Cinta Suci

Cinta Suci
BAB. 76 Pengepungan


__ADS_3

Mereka langsung berkumpul dengan tim lainnya di gedung milik pak Samsul, belum ada titik keterangan tentang keberadaan pak Samsul, dan Kenzi sedang melacak tentang keberadaan pak Samsul.


" Sam, ini titik keberadaan pak Samsul."


Samuel langsung tersenyum saat melihat titik keberadaan pak Samsul sambil mengangguk, memang kalau soal lacak dan membobol akun, Kenzi memang bisa di andalkan, kepintarannya tidak di ragukan lagi. Salah satu polisi juga melihat titik ke beradaannya pak Samsul, setelah selsai melihat, polisi itu langsung memberitahukan pada yang lainnnya menggunakan Handy Talky


" Monitor, titik kordinat sudah di temukan, semua merapat pada target."


Gus Adnan merasa seperti sedang bermain film action, tapi sayangnya ini nyata, bukan cerita fiksi, karena begitu sangat menegangkan, di mana mereka harus bermain kucing-kucingan. Mereka telah tiba di tempat yang cukup tersembunyi, terdapat sebuah rumah, yang bisa mereka pastikan kalau rumah itu tempat persembunyian pak Samsul, dan bayak anak buah pak Samsul yang berjaga, membuat mereka harus sangat hati-hati. Ketua polisi langsung memberikan arahan


" Andi di barat, Edo di utara, Riski di selatan, Rudi di timur, dan Egi langsung ke target."


Kini ketua polisi itu langsung melihat ke arah Gus Adnan, Samuel, dan Kenzi, karena Rivaldi dan anak buahnya sudah berpencar mengikuti polisi.


" Lebih baik kalian di sini saja, terlalu berbahaya kalau ikut dalam penangkapan pak Samsul."


" Saya akan ikut."


Mereka menyahut bersamaan. Samuel langsung menatap ke arah Gus Adnan


" Gus, lebih baik di sini saja, biar saya dan Kenzi yang masuk pak Rivaldi juga sudah membagi tugas dengan anak buahnya."


" Saya akan tetap ikut."


" Baiklah."


Lagi-lagi Samuel hanya mengikuti permintaan Gus Adnan, walau pun ia sangat kuatir dengan Gus Adnan, tapi ia tidak bisa menolak, karena nanti akan ada perdebatan panjang seperti tadi bersama Sisil.


" Kita bertiga jangan sampai berpencar."


Kenzi tau kalau Samuel sangat kuatir pada Gus Adnan. Gus Adnan dan Samuel hanya menganggukan kepalanya. Mereka langsung mengikuti dua orang di depannya, mereka bergerak sangat hati-hati.

__ADS_1


Bugk.. Bugk.. Bruk.


Satu persatu anak buah pak Samsul berhasil di lumpuhkan, karena mereka tidak menggunakan sejata, mereka takut memicu keributan. Mereka berjalan kembali sambil mengendap-endap, dan kembali bersembunyi saat ada anak buah pak Samsul yang berjaga. Ketua polisi itu kembali memberikan arahan


" Edo ke arah jarum jam."


Mereka memulai perkelahian lagi di lantai bawah, dan terus melumpuhkan anak buah pak Samsul.


Bugk.. Bugk.. Bruk.


Dor.. Dor..Dor..


Suara perkelahian dan suara tembakan untuk peringatan dari ke dua belah pihak.


" Kita berpencar, secepatnya kita harus menemukan pak Samsul!"


Gus Adnan langsung menyuruh untuk berpencar, karena tidak mungkin terus saja bertiga, ia sudah mulai gelisah dengan istrinya.


