marwah
" Sekali lagi saya minta maaf Ustazah, saya sudah mebentak Ustazah."
" Tidak apa-apa."
Mereka langsung melepaskan pelukannya
" Kalau begitu saya permisi dulu Suci."
" Iya Ustazah, hati-hati."
" Iya Suci."
Setelah kepergian Ustazah Marwah, Suci jadi binging sendiri, haruskan ia pergi menemui orang yang menerornya? Bukan karena ia takut di bunuh, tapi ia takut di jebak
__ADS_1