
Suci sudah pulang dari rumah sakit 1 bulan yang lalu. Kehidupan mereka tidak ada ada yang berubah, Suci tetaplah Suci yang selalu saja ceplas-ceplos. Suci tadi pagi memiliki permintaan kalau ia ingin melihat keadaan Maya, Siska dan Indra, untuk itu siang ini suaminya mengajak Suci ke rumah sakit jiwa, karena Maya memang gila semejak kejadian itu.
" Kita mau ngapin kesini mas?"
Suci menatap heran pada suaminya, kenapa suaminya membawa ia ke rumah sakit jiwa. Belum sempat Gus Adnan mejawab pertanyaan dari Suci. Suci sudah membrondong bayak pertanyaan.
" Mas mau masukin Uci ke rumah sakit jiwa?! Apa mas sudah enggak tahan sama tingkah Uci? Sampai-sampai mas tega mau masukin Uci ke rumah sakit jiwa?!"
Seandainya istrinya tidak sedang hamil, ia sudah ingin menyentil kening istrinya, mana ada seorang suami yang tega memasukan istrinya ke rumah sakit jiwa? Apa lagi istrinya sedang mengandung buah hatinya. Gus Adnan hanya bisa menepuk keningnya sendiri, istrinya selalu saja berpikir buruk terlebih dahulu dari pada berpikir positif.
" Jangan salah sangka dulu Uci, Mas."
Belum sempat Gus Adnan menyelsaikan pembicaraan, istrinya sudah memotong ucapannya.
" Mas jahat sama Uci hiks... Hiks... Uci itu masih waras mas! Uci lebih baik di ruqiah saja dari pada di masukin ke rumah sakit jiwa hiks... Hiks..."
Tangisan Suci pecah, saat suaminya mengajaknya ke rumah sakit jiwa, ia masih waras dan sangat waras, tapi bisa-bisanya suaminya mau memasukan ia ke rumah sakit jiwa, itulah yang ada di pikiran ia. Gus Adnan beristighfar berkali-kali saat melihat istrinya menangis, ia mengusap lembut air mata istrinya.
" Dengarkan mas dulu Uci, kamu jangan langsung berburuk sangka dan menangis. Coba kamu ingat apa permintaan kamu tadi pagi Uci?"
" Uci mau tau nasib Maya Siska dan Indra mas."
" Itu kamu masih ingat Uci, kenapa kamu berpikir seperti itu?"
" Ini itu rumah sakit jiwa mas, siapa yang ada di sini, apa mereka bertiga ada di sini? Setelah membuat Uci menderita?"
Gus Adnan langsung memeluk istrinya sekilas, lalu ia merangkul pinggang istrinya.
__ADS_1
" Maya ada di sini."
Suci sangat terkejut saat mendengar ucapan Gus Adnan, ia ingin Maya di penjara, bukan di rumah sakit jiwa, karena ulah Maya, suaminya harus berhadapan dengan bahaya, bahkan suaminya sampai tertembak, tapi bisa-bisanya Maya bebas dari hukuman.
" Kenapa mas?! Setelah Maya membuat kita menderita, kenapa Maya lolos dari hukuman? Uci enggak ridho kalau."
Belum sempat Suci melanjutkan pembicaraannya, suaminya langsung menempelkan telunjuknya di bibir ia, seketika itu membuat ia diam.
" Tenangkan dirimu Uci, mas tidak pernah suka kalau kamu menyimpan dendam."
" Tapi mas Maya itu."
Belum sempat Suci menyelsaikan pembicaraannya, suaminya sudah memotong pembicaraannya lagi.
" Mental Maya terguncang hebat, awalnya Maya juga di jebloskan ke penjara bersama Siska dan Indra. Setelah pak Samsul di penjara, semua keluarga Maya jadi hancur, semua aset milik pak Samsul di sita oleh KPK, dan bahkan paman dan tantenya Maya bunuh diri karena tidak mau menanggung malu oleh perbuatan pak Samsul."
" Maya tidak siap untuk menerima itu semua, hingga Maya berakhir di sini."
Suci hanya bisa menghela nafas berat. Walau pun Suci sangat membenci Maya, bahkan ia juga sampai menyimpan dendam, tapi ia tidak tega saat tau Maya mejadi gila, bagai mana pun juga dulu Maya pernah mejadi sahabatnya.
" Kamu ingin lihat bagai mana keadaan Maya sekarang?"
