Cinta Suci

Cinta Suci
BAB. 22 Kemarahan Suci


__ADS_3

Sore ini Suci dan empat lainnya sedang berdiri di tengah lapangan, mereka kini menjadi tontonan santri-santri lainnya. Sudah di balang setiap tindakan yang di ambil oleh santri akan ada konsekuensinya dan sekarang mereka akan mempertanggung jawabkan perbuatan mereka. Suci bersyukur karena ia tidak dieksekusi sendiri, ada dua orang santri yang ketahuan sedang pacaran dan yang duanya terpergok berduaan. Jika di lihat dari ekspresi mereka, mereka terlihat ketakutan, terlebih santri perempuan, mereka sudah menangis dan juga malu, hanya Suci yang teelihat tenang saat di hukum. Tidak lama enam dewan santri datang, hanya Gus Adnan dan ustazah Sarah yang Suci ketahui namanya. Suci bisa melihat kalau Gus Adnan sedang menahan amarah, melihat ekspresi wajahnya lebih dingin dari biasanya


" Assalamualaikum."


" Wa'alaikumsalam."


Gus Adnan berdiri dengan tegap


" Seperti yang kalian ketahui, jika setiap hal yang kalian lakukan pasti akan ada konsekuensinya, aturan di buat untuk di patuhi bukan untuk di langgar. Sudah saya jelaskan saat kalian awal masuk pesantren ini bahwa saat itu juga kalian tanggung jawab kami selama kalian tinggal di sini dan hari ini saya mendapatkan kabar bawa ada lima orang santri yang telah melanggar aturan. Bahkan mereka terpergok sedang berkhalwat dan jelas memiliki hubungan yang di larang oleh agama. Maka dari itu kami akan memberikan hukuman pada kalian, hal ini kami lakukan agar kalian memiliki epek jera dan peringatan untuk santri lainnya!"


Setelah Gus Adnan menjelaskan semua, kini di sambung dengan ustazah Mawrah yang menjelaskan hukuman apa untuk mereka


" Untuk santri lelaki akan di potong rambutnya hingga gundul, dan untuk santriawati akan di siram."


Setelah ustazah Marwah menjelaskan itu membuat Suci berbicara di dalam hati sambil tersenyum


" Hukuman macam apaan ini, gue selama sekolah belum pernah ada hukuman di siram, lucu banget, mang gue mau nikah pakai di sirama segala." batin Suci


Gus Adnan langsung memalingkan wajahnya saat melihat Suci yang akan di siram oleh usazah Sarah. Entah kebetulan atau sengaja, ustazah Sarah yang ingin mengeksekusi Suci


" Kenapa nggak sekalian pakai bunga saja, biar seperti siraman gitu!"


Ustazah Sarah sampai tercengang saat mendengar ucapan dari Suci, harusnya Suci itu malu, tapi Suci sama sekali tidak tau malu


" Santriah gila!" batin ustazah Sarah


" Iya ampun dingin banget, harusnya pakai air hangat biar enak, tapi nggak apa-apa gue punya babu geratis hari ini buat mandiin gue!"


Ustazah Sarah langsung emosi saat mendengar Suci mengatakan dapat babu geratis. Sejak pertemuan pertama usazah Sarah sudah di buat jengkel oleh Suci


" Kamu itu harusnya malu! Bukan bahagia seperti itu!"

__ADS_1


" Ngapain harus malu, lagian juga pacaran itu hak setiap orang dan tergantung diri sendiri mau mejalani hubungan seperti apa nantinya."


Ustazah Sarah semakin cepat menyiram Suci, agar Suci kedinginan karena Suci selalu saja melawan ucapannya


" Kamu itu pernah di didik oleh orang tua nggak?! Atau orang tuamu tidak becus untuk mendidikmu?! Hingga kamu berpelukan di depan umum, seperti wanita murahan!


Saat mendengar ucapan ustazah Sarah yang menyangkut pautkan dengan ke dua orang tuanya ia sangat marah, ia tidak marah di panggil wanita murahan, tapi marah saat ustazah Sarah bawa-bawa orang tuanya. Secepat kilat Suci memutar tubuhnya, ia langsung memelintir tangan usazah Sarah yang sedang memegang gayung, ia mengunci ustazah Sarah dengan tubuhnya, lalu telinganya mendekati telinga ustazah Sarah


" Aw...!"


