Cinta Suci

Cinta Suci
BAB. 66 Saling minta maaf


__ADS_3

Suci hanya diam mendengar semua kemarahan dari suaminya, karena sekuat apa pun ia menjelaskan juga percuma, ia memang salah, ia pikir saat mencari solusi bersama Samuel itu adalah jalan yang benar, tapi ternyata tidak, karena seharusnya ia juga lebih terbuka pada suaminya. Gus Adnan meninggalkan istrinya yang masih berdiri mematung, ia tidak ingin amarahnya melup-luap, karena itu sama saja kalau ia terus marah-marah, itu artinya ia juga bersikap kanak-kanakan, cukup istrinya yang bersikap kanak-kanakan. Baru beberapa langkah suaminya melangkah Suci langsung memeluk suaminya dari belakang. Itu membuat Gus Adnan berdiri mematung, dengan nafas yang memburu, ia berusaha istighfar berkali-kali untuk meredakan amarahnya.


" Mas, Uci minta maaf. Uci hanya takut kehilangan mas. Uci sudah pernah kehilangan orang yang Uci cintai di masa lalu. Uci nggak mau kehilangan orang yang di cintai Uci untuk yang ke dua kalinya. Maaf karena Uci telah berbohong pada mas, tolong maafin Uci mas. Hiksh... Hiksh...."


Suci langsung menangis, ia tau kalau yang ia lakukan itu salah di mata suaminya, walau pun ia menganggap itu semua benar, tapi bagi suaminya ia itu salah. Gus Adnan langsung membalikan tubuhnya, ia memeluk erat istrinya sambil mencium kening istrinya.


" Tenanglah Uci."


Suci menangis tersedu-sedu di pelukan suaminya. Inilah Suci masih tetap wanita yang sama, ia akan mejadi lemah saat berhadapan di depan lelaki yang di cintainya. Dulu dengan Reyhan juga Suci selalu menangis, jelas-jelas sifat Gus Adnan dan Reyhan berbeda, tapi bagi ia tetap sama, lelaki yang di cintainya adalah kelemahannya. Gus Adnan langsung menggedong istrinya untuk menuju ke kamar. Setelah di kamar Gus Adnan mendudukan istrinya di atas ranjang, lalu ia mengambil air untuk istrinya


" Minumlah dulu Uci."


Gus Adnan merasa sangat bersalah karena tadi membentak istrinya, ia tau kalau istrinya pernah kehilangan orang yang pernah istrinya cintai, tapi bukan berarti istrinya menyembunyikan semua masalah darinya, ia juga berhak tau, ia adalah suaminya, sedangkan Samuel saja yang sahabat istrinya tau semuanya, tidak bisa di pungkiri rasa kecewa masih tetap menyelimuti hatinya.


" Apa yang sudah terjadi nggak akan bisa di rubah lagi. Mas harap kamu tidak mengulangi hal yang sama Uci. Kamu pasti sudah tau kalau berbohong itu dosa hukumnya? Bukan hanya pada suamimu, tapi pada siapa pun itu berbohong tetap tidak di perbolehkan. Jika kamu beranggapan berbohong itu untuk kebaikan, itu salah besar, bukan kebohongan seperti itu yang di perbolehkan oleh agama. Seorang suami boleh berbohong, tapi hanya untuk tujuan tertentu, misalnya seorang istri sedang merajuk, maka seorang suami boleh berbohong untuk meredamkan amarah istrinya dan menyenangkan hatinya. Tentu kebohongan itu jelas jauh dengan kebohongan yang kamu buat. Mas bukan ingin menghakimi dirimu, tapi mas ingin kamu paham aturan agama. Dan jangan bertindak gegabah, semuanya kita serahkan pada Allah, kita punya Allah Uci, kamu jangan pernah berpikir tentang keburukan."


Suci hanya memngangguk pelan, ia tau kalau yang ia lakukan itu salah, tapi itu semua karena ketakutannya yang lebih besar, ia takut kalau nanti harus kehilangan orang yang di cintainya lagi, ia tidak ingin kejadian yang sama terulang lagi.

__ADS_1


" Uci minta maaf mas."


