
Sudah 1 bulan Suci pulang dari rumah sakit. Gus Adnan sekarang sedang menimang-nimang putranya sambil bersholawat. Zayyan tertidur pulas karena mendengar sholawat dari abinya yang menenangkan. Suci menatap ke arah suaminya sambil tersenyum, menurut Suci pemandangan itu sangat menyejukan hati.
" Mas."
" Iya sayang."
Setelah kehadiran Zayyan sikap Gus Adnan jauh lebih lembut pada istrinya, walau pun wajah dingin pada orang lainnya masih tetap sama.
" Sini mas biar Uci yang gendong Zayyan, mas makan dulu."
Suci mengambil alih Zayyan ke dalam gendongannya, ia menemani suaminya untuk makan.
" Abi lagi makan tuh sayang. Zayyan mau makan sama abi enggak?"
Suci bertanya pada putranya sambil mencolek-colek pipi putranya.
" Eh putra abi sudah bangun, jelas-jelas tadi Zayyan tidur pules banget."
" Kalau sama Umi maunya main katanya Bi."
Gus Adnan terkekeh, Zayyen memang lebih aktif jika bersama Suci. Gus Adnan makan sambil menyuapi istrinya dengan telaten, karena ia tau kalau istrinya itu lebih mementingkan ia dan Zayyan dari pada dirinya sendiri. Waktu dan pengalaman hidup yang akan membuatmu dewasa, kalimat itu sangat cocok untuk Suci. 19 tahun Suci hidup bersama orang tua, membuat ia tidak terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah, dan hidup dalam kemewahan membuat Suci bertingkah sesuka hati. Semua orang pasti bisa membandingkan Suci yang dulu dengan Suci yang sekarang, sangat jauh berbeda. Walau pun sifat keras kepala dan sifat bar-bar Suci masih tetap ada. Kini Suci jauh lebih mandiri, ia bisa mengurus rumah, suami dan anak sekaligus. Gus Adnan mengusap sisa makanan di bibir istrinya dengan ibu jarinya, lalu ia akan beranjaak untuk mencuci piring bekas mereka makan.
" Mas, biar Uci saja yang mencuci piringnya."
" Tidak apa-apa, biar mas saja."
" Tapi itu kewajiban Uci mas."
" Kata siapa? Sebenarnya pekerjaan rumah itu kewajiban suami."
__ADS_1
Setelah itu Gus Adnan langsung pergi ke dapur sambil membawa piring kotornya. Suci mengerutkan keningnya bingung, benarkah yang di katakan suaminya? Kalau pekerjaan rumah itu tugas suami? Setelah selsai cuci piring Gus Adnan kembali lagi ke samping istrinya.
" Jangan melamun! Kasihan Zayyan sampai keheranan melihatnya."
" Mas, masa pekerjaan rumah sebenarnya kewajiban suami?"
Suci masih penasaran, karena yang ia tau kalau pekerjaan rumah adalah tugasnya seorang istri.
" Iya sayang. Namen ada perbedaan pendapat di para ulama dan mazhab, ada yang berpendapat kalau kewajiban seorang istri itu hanya sekedar istimta, yaitu memberikan pemenuhan kebutuhan biologis pada suami. Ada juga yang berpendapat jika seorang istri wajib membantu atau berkhidmat pada suami dalam berbagai hal, misalnya mengerjakan tugas-tugas yang domestik, seperti mencuci, memasak dan yang lain-lainnya."
" Lalu mas mempercayai yang pertama?"
Gus Adnan menggeleng, ada kesalahan kata dari pertanyaan istrinya, ia bukan mempercayai salah satunnya, tentu semuanya juga benar karena ada alasan masing-masing, hanya saja ia mengikuti sesuai mazhab yang ia ikuti.
" Bukan mempercayai sayang, tapi lebih ke mengikuti, karena ke duanya benar adanya, tentunya semuanya di dasari dengan hadist yang shohih."
"Begini sayang, salah satuh mazhab yang berpendapat jika pekerjaan rumah bukanlah kewajiban istri adalah mazhab Imam Syafi'i, seperti yang tertuang dalam kitab Al-Majmu juz 16 halaman 427 edisi Maktabah Syamilah, bila para istri berkhidmat pada suaminya dalam pekerjaan-pekerjaan itu maka tercatat sebagai amal terpuji bukan kewajiban. Nah kita sendiri bermazhab ke pada Imam Syafi'i, jadi sudah seharusnya kalau kita mengikitu apa yang menjadi dasar hukumnya."
