Cinta Suci

Cinta Suci
BAB. 45 Cerita Sayyidah Khadijah


__ADS_3

Setelah kepergian Reyhan tiga bulan lalu, Suci menjadi pendiam, jelas-jelas Suci biasanya terkenal dengan pecicilannya, saat ada yang mengganggunya pun Suci hanya diam, tanpa mau membalas, mungkin bagi penghuni pesantren ini adalah kabar baik, karena si pembuat onar itu sudah toubat, tapi tidak bagi keluarga, terutama Gus Adnan


" Uci kamu sedang apa? Serius banget."


Maya bertenya dengan sangat penasaran


" Hafalin sural Al-Rahman."


" Masya Allah Uci, bentar lagi jadi ustazah nie."


" Nanti sore di suruh setoran sama Gus Adnan."


Suci bukan berubah atas kemauannya, tapi ia masih mengingat jelas saat Reyhan langsung memutuskan ponselnya tanpa berpamitan, di situlah walau pun Reyhan sudah tidak ada, ia harus mencoba memperbaiki diri agar Reyhan bangga di alam sana, kalau ia sudah benar-benar bisa berubah menjadi lebih baik lagi


" Kamu beruntung banget bisa dapat kelas privat oleh Gus Adnan."


Rianti memang sedikit iri dengan Suci yang bisa mendapatkan kelas privat oleh Gus Adnan


" Mungkin, aku juga tidak tau."


" Tapi ko bisa Suci hanya berdua, seharusnya kaliankan tidak boleh hanya berdua."


Najwa sedikit heran kenapa Gus Adnan tidak menyuruh teman Suci untuk menemaninya


" Lagian juga di tempat umum, apa lagi Gus Adnan juga tidak pernah macam-macam."

__ADS_1


Memang kalau Gus Adnan tidak pernah macam-macam, hanya saja Gus Adnan sering berbicara yang tidak di mengerti oleh Suci.


" Gus Adnan memang nggak akan macam-macam, tapi kamunya yang macam-macam."


" Walau pun aku wanita murahan dengan Reyhan! Tapi aku tidak semurahan itu dengannya!"


Rianti dan ke dua temannya niat sedang bercanda dengan Suci, tapi entah kenapa Suci menganggapnya dengan serius. Suci langsung berjalan ke arah masjid untuk setoran hafalan pada Gus Adnan. Setelah di sana Suci bersyukur karena ia bisa menghapal dengan lancar. Bahkan Gus Adnan memujinya karena tajwid dan makhorijul hurufnya sudah lebih baik


" Minggu depan hafalan surat Al-Waaqi'ah."


" Apa tidak di kasih istirahat sedikit pun Gus?"


Suci memang butuh ketenangan, walau pun menghapal adalah cara untuk tidak mengingat Reyhan, tapi hatinya sudah berusaha untuk ikhlas, seperti yang di harapan oleh papanya Reyhan


" Uci sudah mengikhlaskan Rey, tapi hidup Uci hampa dan masih memiliki rasa bersalah padanya."


Memang rasa bersalah Suci masih terus ada hingga sekarang, walau pun ia bukan yang merencanakan kecelakan Reyhan, tapi meninggalnya Reyhan ada kaitannya dengannya


" Mau dengar cerita tentang Sayyidah Khadijah? Siapa tau cerita ini bisa mengisi kekosongan kamu."


" Sayyidah Khadijah siapa?"


Suci bertanya dengan wajah polosnya. Gus Adan ingin sekali mencubit wajah menggemaskan Suci yang polos, bahkan Suci tidak tau dengan cerita itu


" Sayyidah Khadijah itu istri pertama Rasulullah, dan satu-satunya istri Rasulullah yang tidak pernah di duakan selama hidupnya. Rasulullah baru menikah lagi setelah Sayyidah Khadijah meninggal dunia. Dalam pernikahanya, Sayyidah Khadijah lah yang melamar Rasulullah, dan hal itu membuktikan jika seorang perempuan bisa melamar lelaki lebih dulu. Jika di tanya cinta siapa yang paling sejati, maka cinta Sayyidah Khadijah pada Rasulullahlah jawabannya. Sayyidah Khadijah membela mati-matian pada Rasululah yang menegakan agama islam. Harta, tenaga, dan apapun yang ia miliki, ia berikan untuk dakwah Rasulullah.Sayyidah Khadijah orang pertama yang beriman pada Rasulullah saat yang lain kufur. Sayyidah Khadijah yang setia menemani Rasulullah saat yang lain mencela dan memusuhi Rasulullah, betapa besarnya cinta Sayyidah Khadijah pada Rasulullah, hingga saat sakit pun Sayyidah Khadijah masih melayani Rasulullah sebagai baktinya pada suami. Sayyidah Khadijah adalah satu-satunya yang mendapat salam dari Allah melalui malaikat jibril, dan malaikat jibril pun turut memberikan salamnya pada Sayyidah Khadijah. Sayyidah Khadijah adalah satu dari empat wanita terbaik yang di rindukan surga."