Gus Adnan mengelus pelan kepala istrinya


" Mas juga minta maaf karena sudah membentak kamu."


" Uci, apa kamu yakin ini ada kaitanya dengan Ustazah Marwah?"


Gus Adnan bukan membela Ustazah Marwah, tapi tidak ada bukti kuat untuk menuduh Ustazah Marwah, ia hanya ingin istrinya jangan berburuk sangka terlebih dahulu.


" Uci yakin mas kalau Ustazah Marwah pelakunya, namen di sini sepertinya mantan anggota geng Uci juga ada yang terlibat salah satunya, tapi Uci juga tidak tau kalau ucapan Samuel itu benar atau tidak."


Suci hanya diam, ia juga bingung, memang ucapan suaminya ada benarnya juga, tapi untuk saat ini ia hanya curiga pada Ustazah Marwah, sedangan Siska ia masih kurang percaya, karena Siska adalah sahabatnya sendiri, bahkan ia lebih percaya kalau Kenzi lah yang terlibat dalam teror ini, jadi ia bingung, haruskah ucapan Samuel itu bisa di percaya sepenuhnya?


" Jangan terlalu percaya sama orang Uci, karena bisa saja orang yang kita percaya itu menusuk kita dari belakang. Kamu bisa masukan Ustazah Marwah sebagai salah satu daftar orang yang kamu curigai, tapi kamu tetap menggunakan akal sehatmu. Kita harus hati-hati dalam mengambil langkah, jangan sampai kita pecah dan masuk ke dalam teror ini. Lalu siapa lagi yang kamu curigai?"


" Uci masih bingung mas, kalau hati Uci curiga dengan Kenzi juga, tapi kalau Samuel curiga dengan Siska. Uci masih bingung, mereka berdua sahabat Uci."

__ADS_1


Suci menghela nafas berat, ia menyandarkan kepalannya di dada suaminya, memang mereka berdua adalah sahabatnya, bahkan Siska adalah sahabat yang ia paling percaya dari pada Sella dan Sisil, jadi tidak tau ia harus bagai mana


" Kita boleh curiga dengan mereka, tapi jangan terlalu fokus, karena mas takut kalau mereka bukan dalang dari teror tersebut."


Gus Adan mencium kepala istrinya sesaat sambil mengelus pucuk kepalanya pelan


" Lain kali kalau ada masalah bilang sama mas, jangan seperti ini Uci. Mas tidak ingin kamu kenapa-napa. Walau pun usiamu sudah cukup dewasa, tapi pikiranmu itu selalu gegabah, mas tidak ingin itu terjadi."


" Iya mas, tapi kenapa rumah tangga kita selalu dapat masalah?"


" Selama kita hidup, masalah itu pasti akan tetap ada. Kita harus bersyukur karena masalah rumah tangga kita berasal dari luar. Bukan'kah hal itu justru menjadi jembatan agar hubungan kita semakin dekat?"


" Maksud mas?"


" Uci, ada dua permasalahan dalam rumah tangga. Jika masalah itu bukan datang dari luar, dalam artian semua orang itu baik pada hubungan kita, tapi bisa saja masalah itu datang dari dalam. Banyak orang di luar sana yang rumah tangganya rusak hanya karena ke tidak cocokan masing-masing, suaminya yang pemarah, suaminya yang tidak sabar menghadapi istrinya. Istri yang tidak bisa menerima ekonomi suaminya, atau justru orang tua mereka yang tidak suka dengan pernikahan dari anak-anak mereka. Bukan'kah permasalahan itu jauh lebih berat dan mejadi guncangan batin?"


Memang yang di katakan Gus Adnan itu benar, setidaknya permasalahan yang di hadapi rumah tangga mereka tidak membuat batinnya tersiksa, suaminya bukan lelaki yang gampang tergoda, dan istrinya yang tidak pernah menuntut apa pun dari penghasilan suaminya. Bukan'kah itu mejadi poin plus untuk mereka?

__ADS_1


" Mas nggak akan meninggalkan Uci apa pun yang terjadi nanti?"


" Insya Allah, keterbukan dan kejujuran adalah kunci utama sebuah rumah tangga."


__ADS_2