Cinta Suci

Cinta Suci
BAB. 78 Gus Adnan tertembak.


__ADS_3

" Hahaha..! Silhakan kalau berani tembak saya, lagian saya sudah puas melihat orang yang sudah menyakiti hati putri saya terluka."


Sholihin bisa saja menembak mati pak Samsul saat ini juga, tapi ia tidak ingin menyalahkan peraturan, apa lagi anak buah pak Samsul masih melakukam perlawanan, ia tidak ingin membahayakan celient dan anggota polisinya juga. Sementara Gus Adnan sudah terlihat gusar, ia tidak menyangka keadaannya akan menjadi seperti ini, hati ia juga sangat cemas karena lagi-lagi kecolongan, seharusnya ia tadi menuruti apa kata Samuel, mungkin keadaanya tidak akan menjadi seperti ini, tapi ia juga tidak ingin orang lain terluka karena harus menolong istrinya. lima orang di depan mereka dan tiga ora di belakang mereka seketika membanting rekannya sendiri, dan mereka juga tentu menjatuhkan senjata api yang di gunakan, mereka juga kemudian mengunci pergelangan rekannya sendiri. Sholihin dan Gus Adnan termasuk yang lain sangat terkejut bukan main, mereka bertanya-tanya ada apa dengan mereka? Apa ini adalah siasat dari pak Samsul agar melabuhi lawan?


" Kami anak buahnya pak Mahendra."


" Kami adalah anak buahnya Rivaldi."


" Saya Wiliam, sahabat Samuel."


Mereka semua menujukan tanda pengenalnya. Sholihin masih waspada, ia memang mengetahui kalau tanda pengenal dari anak buah pak Mahenda, hanya saja ia tidak mengenal tanda pengenal dari Rivaldi, karena Rivaldi baru mengikuti tentang penangkapan. Kenzi langsung tersenyum saat melihat tanda pengenal itu, ia mengenal ke dua tanda pengenal itu, dan ia juga mengenal lelaki yang membuka topinya, yaitu Wilam, seorang dokter muda


" Iya, itu adalah tanda pengenal anak buah pak Mahendra dan pak Rivaldi, dan satunya adala Wilimam, dia seorang dokter."


Hanya saja Kenzi tidak mengerti, bukan'kah tadi ia melacak keberadaan pak Samsul yang melarikan diri? Tapi kenapa bahkan mereka sudah menyusup mejadi anak buah pak Samsul? Bahkan sampai dokter muda saja ikut dalam penyerangan, membuat ia sedikit bingung. Tidak lama Samuel datang bersama Rivaldi di belakangnya


Prok... Prok... Prok... Prok...


Samuel berjalan terus maju sambil bertepuk tangan, bahkan senyum smrk di wajahnya terlihat jelas, itu membuat Gus Adnan bingung, senyuman Samuel tidak seperti biasannya.


" Bagai mana pak tua? Apa anda sudah puas bermain-main?"


" Brengsek! Dasar anak ingusan!"


Wajah pak Samsul mejadi merah padam saat melihat siapa yang datang.


" Hahahaha...! Santai pak tua, saya hanya ingin bertanya bagai mana kejutan yang saya berikan apa sangat menyenangkan?"


Pak Samsul hanya diam, tatapannya mengkilat tajam.


" Anda dulu pernah mengancam saya agar tidak bermain-main dengan anda? Lalu apa yang akan anda lakukan setelah saya bermain-main dengan anda?"


Samuel bertanya masih dengan senyum smrknya, bukan hanya Gus Adnan yang di buat terkejut dengan ucapan Samuel, tapi Kenzi juga sedikit bingung dengan setiap kata yang Samuel ucapkan.

__ADS_1


" Seharusnya saya sudah membunuhmu saat kamu menolak putriku!"


" Iya saharusnya anda itu membunuh saya! Bukan membunuh Sapira, Gadis yang tidak tau apa-apa tentang permasalahan putrimu! Putrimu itu wanita gila! Yang selalu saja memaksa lelaki!"


" Brengsek! Berani sekali kamu mengatakan putriku wanita gila!"


Pak Samsul langsung mengambil pistol di bawah laci meja, ia langsung menodongkan pistolnya ke arah Gus Adnan yang memang paling dekat dari yang lainnya. Samuel sangat terkejut, karena ia bahkan masuk ke ruangan itu dengan tangan kosong. Dan Sholihin juga merasa kecolongan dengan perlakukan pak Samsul, ia mundur beberapa langkah, karena tidak ingin membahayakan Gus Adnan.


