Cinta Suci

Cinta Suci
BAB. 53 Gibah


__ADS_3

Pagi ini suasana di pesantren sangat riweh, seluruh penghuni pesantren di gemparkan dengan kabar yang tidak bisa mereka percaya, bahkan mungkin tidak bisa mereka terima. Seorang Gus Adnan yang selalu mejadi idola para santirah ternyata sudah menikah, yang lebih membuat mereka terkejut adalah Suci, si Gadis pembuat onar. Bahkan mereka juga tau pertemuan pertama Gus Adnan dan Suci kurang mengenakan, karena Suci mengatai Gus Adnan bodoh.


" Apa kelebihan Suci? Sampai Gus Adnan memilih Suci untuk mejadi istrinya?"


" Tidak mungkin Suci istrinya Gus Adnan!"


" Gus Adnan tidak cocok bersama Suci, bagusan ustazah Marwah kemana-mana!"


" Apa sih yang bisa di banggakan dari seorang Suci?"


" Nama Gus Adnan pasti tercemar nantinya."


Begitulah ucapan-ucapan mereka, seakan-akan Suci sangatlah kotor, jelas-jelas setiap orang punya sisi baiknya masing-masing. Andai Suci mendengarnya entah akan di apakan oleh Suci. Belum selsai dari keterkejutannya, mereka di kejutkan lagi ternyata Suci seorang ning, kabar yang tidak dapat di percaya. Suci adalah adik dari Gus Ilham dan Suci adalah cucu perempuan satu-satunya dari kiai Habibi, cucu dari kiai besar tempat mereka menamba ilmu. Bayak yang bersalah karena telah melontarkan kata-kata buruk pada Sucu, namen banyak juga yang mamandang sebelah mata terhadap Suci.


" Suci itu ternyata ning? Masa ning kelakuannya seperti brandalan?!"


" Ning itu sifatnya terpuju, sholehah, feminim, tapi Suci nggak ada sifat seperti itu!"


" Ning ko hampir setiap hari terkena khasus heran saya!"


Masih banyak pembicaraan lainnya dari mereka, mereka hanya melihat Suci dari satu sisi, yaitu sisi buruknya saja. Suci kini berjalan santai menuju ke arah kamarnya di asrama, saat ia melewati orang-orang ada perasaan aneh saat melihat orang-orang menundukan kepalanya. Bahkan Suci di buat lebih aneh saat orang-orang menyapanya dengan sopan, ia sadar kalau meraka pasti sudah tau statusnya


" Dulu saja mereka menghinaku, tapi sekarang setelah tau aku cucu dari pemilik pesantren, mereka menyapanya dengan sopan. Cih! Dasar munafik, bukan'kah islam mengajarkan baik terhadap siapa saja?" batin Suci


Suci membuka pintu sambil uluk salam


" Assalaimualaikum."


" Wa'alaikumsalam ning."


Ke tiga sahabat Suci mejawab dengan serempak sambil menundukan kepalanya. Suci melawati mereka bertiga langsung duduk sila di atas ranjang

__ADS_1


" Ya ampun apa kalian nggak pegel menunduk terus?!"


Suci menghela nafasnya kasar saat ke tiga sahabatnya masih menundukan kepalanya, apa seorang ning itu memang selalu di istimewakan? Kalau memang benar Suci merasa hidupnya sangat membosankan


" Cepat duduk!"


Mereka langsung segera duduk di ranjang Suci. Suci menatap ke tiga sahabatnya serius, ia tidak suka suasana seperti ini, ia bahkan baru saja memiliki sahabat terbaik selain anggota 4S, tapi kini ia seperti ke hilangan sahabat barunya.


" Angkat kepala kalian! Dan tatap mataku! Aku Uci, mau ning atau bukan, aku tetap Uci sahabat kalian! Jadi stop bertingkah seperti ini! Gus Adnan pernah bilang kalau yang membedakan manusia di mata Allah itu adalah ketakwaannya, bukan harta, atau tahta, apa lagi cuma gelar yang nggak akan di bawa mati! Jadi apa yang harus aku banggakan? Aku seperti kalian yang tidak bisa memilih lahir di kuluarga seperti apa!"


" Tapi tidak sopan Uci, kamu keluarga ndalam yang harus kita hormati."


Suci menghela nafas saat mendengar jawaban dari Maya


" Bukannya kita pada siapa saja kita harus hormat? Jika memang orang itu layak kita hormati?"


