
Ucapan pak Husen bukan hanya tidak di sukai Gus Adnan, tapi tidak di sukai juga oleh ke dua orang tua Gus Adnan, bahkan mereka sangat menyukai sifat Suci yang selalu apa adanya tanpa di tutup-tupi
" Pak Husen, tolong jangan berbicara buruk tentang menantu saya, karena itu sangat menyakiti hati saya."
Abi Gus Adnan angkat bicara, setelah dari tadi ia diam, bagi ia tamunya itu sudah sangat keterlaluan
" Putri saya jauh le."
Belum sempat pak Husen menyelsaikan ucapannya, Gus Adnan langsung memotong ucapanya
"Cukup! Siapa yang mengijinkan anda untuk menghina istri saya? Silahkan pergi dan jangan pernah kembali. Saya menolak lamaran anda! Jika pun anda meminta baik-baik, saya tidak akan pernah menduakan istri saya. Saya tau poligmi memang sangat di perbolehkan, tapi saya ingin bersama Suci sampai di akhirat nanti."
Gus Adnan langsung memeluk Suci sambil mengelus lembut kepalanya yang tertutup hijab, ia tau kalau istrinya itu sangat marah, tapi ia juga jauh lebih marah saat istrinya di hina oleh orang lain, selama mejalin rumah tangga ia belum pernah sedikit pun melukai hati istrinya, tapi mereka yang orang lain begitu berani menghina istrinya. Setelah itu Gus Adnan melepaskan pelukannya
" Dan untuk kamu Ustazah Marwah. Saya tidak menyalahkan anda datang ke sini, karena tidak ada yang bisa menyalahkan kepada siapa kita mejatuhkan hati, tapi tidak semua keinginan kita terpenuhi. Bahkan saya beranggapan kalau kamu adalah wanita cerdas dan terhomat, tapi ucapan kamu yang membanggakan diri sendiri, jelas tidak bisa saya percaya, di mana kehormatan kamu sebagai wanita muslimah? Kamu merendahkan istri saya dan menganggap diri sendiri lebih dari segi mana pun. Apakah wanita terhormat memiliki sifat seperti itu?"
Gus Adnan mencengram kuat baju kokonya sendiri untuk meredamkan amarahnya, ia berusaha untuk tidak berbicara dengan nada membentak, walau pun hatinya sangat sakit, mungkin semua orang juga akan merasakan apa yang ia rasakan saat istri tercintanya di hina oleh orang lain.
" Saya menghargai perasaanmu Ustazah Marwah, tapi maaf saya tidak bisa membalasnya, terlebih setelah mengetahui sifatmu. Saya tidak bisa menghianati istri saya dan tidak akan pernah. Ustazah Marwa dan orang tuamu boleh menganggap istri saya hina, tapi bagi saya Suci adalah wanita terbaik yang pernah saya kenal. Suci adalah istri saya, dan saya tidak ridho jika ada orang yang menghina istri saya, karena itu sama saja menghina saya."
Gus Adnan selsai mengeluarkan unek-uneknya, tidak ada nada bentakan di setiap kata Gus Adnan, tapi setiap kata yang Gus Adnan ucapkan mampu menusuk hati pendengar. Suci sendiri sudah menangis, bukan karena ia lemah, justru karena ia tidak bisa menahan emosi, ia tidak percaya jika orang yang selalu mejadi panutan semua santri di pesantren kakenya, ternyata memiliki sifat yang bertolak belakang. Apakah kebaikan Ustazah Marwah selama ini hanyalah topeng? Atau justru memang Ustazah Marwah itu baik, tapi cintalah yang membuatnya gelap mata? Apakah sebesar itu pesona Gus Adnan, hingga Ustazah Marwah mau merendahkan kehormatanya sendiri? Itu membuat pikiran Suci bingung dengan semua pertanyaan yang ada di otaknya. Suci yang melihat Ustazah Marwah menangis terisak, entah karena menyadari kesalahanya, dan membuat ia merasa malu? Atau justru sedang mengambil simpati keluarga Gus Adnan.
" Gus Saya tidak bermaksud."
Belum sempat Ustazah Marwah menyelesaikan ucapannya Suci sudah melayangkan tamparan pada Ustazah Marwah
Plak...