" Turunkan senjata kalian! Atau saya tembak dia di bagian jantungnya!"


Sholihin langsung memberi kode agar mereka menurunkan senjata mereka. Namen mereka di buat terkejut saat Gus Adnan juga ikut menodongkan pistol ke arah pak Samsul, kini mereka saling berhadapan satu lawan satu.


" Gus."


Samuel memanggilnya dengan lirih, pikirannya sudah kalut melihat kejadian ini, kalau saja yang di todongkan pistol ke arah ia, mungkin ia tidak sekuatir ini. Gus Adnan tidak menanggapi panggilan Samuel, ia langsung menarik pelan trigger pelatuk pistol di tangannya. Sholihin segera mengarahkan pistolnya, saat melihat pergerakan dari pak Samsul.


Dor..


Dor..


Samuel teriak sangat keras saat mendengar tembakan pistol dari pak Samsul pada Gus Adnan, ia melihat lengen kiri Gus Adnan yang mengeluarkan darah oleh tembakan itu, ia juga tidak tau timah itu hanya menggores saja, atau justru menembus lapisan kulit Gus Adnan. Satu hal yang harus di syukuri karena Gus Adnan sangat waspada dan langsung bergeser, kalau tidak mungkin saja timah panas itu mengenai dada kirinya.


" Saya tidak apa-apa Sam."


Gus Adnan sedikit terhuyung, Samuel dengan sigap menyangga Gus Adnan, kemudian memapah Gus Adnan untuk mencari tempat yang aman.


" Wliam! Ikut denganku!"


Samuel yang keluar dari ruangan itu ia berteriak memanggil Wiliam, karena Wiliam adalah seorang dokter, ia harus memastikan seberapa dalam luka yang di alami oleh Gus Adnan. Sementara timah Sholihin berhasil melumpuhkan pak Samsul, bahkan pak Samsul sampai mengerang ke sakitan, karena timah panas itu berhasil menembus kaki kirinya.


" Baik!"


Wilam mengikut Samuel yang memapah Gus Adnan, hingga mereka sampai di tempat yang aman

__ADS_1


" Gus Apa bisa mendengar suara saya?"


Tindakan itu Wiliam lakukan untuk menilai respon pasien, apakah pasen masuk dalam katagori, awas, suara, nyeri, atau tidak sadar, karena hal itu penting untuk mengambil tindakan selanjutnya.


" Bisa."


Kringat dingin terlihat di plipis Gus Adnan, tangannya juga terasa dingin, hal itu membuktikan kalau ia sedang menahan kesakitan. Mata Gus Adnan memejam, mencoba menahan kesadarannya, sensasi panas dan nyeri di langan kirinya sungguh luar biasa, sementara tangan kanannya ia gunakan untuk menekan bagian lukanya, mencoba memberhentikan pendarahan yang terjadi. Wilam langsung menekan leher Gus Adnan dengan ke dua jarinya, untuk mengecek denyut nadi karotisnya, hal itu di lakukan karena posisi denyut nadi karotis lebih dekat dengan jantung, di bandingkan dengan denyut nadi di pergelangan tangan.


" Maaf Gus, tahan sebentar."


Wiliam menurunkan tangan Gus Adnan yang sedang menekan lukanya, ia langsung mengecek seberapa dalam luka yang di dapat oleh Gus Adnan, seberapa parah pendarahan Gus Adnan dan memastikan apakah proyektilnya tertanam atau tidak.


" Proyoktilnya tidak tertanam Gus, tapi lukanya cukup lebar dan dalam."


Wiliam langsung membalut lukanya dengan sapu tangannya


" Sementara pendarahannya sudah teratasi kita harus segera ke rumah sakit untuk pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut."


Tidak lama Kenzi juga mendekati mereka, untuk menanyakan tentang Gus Adnan, tapi baru juga sampai, tiba-tiba ponsel Samuel bergetar


Dret... Dret...


Samuel langsung mengangkat telpon dari Sisil


" Sam, itu Suci Sam."


Samuel sedikit panik saat mendengar suara panik Sisil.


" Ada apa dengan Suci, Sil?"


" Tadi lokasi Suci berjalan, dan sekarang sudah menemukan lokasi Suci berhenti, aku dan Sella sekarang sedang ada di depan rumah itu sudah 8 menit yang lalu, rumahnya sepi, tapi lokasinya berhenti di sini Sam, aku harus bagai mana?"


" Diam di situ, jangan bertindak gegabah, aku akan kesana sekarang, tolong kamu segera kirim lokasinya."

__ADS_1


" Baik Sam."


__ADS_2