
Samuel melihat lokasi yang di kirimkan oleh Sisil, matanya membulat tidak percaya, ia kenal betul rumah itu, itu adalah rumah yang baru saja di beli oleh Siska satu bulan yang lalu.
" Di mana lokasi Suci, Sam?"
Gus Adnan bertanya sambil berdiri, rasa sakitnya yang dari tadi ia rasakan langsungbmenghilang saat mengingat istrinya.
" Ini di rumah baru Siska, Gus lebih baik ke rumah sakit sama Wiliam, saya yang akan ke sana untuk menolong Suci."
" Saya tidak bisa ke rumah sakit, saya harus menemukan istri saya terlebih dahulu."
Samuel menghela nafas berat, ia kuatir pada Gus Adnan yang mengalami luka, ia juga kuatir dengan keadaan Suci
" Baik Gus. Ken, lo lebih baik ikut polisi dan tangkap Indra, ini adalah apartemen baru Indra."
Samuel langsung menyerahkan kertas kecil yang isinya alamat Indra.
" Baiklah, kalian hati-hati, kabarin gue kalau ada apa-apa."
" Oke Ken."
Kenzi langsung pergi ke arah polisi lagi, dan sekarang tinggal ada mereka bertiga.
" Ayo cepat ikut ke mobilku."
Mereka langsung pergi ke arah mobil Wiliam yang terparkir di depan rumah tetangga lingkungan situ. Wiliam langsung melajukan mobilnya sambil melihat lokasi yang ada di ponsel Samuel.
...****************...
Siska menatap marah pada Suci, saat Suci menatapnya dengan senyum menyeringai.
" Dasar wanita murahan! Cepat lo memohon sama gue! Dan tinggalkan Gus Adnan! Atau gue akan membuat lo semakin menderita?!"
Suci hanya menghela nafas berat, tidak ada tangisan di air matanya, walau pun seluruh badannya merasakan sakit dan perih, tapi bagi ia ini bukanlah kelemahan ia, kalau Siska menyiksa suaminya, mungkin ia akan menangis dan berlutut, tapi yang Siska siksa itu ia, jadi untuk apa ia meratapi nasib, toh tidak akan menyelesaikan masalah juga.
__ADS_1
" Lo punya mulut'kan?!"
" Sis, aku tidak tau kenapa kamu bisa membenciku?"
" Iya gue sangat membencimu! Gue juga yang merusak persahabatan lo bersama Sisil! Karena gue ingin lo di benci banyak orang hingga lo mati mengenaskan!"
" Astagfirullah, istighfar Siska, aku sudah bilang jangan lakukan kejahatan, kenapa kamu menjadi seperti ini?"
" Enggak usah so suci deh lo! Kalau hanyalah wanita murahan!"
Suci menghela nafas berat, saat lagi-lagi Siska mengatakan kalau ia wanita murahan.
" Gue benci sama lo Suci...!"
" Kalau kamu mengatakan benci dan menyakitiku bisa membuatmu lebih baik silahkan lakukan Sis, tapi jangan pernah membawa nama Rey, bahkan namanya saja kamu tidak pantas untuk memanggilnya, kamu hanya terobsesi pada Reyhan, kalau kamu cinta pada Reyhan, kamu harus belajar apa artinya mengiklaskan, tapi kamu tidak belajar untuk mengiklaskannya. Sis, walau pun kamu membunuhku, Rey tidak akan pernah kembali lagi. Kamu tidak akan bisa melihatnya lagi dalam hidupmu, hanya saja aku percaya kalau Rey bisa melihatmu dari sana dan mengatakan kalau Rey kecewa dengan tingkah kanak-kanakanmu."
Plak...
" Lo yang enggak pantas menyebut namanya wanita murahan! Lo enggak pantas di perlakukan seperti ratu, lo hanya pantas di perlakukan kekerasan! Karena lo hanya wanita sampah!"
