Cinta Suci

Cinta Suci
BAB. 55 Pergi ke rumah mertua


__ADS_3

Pagi harinya Gus Adnan membawa Suci ke rumah orang tuanya, untuk beberapa hari mereka akan tinggal di sana, sekalian akan melangsungkan resepsi pernikahan yang akan di selenggarakan di pondok pesantren Alhusna, pesantren milik abinya Gus Adnan. Di perjalanan Suci terus memegang dadanya yang berdetak lebih kencang


" Gus, Uci deg-degan."


" Kenapa Uci?"


" Iya takutlah Gus, sudah tau Uci deg-degan karena akan bertemu mertua, eh masih nanya kenapa!"


" Uci, di sana juga rumah kamu."


Suci menghela nafas berat saat mendengar jawaban dari Gus Adnan, bayangkan saja siapa yang tidak takut akan bertemu dengan mertua? Apa lagi Suci belum pernah bertemu dengan ke dua orang tua Gus Adnan sama sekali, terlebih lagi orang tua Gus Adnan adalah sebagai pemimpin pesantren, ia lebih takut, ia bukan wanita sholehah, yang bisa selalu mejaga ucapanya, ia takut kalau kata-katanya tidak sopan dan tidak bisa menerima ia apa adanya. Gus Adnan tau apa yang Suci pikirkan


" Jangan berpikir aneh-aneh! Orang tua saya itu baik."


Suci hanya mejawab dengan anggukan kepala, walau pun Gus Adnan sudah mengatakan seperti itu, tapi ia tetap saja masih takut. Setelah sekitar 1 jam mereka sampai di pesantren Alhusna. Suci yang sudah turun dari mobil bersama Gus Adnan, ia merasa jauh lebih tenang, entah kenapa setiap di lingkungan pesantren ia merasa ada kedamaian dan kenyamanan. Beberapa santri putra langsung nenyalimi sambil mencium tangan Gus Adnan dengan ta'dzim, mereka begitu sopan dan sangat menghormati Gus Adnan. Suci yang melihat pemandangan itu hanya bisa tersenyum. Suci sangat terkejut saat beberapa santri putri menyalimi juga. Suci termenung dengan mata yang sudah berkaca-kaca, ia merasa terharu saat mereka memperlakukannya dengan sangat sopan dan sangat menghormatinya. Gus Adnan merangkul bahu Suci lalu langsung membawanya ke arah rumahnya


" Assalamulaikum."


" Wa'alaikumsalam."


Suara dari dalam itu menyahuti salam Gus Adnan dan Suci. Yang membuka pintu adalah Umi Mariyam, matanya berbinar saat melihat dua orang yang sudah ia tunggu dari tadi sudah datang


" Alhamdulilah kalian sudah datang juga nak."


Gus Adnan langsung mencium tangan uminya, begitu pula dengan Suci walau pun terasa canggung.


" Masa Allah putri umi tambah cantik saja."


Umi Mariyam langsung memeluk Suci sesaat


" Terima kasih tante."


" Jangan panggil tante dong nak, panggil umi."

__ADS_1


" Eh, iya um-mi."


Suci menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ia malu dan merasa seperti mimpi, perlakukan umi Mariyam begitu hangat.


" Ayo kedalam, abi sudah nunggu putrinya dari tadi."


Umi Mariyam langsung menggandeng tangan Suci, untuk mengajaknya masuk


" Adnan nggak di ajak umi?"


" Kamu juga sama masuk nak, masa sama istri sendiri ngiri, kamu sudah menikah, masa iya umi harus gandeng kamu seperti anak-anak pula."


Suci yang mendengar jawaban dari umi Mariyam, ia hanya mengulum senyum, ia tidak percaya dengan ucapan Gus Adnan yang begitu manja dengan uminya sendiri, sedangkan biasanya hanya memasang wajah datar sedatar tembok. Gus Adnan teesenyum, hatinya begitu hangat saat melihat ke akraban umi dan istrinya, dua wanita yang sama-sama berharga dalam hidupnya. Mereka masuk ke dalam, Gus Adnan langsung menyalami abinya, sedangkan Suci hanya menungkupkan tanganannya di dada, mengikuti yang abi lakukan. Mereka berbincang-bincang santai sambil sesekali tertawa, bahkan mereka juga membicarakan repsepsi pernikahan yang akan di selenggarakan besok, memang sudah di dekor dari tadi pagi. Suci merasa sangat nyaman saat mendengar perbincangan mereka, bahkan ke dua orang tua Gus Adnan tidak membicarakan ia yang tidak memiliki kesopanan


" Ya Allah, senang banget jadi menantu mereka, mereka begitu sangat menghargaiku sebagai anak, bukan sebagai menantu, benar-benar membuatku terharu." batin Suci


Setelah perdebatan panjang abi Gus Adnan langsung mengahiri percakapannya dan menyuruh mereka istirahat


" Adnan, ajak istrimu istirahat, kasian Suci sudah duduk di mobil satu jam dan sekarang masih harus berbincang juga."