Suci langsung mengangguk cepat, ia ingin memastikan dengan matanya sendiri bagai mana kehidupan Maya sekarang. Gus Adnan menuntun istrinya, tidak sedikit pun ia beranjak dari istrinya, entah mengapa sekarang ia mejadi semakin protektif pada istrinya. Gus Adnan dan istrinya sampai di sebuah kamar, kamar yang sangat luas namen tidak ada barang apa pun di sana, hanya ada ranjang dan lemari kecil. Suci menyaksikan dengan mata sendiri, di pojok sana Maya sedang memberengut ketakutan, tubuhnya bergetar hebat, tapi pandangan matanya kosong.
" Mas, kenapa Maya mejadi seperti ini? Ini bukan Maya yang Uci kenal."
Gus Adnan merangkul bahu istrinya, ia mengusap lembut kepala istrinya yang tertutup hijab, lalu mengecup kening istrinya sesaat.
__ADS_1
" Apa pun yang kita lakukan akan mendapatkan pertanggung jawabannya. Kita do'akan saja Maya agar segera capat sembuh dan melajutkan hukumannya. Menyimpan dendam hanya akan merugikan diri sendiri Uci, maafkan semua kesalahan Maya, dan jadikan masa lalu itu untuk pelajaran hidupmu."
Suci menganggukan kepalanya, ia menyadarkan kepalanya di dada bidang milik suaminya, karena tinggi Suci hanya sedada suaminya, jadi ia bisa leluasan.
" Kamu harus tau Uci, kalau semua orang memiliki batas kemampuan yang berbeda-beda, tapi kita harus bersyukur karena Allah masih memberikan kita kekuatan iman dan islam dalam diri kita. Ujian yang menimpa kita bukanlah ujian yang mudah, mungkin saja kita bisa berakhir seperti Maya, tapi nyatanya Allah masih sayang pada kita. Allah masih mejaga kita dari keputus'asaan."
Gus Adnan membalikan tubuh istrinya, ia memagang ke dua bahu istrinya dan menatap mata istrinya dengan intens.
" Kuatkan iman kamu Uci, jangan pernah ada dendam di diri kamu, ujian yang Allah berikan masih belum selsai, masih banyak ujian-ujian lainnya yang sudah Allah siapkan, karena selama kita hidup, kita tidak akan pernah terlepas dari namanya masalah."
Suci mengangguk sambil tersenyum, ia tidak bisa mengucapkan kata-kata apa pun dari pejelasan panjang lebar yang di ucapkan oleh suaminya, ia akan berusaha untuk belajar lebih baik lagi dan tidak menyimpan dendam pada mereka. Suci langsung memeluk suaminya.
" Apa pun masalahnya, apa pun ujiannya, tolong jangan pernah tinggalkan Uci mas. Mas adalah nyawa Uci, yang membuat Uci sabar dan mampu melewatkan semua ujian. Mas adalah orang yang paling berharga untuk Uci, tanpa mas, Uci tidak pernah tau seperti apa nasib Uci. Terima kasih sudah mengajarkan Uci tentang agama, terima kasih sudah mejadi imam Uci yang baik."
Air mata Suci langsung mengalir, ia tidak tau kenapa ia menangis, dan air mata kebahagiaan atau air mata kesedihan ia juga tidak tau, yang jelas ia bangga meniliki suami seperti Gus Adnan yang tanpa lelah menasehatinya dan mengajarinya untuk mejadi lebih baik lagi.
" Insya Allah Uci, kamu adalah satu-satunya midadari mas. Semoga kita selalu di persatukan seperti ini, mau pun di dunia atau pun di kehidupan selanjutnya."
" Jangan menangis Uci, kenapa kamu jadi sering sekali menangis? Jelas-jalas kamu tau kalau mas tidak pernah suka melihat kamu menangis, mas lebih suka melihat kamu tersenyum."
Suci mengangguk pelan.
" Lalu keadaan Siska dan Indra bagai mana mas?"
" Mereka berdua ada di penjara."
Suci menganggukan kepalanya, ia tersenyum getir saat mengingat Siska menyiksanya, tapi ia sampai saat ini tidak bisa membenci Siska, bahkan ia ingin sekali melihat keadaan Siska, apakah Siska menerima hukumannya dengan lapang dada? Dan berubah menjadi wanita baik-baik seperti dulu lagi?
__ADS_1