Ustazah Sarah menjerit kesakitan. Semua santri di buat terkejut saat melihat keberanian Suci, bahkan Gus Ali dan dewan lainnya ikut tercengang melihat Suci


" Lo bilang apa barusan?!"


Ustazah Sarah hanya diam, ia meringis kesakitan dan menangis, entah Suci juga tidak tau, itu hanya ekting atau benar-benar kesakitan, karena ia tau wanita seperti ustazah Sarah memiliki seribu cara untuk membuatnya terpojok, tapi ia sama sekali tidak peduli


" Lo bilang apa bodoh?! Kenapa lo hanya diam?!"


" Dasar muka dua." batin Suci


" Lepaskan dia!"


Ustaz Darma menatap Suci dengan tatapan tajam, tapi Suci menatap balik ustaz Darma, kesabarannya sudah benar-benar habis, ia sudah tidak bisa mengontrol emosinya lagi, hingga ia bertanya kembali pada ustazah Sarah


" Kenapa lo hanya diam hah?! Gue nggak peduli lo mau bilang gue wanita murahan atau apa, tapi lo jangan pernah bawa-bawa orang tua gue!"


Suci yang melihat usazah Sarah hanya menangis, ia langsung menarik rambut ustazah Sarah yang tertutup hijab


" Heh bodoh! Kamu tadi ektingkan menangis dan sekarang gue akan buat lo benar-benar menangis seperti yang lo inginkan!"


Setelah itu Suci langsung mendorong usazah Sarah sangat keras, hingga tersungkur ke tanah, membuat semua orang masih tercengang melihat tindakan Suci. Suci memutuskan pergi dari sana, tapi baru saja dua langkah ia langsung membalikan badan lagi, ia menatap ustazah Sarah dengan tatapan kebencian

__ADS_1


" Lo bisa ceramahin gue! Tapi lo nggak bisa nyeramahin mulut lo sendiri! Lo bilang orang tua gua nggak becus mendidik gua?! Terus apa mulut lo yang nggak bisa di jaga itu nggak dosa?! Bukan'kan itu sama saja di larang agama?!"


Usazah Sarah sangat malu melihat tindakan Suci, bukan hanya malu ia juga merasakan sakit. Sementara yang lainnya masih tercengang melihat Suci yang hilang kontrol. Gus Adnan yang melihat Suci pergi, ia langsung memanggil Suci


" Suci!"


Suci yang di panggil namanya, ia berhenti tanpa membalikan badan karena ia sudah hapal dengan suaranya


" Saya tunggu di kantor!"


Setelah mendengar ucapan Gus Adnan, Suci langsung melanjutkan langkah kakinya untuk mengganti pakaiannya. Setelah ganti baju Suci langsung mengeringkan rambutnya pakai handuk


" Uci, kamu tidak apa-apa?"


Maya menatap Suci dengan perasaan yang kuatir


" Memangnya gue kenapa?"


Suci bertanya balik dengan santai


" Iya nggak kenapa-napa hanya saja aku kuatir sama kamu."


" Hahaha, gue nggak akan mati cuma di siram pakai air, bahkan nggak akan bikin gue jera juga."


Maya yang mendengar jawaban dari Suci hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, ia memang sangat menghuatirkan Suci, tapi yang di kuatirkannya masih bisa tertawa


" Maya, gue mau ngomong sesuatu, karena lo menganggap gue sahabat, gue juga mau ikut ucapannya mejadi aku kamu. Sebenarnya aku hanya memangil diri sendiri aku itu hanya untuk Reyhan dan teman-temanku hanya memanggil lo gue, tapi karena beda lingkungan, aku akan berusa untuk terbiasa dengan kalian, hanya mungkin saja kalau lepas kontrol aku nggak akan ada sopan-sopannya."


Suci menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya dengan kasar, ia memang tidak ingin di bully lagi seperti dulu, ia tidak ingin menjadi Gadis lemah seperti dulu, Reyhan mengajarinya untuk mejadi Gadis yang bisa mejaga diri sendiri, tapi menurut Suci sekarang berbeda, setelah ia bisa segalanya, ia sering sekali emosi, ia juga tidak tau dan hanya Reyhanlah yang membuat ia seperti Gadis lemah, ia akan mematuhi semua ucapan Reyhan. Maya langsung memeluk Suci


" Gitu dong."

__ADS_1


Suci juga membalas pelukannya


__ADS_2