Suci hanya menjawab dengan anggukan kepala, Gus Adnan mengajak Suci sambil menggandeng tangan Suci. Umi dan Abi Gus Adan hanya tersenyum melihat putranya yang menggandeng tangan Suci. Setelah di kamar mata Suci terus saja mengekori isi yang ada di kamar itu, semuanya sangat tertata rapih, tidak ada yang berantakan sama sekali, memang kamar itu hanya setengah dari kamar Suci di rumah Bundanya, tapi sangat berbeda, kamarnya penuh dengn barang-barang yang tidak jelas, sedangkan kamar Gus Adnan di penuhi dengan buku-buku di raknya dan piala yang terjejer rapih. Suci menatap kagum dengan piala yang berjejer rapi


" Pialanya bayak banget, aku saja dari sekolah dasar hingga masuk kuliah hanya mendapatkan dua biji." batin Suci


" Uci, kita tinggal di sini untuk beberapa hari, dan besok repsepsi pernikahan kita. Saya mau kamu dandannya jangan terlalu tebal, hanya mek up sederhana."


" Iya kali kalau tebal namanya bukan cantik Gus, yang ada jadi ondel-ondel."


" Saya sama sekali tidak bermaksud seperti itu, hanya saja saya tidak ingin kecantikan kamu itu di lihat oleh lelaki lain."


Suci yang mendengar jawaban dari Gus Adnan langsung mencolek pipi kiri Gus Adnan


" Gus cemburu?"

__ADS_1


" Saya tidak cemburu."


" Bilang saja cemburu Gus, gitu saja susah, heran deh Uci sama Gus tuh."


" Tidak ada orang yang mau istrinya di tatap oleh lelaki lain dan di puji ke cantikannya oleh lelaki lain."


" Gus itu jaman abad ke berapa? Pikirannya harusnya punya istri cantik seksi itu di pamerin sama semua orang dan bangga memiliki istri cantik, tapi Gus nggak boleh kecantikan istrinya di lihat orang?"


" Kamu sekarang tanggung jawab saya Uci, saya hanya ingin kecantikan kamu itu cukup saya yang tau."


Suci hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, ia tidak mengerti maksud Gus Adnan, hanya saja mulai sedikit risih saat apa-apa di batasi, ia menyukai kebebasan, tapi ia juga tidak mau melepaskan Gus Adnan


" Ah risih kalau apa-apa di batasi, bersyukur aku cinta, kalau nggak cinta sudah aku tendang deh jadi suami." batin Suci


" Lebih baik kamu mandi, agar lebih segeran."


" Gus nggak mau mandi bareng Uci?"


" Nggak nanti saja, kamar mandinya di sebelah sana."


" Iya Gus."


Setelah Suci pergi ke kamar mandi, Gus Adnan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, memangnya mandi berdua tidak akan menimbulkan nafsu? Apa lagi tubuh istrinya itu menurut Gus Adnan memang sangat menggoda, ia takut tidak bisa menahan nafsunya sendiri. Suci berendam di bathub sambil bermain sabun


" Nggak enak punya suami seperti Gus Adnan, sedikit pun nggak ada romantis-romantisnya, tapi setiap kata yang Gus Adnan ucapkan mampu membuat hatiku luluh." batin Suci


Setelah sekitar 15 menit Suci selsai mandi, ia langsung mendekati Gus Adnan yang sedang memainkan laptopnya


" Yang jadi istri itu aku atau laptop sih?" batin Suci


Gus Adnan menyadari kalau istrinya sedang menatapnya, ia bertanya tanpa melihat ke arah Suci


" Kenapa?"

__ADS_1


" Nikah saja sama laptop!"


Gus Adnan menatap Suci tidak percaya dengan ucapannya


__ADS_2