
Suci sedang berjalan-jalan santai di pesantren, ia mulai merasa jenuh dan muak dengan berbagai macam tentang dirinya, di sini tidak ada teman yang bisa ia ajak senang-senang. Maya, Najwa dan Rianti itu adalah santri baik-baik, Suci cukup tau diri dengan tidak menjerumuskan mereka ke dalam kesenangannya. Suci mengelewati segrombol santriawati yang sedang membicarakannya
" Nggak ada malu-malunya di hukum juga."
" Bikin jelek nama pesantren saja!"
" Anak seperti dia nggak pantas masuk ke dalam pesantren!"
" Sampai di panggil Gus Adnan lagi."
Suci sangat marah, ia ingin sekali memukul mulut mereka semua yang berbicara sembarangan dan mungkin juga mereka tidak akan berbicara seperti itu kalau tau Suci adalah cucu kesayangan dari kiai Habibi.
" Kalau mau ngomongin gue sini di depan gue langsung! Jangan beraninya cuma di belakang!"
Mereka yang mendengar ucapan dari Suci hanya diam, jelas-jelas Suci baru saja membentak, ia belum menyentuh atau memukul mereka, tapi mereka sudah takut. Suci tersenyum sinis, menurut Suci mereka bahkan lebih munafik dari dirinya
" Dari pada kalian sibuk ngurusin hidup gue, mending kalian urusin saja hidup kalian sendiri! Omongan dan kelakukan kalian juga tidak mencerminkan status kalian sebagai santri! Jadi kalian jangan so munafik!"
Suci langsung melanjutkan langkahnya meninggalkan mereka yang hanya diam dan tidak bersuara sama sekali setelah Suci membentak mereka. Suci yang terus berjalan ia melihat para santri yang sedang menghafal atau pun kegiatan tentang agama lainya. Ada sedikit keinginan seperti mereka di hati Suci, tapi ia berpikir lagi, mau sebaik apapun ia akan tetap di pandang buruk oleh orang-orang
" Jadilah diri sendiri tanpa melihat orang lain, tapi menjadi lebih baik adalah sebuah kewajiban."
Suci membalikan badannya saat mendengar suara yang ia hapal
" Gus."
Suci menghela nafas, sepertinya ucapan Gus Adnan benar, kalau Gus Adnan itu sedang mengawasinya, karena menurut ia tidak mungkin sebuah kebetulan, mengingat Gus Adnan mengatakan akan mengawasinya. Gus Adnan memang sudah memperhatikan Suci dari tadi, saat ia keluar dari rumah kiai Habibi
" Seburuk apapun penilaian mereka, tapi bagi suamimu kamu tetap bidadari surganya."
" Memangnya surga mau menerima wanita seperti Uci, Gus?"
Suci bertanya dengan serius, ia memang ingin berubah untuk lebih baik, seperti yang Gus Adnan katakan, kalau ia tidak ingin mempermalukan orang tuanya dan kakeknya, hanya ada satu cara yaitu berubah menjadi lebih baik
" Saya akan membimbing kamu hingga merasa pantas."
Gus Adnan mejawab dengan asal, ia juga tidak tau akan benar masuk surga atau tidak, karena sesaorang masuk surga atau tidak hanya Allah yang tau, manusia tidak akan pernah tau, tapi ia sebagai manusia hanya mencoba untuk lebih baik lagi
" Membimbing?"
" Iya saya akan berusaha membimbing kamu hingga suatu saat nanti kamu akan menemukan kebenaran."
__ADS_1
Suci sedikit bingung dengan alur pembicaraan Gus Adan yang tidak nyambung, bukan'kah tadi Gus Adnan sedang membahas surga, tapi sekarang Gus Adnan bilang hingga ia akan menemukan kebenaran, membuat ia tidak bisa berpikir dengan jernih
" Maksud Gus kebenaran tentang apa?"
" Suatu saat kamu akan tau sendiri."