Mereka hanya terdiam, menurut mereka memang benar ucapan Suci. Suci langsung melebarkan tangannya


" Sini-sini peluk aku, aku kangen sama kalian, apa lagi besok aku nggak di sini lagi."


" Memangnya kamu mau kemana Uci?"


Rianti bertanya dengan rasa penasaran, bukan hanya ia, ke dua sahabatnya juga memang sangat penasaran


" Mau ke rumah mertua."


" Uci selamat iya, akhirnya keinginan kamu terwujud juga ingin menjadi istri dari Gus Adnan."


Suci hanya mengangguk sambil tersenyum saat mendengar ucapan selamat dari Najwa. Akhirnya mereka sekarang mengobrol-ngobrol santai, setelah sekitar satu jam Suci memutuskan untuk ke rumah kakenya lagi


" Aku pamit dulu iya, aku pasti akan selalu merindukan kalian."

__ADS_1


" Iya Uci, kita juga pasti sangat merindukanmu."


Mereka menjawab serempak, Suci memeluk mereka lagi sesaaat sebelum ia benar-benar keluar dari kamar asramanya. Suci yang berjalan santai akan kembali ke rumah kakeknya, tiba-tiba langkahnya terhenti saat mendengar para santriah sedang membicarakannya


" Nasib Suci beruntung banget iya, bisa mejadi istri Gus Adnan."


" Halah, palingan itu karena pak kiai, kalau bukan karena pak kiai mana mau Gus Adnan sama santriah nakal seperti Suci, yang tidak ada sisi untuk di banggakan."


" Iya benar! Mana ada sipat ning seperti itu! Sepepertinya Gus Adnan terpaksa menerimanya, Gus Adnan mungkin tidak enak menolak permintaan pak kiai."


" Iyalah, jelas-jelas ustazah Marwah jauh lebih baik, Gus Adnan kalau sama ustazah Marwah cocok banget. Aku nggak rela kalau harus Suci yang jadi istri Gus Adnan."


Suci menghela nafas kasar, ia berkali-kali beristigfar, ia tidak ingin membuat suasana lebih kacau, tapi ucapan mereka terus saja mengikis habis kesabarannya, membuat ia mendekati mereka


" Lo lagi! Lo lagi! Nggak bisa iya sehari saja nggak hina gue?! Kalau gue ning dan sifat gue seperti ini memang salah hah?! Tapi setidaknya gue nggak munafik seperti kalian! Gue nggak bisa ubah takdir Allah! Apa gue sebegitu kotor hingga tidak pantas bersanding dengan Gus Adnan?!"


Mereka yang menghina Suci hanya diam saat mendengar kemarahan Suci. Bahkan banyak juga yang menonton kemarahan Suci. Suci mengepalkan ke dua tangannya, lalu langsung mendekati salah satu santri. Suci mencengkram kuat tangan salah satu santriah dengan tangan kanannya dan tangan kirinya mejambak paksa hijab santriah itu


" Lo tau nggak?! Kesabaran gue sudah habis! Gue selama ini nggak pernah mencari masalah pada kalian! Tapi kalian selalu saja mencari masalah denga gue!"


" Aw! Sakit Suci.. Ampun."


Santriah itu sama sekali tidak bisa melawan, karena tenaga Suci terlalu besar, sedangkan yang lain hanya menonton. Gus Adnan yang kebetulan tidak jauh dari sana langsung menghampiri Suci yang masih mencengkram tangan santriah itu dan menarik hijabnya


" Uci istigfar!"


Gus Adnan menepuk pundak Suci, tapi Suci sama sekali tidak mempedulikan Gus Adnan, karena kesabaranya sudah habis.


" Apa salah gue sampai kalian memandang gue buruk hah?! Apa karena gue nakal?! Gue memang nakal! Tapi gue nggak pernah ngusik hidup orang yang nggak pernah ngusik hidup gue!"


Gus Adnan langsung melepas paksa tangan Suci, lalu langaung memeluk Suci sangat erat, seketika itu juga tangisan Suci pecah di dada Gus Adnan, ia sudah mencoba lebih baik, tapi tetap saja di pandang buruk oleh mereka.

__ADS_1


" Istigfar Uci."


Gus Adnan ingin sekali memarahi ke empat santri yang sudah mengkikis habis kesabaran Suci, ia sama sekali tidak malu, bahkan ia sangat bangga memiliki istri seperti Suci yang selalu tampil apa adanya


__ADS_2