Samuel dan Kenzi mejawab bersamaan, hanya saja hati Samuel tetep saja was-was, mengingat Gus Adnan belum pernah dalam situasi seperti ini, sedangkan Samuel sudah sering mengurusi khasus seperti ini. Gus Adnan mengikuti salah satu polisi bernama lengkap AKP Sholihin Austy S.H, ia juga seumuran dengan Gus Adnan, tapi pangkatnya sudah tinggi, terlihat jelas dari tiga balok emas yang bertenggar manis di bahunya. Sholihin berjalan sambil mengawasi sekitar, begitu pula dengan Gus Adnan yang sangat waspada. Gus Adnan juga pakai kaos lengan pendek dan celana jean, tidak seperti biasanya yang memakai baju koko dan celana hitam, bahkan saat mengajar saja jarang sekali Gus Adnan memakai kemeja. Gus Adnan menangkis bogeman yang di arahkan padanya, sementara kakinya menendang satu orang lainnya. Gus Adnan memutar tangan lawan dan memukul keras leher lawannya, hal itu membuat si lawan tidak sadarkan diri. Salah satu anak buah pak Samsul mengarahkan pistol pada Gus Adnan, itu membuat Gus Adnan diam dan mengangkat tangannya, karena ia tidak memiliki sejata apa pun selain tasbih di saku celana jeasnya. Gus Adnan hanya pasrah, karena sekarang tidak sedang melawan setan, jadi dengan zikir apa pun tidak akan mempan. Sholihin yang berhasil melumpuhkan lawan, ia langsung mengeluarkan pistol yang sudah di kasih obat bius untuk melumpuhkan lawannya, lalu ia langsung memberikan kode pada Gus Adnan agar tetap diam, lalu langsung mengarahkan pistol hampa suaranya


Tus.


" Akhh.."


Orang itu langsung berteriak kesakitan, dan langsung tumbang ketika epek sengatan listrik dari pistol hanpa suara yang di gunakan Sholihin mengenai tubuhnya. Sholihin menyimpan kembali pistol khususnya itu dan menggantikannya dengan pistol biasa


" Ambil pistol dia Gus!"


Gus Adnan hanya menurut saja, ia mengambil pistol yang di tadi di pegang lawan, seumur hidup ia ini adalah pertama kalinya memegang pistol.


" Saya pikir seorang Gus tidak bisa untuk berkelahi, ternyata serangan anda cukup hebat Gus."

__ADS_1


Sholihin memuji Gus Adnan, awalnya ia memang meragukan kemampuan Gus Adnan, sedangkan kemampuan Samuel tidak ia ragukan lagi, Samuel sudah sering mengikuti khasus serupa, hanya Kenzi yang Sholihin tidak mengenal sama sekali, dan tidak tau kemampuannya seperti apa.


" Terima kasih."


Kini Kenzi juga sudah ikut bergabung dengan Gus Adnan dan Sholilihin, termasuk anggota polosi lainya. Sementara Samuel masih belum terlihat batang hidungnya setelah berpencar. Sholihin langsung menendang pintu tersebut.


Bruk...


Sholihin langsung menodongkan pistolnya


" Angkat tangan anda sudah di kepung..!"


Pak Samsul langsung tersenyum saat melihat Sholihin menodongkan pistol padanya. Pak Samsul langsung menepuk tangannya dua kali


Prok.. Prok..


Sepuluh anak buah Pak Samsul langsung menodongkan pistol pada Gus Adnan, Kenzi dan Sholihin termasuk ke empat anggota polisi lainnya.


" Kalian mau bermain-main dengan saya?!"


Pak Samsul tertawa terbahak-bahak. Tidak lama anggota tim lainnya datang memberikan bantuan, suasana menjadi semakin menegangkan karena anak buah pak Samsul tidak gentar sama sekali. Bahkan ada sepuluh anak buah lagi di barisan belakang. Bahkan kini Sholihin dan kawan-kawan yang di kepung.


" Hahahaha..! Lihatlah kalian tidak akan bisa melawan penguasa!"


Sholihin menggeram marah saat melihat pak Samsul.


" Oh iya Gus Adnan, bukan'kah putri saya sudah menelpon anda untuk datang ke rumah sendiri? Dan menerima putri saya mejadi istri anda? Walau pun harus mejadi istri yang ke dua, putri saya rela, tapi anda bahkan menolak putri saya mentah-mentah dan mencari permasalahan dengan saya, sepertinya anda harus melihat siaran langsung."


Pak Samsul langsung mengambil remot dan mengarahkan ke layar televisi yang berukuran 42 inci. Layar itu langsung menyala menampilkan seorang wanita yang duduk di kursi dengan terikat dan ruangan yang sedikit samar-samar, Sholihin bisa memastikan kalau itu bukan ruangan di kantor polisi. Suci berkali-kali di tampar dan di cambuk dengan ikat pinggang, bahkan di siram dengan air. Di ruangan Suci ada ke dua lelaki dan satu wanita yang Gus Adnan kenali yaitu sahabat istrinya sendiri, tapi Gus Adnan juga tidak tau siapa nama wanita itu, yang jelas bukan salah satu dari ke dua wanita tadi.


" Suci..!"

__ADS_1


Gus Adnan berteriak saat melihat kondisi istrinya yang sedang di siksa oleh seorang wanita


__ADS_2