Gus Adnan langsung mengelus bahu Suci sambil tersenyum, setelah itu ia langsung pergi. Suci melihat senyuman Gus Adnan untuk yang pertama kalinya
" Waht, senyumanya itu bikin hatiku meleleh, ini pertama kalinya Gus Adnan tersenyum padaku, apa Gus Adnan suka padaku? Mana mungkin dia suka padaku, wanita bar-bar sepertiku banyak orang yang tidak suka, hanya Reyhan yang bisa menerima aku apa adanya karena Reyhan tau masa laluku seperti apa, kesalahan apa pun yang aku buat, hanya Reyhan yang bisa memaafkanku tanpa hukuman." batin Suci
Walau pun Suci merasa senyuman Gus Adnan bisa membuat hatinya mencair, tapi kalau di bandingkan dengan Reyhan, Gus Adnan tidak ada apa-apanya. Suci langsung melanjutkan kembali langkah kakinya
" Hai!"
Suci mendengar suara sesaorang lelaki, tapi ia tidak tau siapa
" Hai! Hai!"
Suci menengok ke kanan dan ke kiri, tapi ia tidak menemukan sesaorang di sana hingga matanya senyusuri atas pohon yang ada di sampingnya, ia melihat sesaorang lelaki yang bersembunyi di atas pohon
" Lo nyapa gue?!"
Suci tanpa berpikir panjang ia langsung naik ke atas pohon hingga ia sekarang duduk di samping lelaki itu
" Lo ngapain di pohon?!"
Danil langsung mengulurkan tanganya
" Kenalin gue Danil."
" Nggak usah so kenal deh sama gue!"
Danil yang tanganya tidak di sambut, ia langsung menggaruk kepalanya sekilas
" Ada juga bahasa yang seperti gue di pesantren ini." batin Danil
" Gue cuma pengen kenal saja sama lo, soalnya gue juga nggak betah seperiti lo."
" Gue bukan nggak betah di sini, tapi gue nggak suka banyak peraturan."
" Sama saja, lo mau ikut kabur nggak sama gue? Kalau lo mau ikut gue bantuin."
__ADS_1
Suci menghela nafasnya, ia memang sudah bosan, walau pun ia ada keinginan untuk mejadi lebih baik lagi, tapi ia juga sangat merindukan Reyhan dan teman gengnya, apa lagi saat Reyhan bilang kalau teman-temannya sangat merindukan ia
" Kenalin gue Suci."
Pada akhirnya Suci langsung mengulurkan tangan pada Danil. Danil juga menyambut uluran tangan dari Suci sambil mengangguk
" Oh, jadi Gadis ini yang membuat kaka gue jatuh cinta dan terus melakukan balapan liar karena hobi Gadis ini." batin Danil
Danil menatap wajah Suci dengan seksama, ia bisa melihat kalau Suci memang sangat cantik
" Wah kalau gue bisa bawa Suci dan susun rencana buat kaka, gue yakin kalau kaka bisa memiliki Suci seutuhnya." batin Danil
Setelah saling bersalaman dan berpikir dengan unek-uneknya, Danil langsung berbicara lagi
" Iya lo mau ikut gue nggak kabur?"
" Gue nggak tau."
" Kalau lo ingin ikut gue, kita bertemu di sini nanti malam."
" Gue pikir-pikir dulu."
Danil hanya mejawab dengan anggukan kepala sambil tersenyum
" Gue harus menyiapkan semuanya dengan teliti dan matang, agar rencana gue nggak gagal, agar kaka bisa memiliki Suci seutuhnya dan bisa menang dari Reyhan." batin Danil
Danil memang sudah tau segalanya, termasuk ia juga tau kalau Suci bisa seni bela diri, tapi ia tidak takut dan ia tidak bodoh, ia bisa membeli obat pelemas untuk beberapa jam untuk Suci, agar Suci tidak bisa melawan, itu adalah cara ampuh menurutnya
" Lo aneh! baru kenal sudah ngajak gue kabur."
" Gue cuma kasian saja sama lo yang sering kena hukuman."
Saat Suci mendengar jawaban dari Danil, seketika ia langsung tertawa sambil berbicara
" Hahaha! Ternyata lo walau pun lelaki masih suka dengar gosip iya?!"
" Gue nggak suka dengar gosip, tapi gue nggak sengaja dengar dari santri lain."
Danil memang penasaran dengan nama Suci yang sering di hukum, karena kakanya sudah menceritakan kalau Suci masuk ke dalam pesantren yang sama denganya, tentu itu membuat ia mencari cara untuk bertemu Suci, tapi ternyata Suci datang sendiri padanya
" Oke deh gue percaya, lagian santri di sini mulutnya memang ember!"
__ADS_1