__ADS_1
Ke dua orang tua Gus Adnan sangat terkejut melihat perlakuan Suci, begitu pun dengan Gus Adnan. Gus Adnan merasa kecolongan karena tidak bisa mengamankan istrinya, ia sudah sangat hapal dengan sifat istrinya saat di kuasai amarah. Suci mencengkram kuat wajah Ustazah Marwah, membuat Ustazah Marwah meringis kesakitan. Suci tidak akan main-main jika ada orang yang mencari masalah dengannya.
" Lo memang sangat munafik! Jangan harap lo bisa mengijakan kaki lagi di pesantren kake gua! Dan gue akan buat nama lo tercoreng jelek di pesantren kake gue!"
Hilang sudah batas kesabaran Suci, ia sudah tidak bisa menahan emosinya yang dari tadi ia tahan. Setelah mengatakan itu Suci langsung pergi keluar dari rumah mertuanya. Gus Adnan segera berpamitan, lalu langsung menyusul istrinya. Suci tau, memang tidak ada yang bisa menyalahkan persoalan hati, hati tidak bisa di cegah ke pada siapa akan berlabuh, tapi bukan berarti ke pada laki-laki yang sudah memiliki seorang istri. Suci terus saja berjalan dengan memijat plipisnya sendiri, ia merasa pusing dan tidak percaya kalau Ustazah Marwah melakukan itu.
" Kenapa orang-orang di dunia ini semakin nggak waras?" batin Suci
Suci tau kalau Gus Adnan pernah bilang seorang wanita boleh melamar lebih dulu, tapi apakah wajar seorang wanita itu melamar suami orang? Suci sudah sampai di rumah satu jam yang lalu, tapi ia bahkan mendiamkan suaminya.
" Uci."
Gus Adnan sudah lima kali memanggil namanya, tapi Suci masih diam membisu, jelas-jelas Gus Adnan tidak merasa salah dengan ucapanya saat di rumah orang tuanya.
" Dosa hukumnya seorang istri mendiamkan suami, sampai kapan kamu akan seperti ini? Malaikat atid sudah kelelahan mencatat amal burukmu karena telah mendiamkan suamimu tanpa sebab."
" Mas ko kejam banget?"
" Itu kenyataan Uci."
Suci menghembuskan nafasnya kasar
" Mas lebih baik keluar dari kamar, Uci nggak mau di ganggu."
" Baiklah kalau itu maumu."
Suci mengurutkan keningnya tidak percaya dengan jawaban dari suaminya. Gus Adnan langsung melangkahkan kakinya
__ADS_1
" Mas ko pergi sih?!"
Gus Adnan menghentikan langkah kakinya, ia melihat ke arah Suci dengan perasaan heran
" Bukannya kamu yang menyuruh saya untuk keluar?"
Suci semakin di buat kesal oleh suaminya.
" Mas itu enggak peka banget sih! Kalau cewek bilang gitu iya di bujuk mas! Bukan di tinggal pergi!"
" Buat apa saya bujuk kamu? Bikin repot saja."
Suci mengelus dadanya, ia memang harus ekstra sabar untuk menghdapi sifat suaminya yang tidak pernah ada manis-manisnya
"Gatel banget nie tangan, rasanya sudah pengen mukul Gus Adnan, tapi aku cinta mati sama Gus Adnan." batin Suci
Suci menghela nafas berkali-kali, ia sudah di bikin kesal karena ucapan Ustazah Marwah dan ayahnya itu, tapi kini harus di buat kesal lagi oleh suaminya.
" Iya-iya Uci salah, Uci minta maaf, habis Uci lagi bete, harusnya mas hibur Uci, Uci juga pengen di manja oleh suami."
Gus Adnan langsung melangkahkan kakinya mendekati istrinya, ia langsung menarik istrinya ke dalam pelukannya, dengan pelan Gus Adnan melantunkan murotal ayat suci Al-Qur'an. Suara Gus Adnan sangatlah merdu di telinga Suci, hatinya begitu damai saat mendengar kalam Allah yang di lantunkan suaminya. Setelah menyelesaikannya Gus Adnan langsung bertanya pada Suci
" Hati kamu sudah lebih tenang?"
" Sudah mas."
Memang setiap kali mendengar ayat Suci Al-Qur'an yang di lantunkan oleh suaminya hatinya merasa sangat tenang.
__ADS_1