__ADS_1


Suci mendengarkan setiap kata yang di ceritakan Gus Adnan, rasa kagum muncul pada Sayyidah Khadijah


" Begitu pun dengan Rasulullah, Rasulullah sangat mencintai Sayyidah Khadijah, setelah Sayyidah Khadijah meninggal pun tidak ada yang bisa menggantikan rasa cinta Rasulullah pada Sayyidah Khadijah, sedikit pun rasa cinta Rasulullah tidak berkurang. Pernah suatu ketika Rasulullah pulang berdakwa, dengan keadaan lelah Rasulullah berbaring di pangkuan Sayyidah Khadijah hingga tertidur. Saat itu Sayyidah Khadijah membelai rambut Rasulullah dengan penuh kelembutan dan rasa sayang, hingga tidak terasa air mata Sayyidah Khadijah menetes di pipi Rasulullah. Rasulullah kemudian bangun dan berucap. Wahai Khadijah, mengapa engkau menangis? Adakah engkau menyesal bersuamikan aku Muhammad? Tanya Rasulullah dengan lembut. Dahulu engkau wanita bangsawan, engkau mulia, engkau hartawan. Namen hari ini engkau telah di hina orang. Semua orang telah mejauhi dirimu. Seluruh kekayaanmu habis. Adakah engkau menyesal wahai Khadijah yang bersuamikan aku Muhammad? Tanya lagi Rasulullah saat tidak kuasa melihat istrinya menangis."


Gus Adnan tersenyum saat melihat Suci yang termenung


" Sayyidah Khadijah mejawab. Wahai suamiku, wahai Nabi Allah. Bukan itu yang aku tangiskan. Dahulu aku memiliki kemuliaan, kemulian itu telah aku serahkan pada Allah dan Rasul-nya. Dahulu akulah bangsawan, tapi kebangsawananku sudah aku serahkan pada Allah dan Rasul-nya. Wahai Rasulullah, sekarang aku tidak punya apa-apa lagi, tapi engkau masih terus memperjuangkan agama ini. Wahai Rasulullah, jika nanti aku mati, sedangkan perjuanganmu belum selsai, sekiranya engkau akan meyebrangi sebuah lautan, sekiranya engkau akan menyebrangi sungai, namen engkau tidak memperoleh rakit atau jembatan, maka galihlah lubang kuburku, ambilah tulang belulangku. Jadikanlah sebagai jembatan untuk engkau menyebrangi sungai itu, supaya engkau bisa berjumpa dengan manusia dan melajutkan dakwahmu. Ingatkan mereka tentang kebesaran Allah, ingatkan mereka pada yang hak, ajak mereka ke pada islam wahai Rasulullah."


Gus Adnan menghela nafas sambil menatap Suci yang sudah meneteskan air mata


" Kisah cinta Sayyidah Khadijah dan Rasulullah adalah sebaik-baiknya cinta manusia. Cinta terbaik sepanjang sejarah. Tidak akan cukup waktu satu hari untuk menceritakan pengorbanan dan kisah cinta Sayyidah Khadijah bersama Rasulullah. Saya hanya ingin kamu paham jika sebaik-baiknya cinta adalah cinta yang di landasi oleh Allah. Cinta yang di ciptakan dalam ikatan yang halal."


Suci tidak mampu berkata-kata, ia sangat malu, karena ia tidak tau tentang Allah dan Rasul-nya, bukan karena keluarganya yang tidak mengajarkannya tentang agama, tapi dirinya sendiri yang tidak mau tau tentang agama. Suci terlalu fokus dalam kehidupan duniawi yang kejam dan mencari kebahagian yang menurutnya benar


" Kenapa kamu menangis?"


" Uci malu Gus."


Suci menutup wajhnya dengan kedua telapak tangannya


" Uci malu karena tidak bisa seperti Sayyidah Khadijah. Uci ingin suami yang bisa membimbing Uci, agar Uci lebih baik lagi, tapi Uci sadar, kesalahan Uci di masa lalu itu membuat Uci tidak mungkin."


Setelah mendengar cerita Sayyidah Khadijah, sejenak ia terharu dan melupakan Reyhan, lelaki yang ia katakan ikhlas, tapi selalu ada dalam bayang-bayangnya


" Kata siapa? Buktinya saya mau jadi suami kamu."

__ADS_1


__ADS_2