" Tapi mas juga membenarkan jika dalam sebuah rumah tangga harus ada pembagian tugas antara suami dan istri. Jadi sebenarnya kembali pada diri masing-masing, seorang istri di wajibkan mengikuti perintah suami, jadi jika suaminya meminta istrinya untuk memasak, maka istri wajib melaksanakannya, dan jika yang di lakukan istri ridho, maka semua yang di lakukannya itu bernilai ibadah. Itulah mengapa di sebut jika ibadah terlama adalah membina rumah tangga, sayang."
Dalam islam, semua ada dasar hukumnya, dan tentunya dalam islam semua perintah yang di berikan sudah sesuai dengan kehidupan, tidak ada istilah membebani karena pada dasarnya Allah selalu memudahkan semua urusan hambanya.
" Sudah paham sayang?"
" Sudah mas."
Suci tersenyum, ia melihat putranya yang seolah-olah sedang menatapnya.
" Sayang, putra umi, jadilah seperti abi, yang cerdas dan pintar, kalau jago berantemnya, jadilah seperti umi, yang tidak mudah di kalahkan oleh orang jahat. Umi harap Zayyan memiliki dua sifat seperti umi dan abi, agar kelak Zayyan menjadi anak yang sangat berguna."
__ADS_1
Ada sedikit senyuman di bibir Zayyan yang seolah-olah mengerti apa yang di katakan oleh uminya. Sedangkan Gus Adnan hanya tersenyum saat mendengar ucapan dari istrinya, yang penting jangan tingkah pecicilan istrinya yang di turunkan pada putranya, karena akan membawa pengaruh buruk pada putranya.
" Aduh putra Abi ternyata sudah mengerti mendengar nasehat umi iya?"
Gus Adnan berbicara sambil mengelus lembut pipi putranya yang terlihat menggemaskan.
" Iya dong abi, Zayyan harus mendengar nasehat umi, agar Zayyan jadi anak yang berbakti pada abi dan umi."
Suci menjawab ucapan suaminya sambil tersenyum. Kebahagian Suci semakin bertama semenjak lahirnya Zayyan. Suci tidak pernah kesepian setelah lahirnya Zayyan, biasanya ia akan kesepian saat suaminya pergi untuk mengajar, tapi sekarang tidak, sekarang ada Zayyan yang selalu menemani ia di setiap saatnya.
" Terima kasih sayang, sudah mau menjadi umi yang baik untuk Zayyan selama ini, mas sangat bangga denganmu, walau pun dulu kamu itu selalu bikin onar, mencari keributan adalah kebiasaanmu, tapi sekarang kamu jauh lebih dewasa."
" Harus dong mas, kalau nanti Uci enggak dewasa juga gimana hidup Zayyan? Buktinnya Uci bisa melahirkan Zayyan, masa Uci tidak bisa mengurus Zayyan yang lebih mudah dari melahirkan?"
Gus Adnan tersenyum sambil mengelus kepala istrinya, ia merasa lebih bahagia dari hari-hari sebelumnya, ia memang sangat bahagia saat sudah bersama Suci, tapi ia lebih bahagia lagi saat mendapatkan putra kecil, yang menjadi pelengkap hidup di rumah tangganya.
" Sini mas yang gendong Zayyan, kamu pasti capek."
Gus Adnan mengambil alih untuk menggendong Zayyan. Setlah itu seperti biasa, ia akan membacakan surat ayat suci Al-Qur'an, agar putranya terbiasa mendengarnya. Jadi intinya Gus Adnan menanamkan agama Zayyan sejak balita, agar kelak sudah terbiasa. Suci hanya tersenyum, ia sangat nyaman saat mendengar suaminya membacakan surat ayat suci Al-Qur'an, hingga mata ia memerah karena merasa sangat ngantuk.
" Kamu ngantuk iya sayang? Tidur siang gih, biar Zayyan mas yang jaga."
" Enggak apa-apa mas, Uci tidurnya nanti malam saja."
" Ini itu mumpung mas ada waktu, biasanya juga mas di sibukan untuk membuat materi atau menilai materi yang sudah di kerjakan oleh anak-anak. Sudah tidur gih sayang, kasian mata kamu itu sudah merah banget."
" Baiklah, terima kasih mas."
" Sama-sama sayang."
__ADS_1
Suci langsung membaringkan tubuhnya di sofa untuk ia tidur