Suci diam membisu, pikirannya kembali mengingat ucapan Reyhan, yang mengatakan jangan terlalu percaya dengan orang yang baru di kenal, bahkan orang yang sudah kenal dekat saja bisa menusuk kita dari belakang, ternyata ucapan Reyhan benar adanya, Siska adalah sahabat yang paling dekat dari pada Sisil dan Sella, tapi Siska juga yang menghancurkannya, tidak jauh berbeda seperti Indra dan Maya, mereka adalah sama-sama sahabat terdekat, tapi mereka yang menusuknya dari belakang. Suci juga mengingat kembali soal tuduhannya yang menuduh Kenzi adalah dalang dari semua teror ini, tapi ternyata orang yang menerornya adalah sahabat-sahabat terdekatnya. Siska juga menempelkan pisau lipat itu di pipi Suci sambil tersenyum menyeringai
" Sepertinya wajah lo ini kalau gue rusak gimana iya reaksi Gus Adnan? Apa Gus Adnan masih menerimamu atau Gus Adnan takut dengan wajahmu? Tapi dari pada gue rusak wajah lo, sepertinya tubuh lo juga cukup bagus buat santapan ke dua pengawal gue, bukan'kah lo suka jamahan dari seorang lelaki? Gue akan memberikan dua pengawal gue untuk memuaskan lo, bagai mana? Lo mau?"
" Jangan lakukan itu Sis, kamu boleh membunuhku, tapi jangan pernah kamu menyuruh orang untuk menodaiku."
Setelah mendengar jawaban Suci, Siska tertawa terbahak-bahak, tapi tiba-tiba pintu di dobrak dari luar, hingga membuat Siska terkejut
Bruk...
Pintu itu terbuka lebar menampilkan sosok Gus Adnan, Wilam, Samuel, Sisildan Sella. Siska terkejut karena persembunyiannya di ketahui, tapi lebih terkejut saat melihat Samuel bergandengan tangan bersama Sisil, seketika pisau yang ia pegang terjatuh begitu saja. Ke dua pengawal Siska langsung berkelahi dengan Wiliam dan Samuel, sedangkan Gus Adnan, buru-buru melepaskan ikatan istrinya. Siska yang sudah kembali dari terkejutannya, ia langsung mengambil pisau lipat itu, saat ia akan mengarahkan ke punggung Gus Adnan, Sisil langsung menendang Siska dari belakang hingga tersungkur dengan mata yang berkaca-kaca, ia yakin kalau Suci sudah di aniyaya habis-habisan oleh Siska.
dug...
__ADS_1
Sella langsung mengambil pisau yang terjatuh, sedangkan Sisil langsung menendang tubuh Siska yang sedang menahan tubuhnya sendiri.
Dug..
" Lo pantasnya mati Siska!"
Plak.. Plak...
Dua tamparan ke pipi yang sama hingga mengeluarkan darah segar di sudut bibir Siska. Siska yang akan bangun dan akan membalas perbuatan Sisil, Sisil langsung menendang lututnya hingga Siska terjatuh kembali
Dug...
Samuel dan Wilaim berhasil melumpuhkan mereka berdua. Setelah berhasil melepaskan ikatan istrinya, Gus Adnan langsung memeluk istrinya dengan sangat erat.
" Maafkan mas, mas terlambat untuk datang, pasti seluruh tubuhmu sakit, maafkan mas."
Gus Adnan memang merasa sangat kuatir dan merasa bersalah. Sisil langsung melayangkan tinjunya pada Siska.
Bugk..
Samuel yang melihat kemarahan Sisil, ia langsung memegang pergelangan tangan Sisil, lalu menarik Sisil dalam pelukannya.
" Jangan lakukan lagi Sil, Siska bisa mati kalau terus kamu pukuli, tahan emosimu."
" Lepaskan aku Sam! Wanita itu tidak pantas untuk hidup! Wanita itu harus mati!"
" Tolong jangan seperti ini, kita serahin semuanya pada polisi, aku tidak ingin kamu masuk penjara karena khasus pembunuhan, aku sayang kamu."
Tangisan Sisil pecah, dadanya merasakan sakit, ia sangat marah karena perlakuan sahabatnya sendiri, ia benci karena Siska menganiyaya sahabatnya sendiri, ia juga mulai membalas pelukan dari Samuel. Sedangkan Sella, ia langsung menjambak rambut Siska yang tubuhnya sudah lemah.
" Kenapa lo sejahat ini hah?! Kenapa lo egois?! Kenapa karena cinta lo buta?! Walau pun lo sampai membunuh Suci, lo enggak akan bisa mengembalikan Rey yang sudah meninggal bodoh!"
Sella yakin kalau khasus penganiyayaan yang di lakukan Siska ada kaitannya dengan Reyhan. Siska tidak menjawab pertanyaan dari Sella, hanya saja ia merasakan sakit di sekujur tubuhnya, dan hatinya, ia sakit saat sahabat dari kecil memukulnya hingga tubuhnya lemas. Sisil memang sahabat kecil Siska, mereka bersahabat dari sekolah dasar, tapi kali ini Sisil bahkan membela Suci, wanita yang ia benci.
__ADS_1