
Setelah sholat magrib Suci memutuskan untuk menemui Gus Adnan, karena tadi Gus Adnan menyuruhnya untuk ke sana.
Tok-tok
" Masuk!"
Suci yang mendengar sahutan dari dalam, ia langsung masuk
" Assalamulaikum Gus."
" Wa'alaikumsalam."
Di dalam hanya ada Gus Adnan yang sedang sibuk dengan buku-buku yang Suci tidak tau, isi buku itu apa. Gus Adnan langsung mengulurkan tangannya, membuat Suci mengerutkan keningnya bingung
" Salim!"
" Hah."
Suci bingung dengan permintaan dari Gus Adnan, tapi pada akhirnya ia juga mengikuti ucapan Gus Adnan, ia langsung mengambil tangan Gus Adnan lalu menempelkannya di pipi
" Apa harus begini kalau bertemu dewan santri?"
Suci bertanya dengan perasaan bingung, karena ia belum pernah pergi mengaji, dulu hanya ibunya yang mengajarinya untuk mengaji, tapi setelah lulus SMP, Suci tidak pernah mengaji lagi
" Tidak, kamu harus salim dengan saya saja! Sekarang kamu duduk."
Suci hanya menuruti ucapan Gus Adnan, ia langsung duduk. Setelah beberapa menit Gus Adnan hanya diam, ia pun langsung bertanya
" Gus, nggak sariawan'kan?"
Gus Adnan yang dari tadi fokus menatap buku, kini beralih menatap Suci dengan tatapan tajam
" Suci Almuhamaira, anak ke dua dari Gus Ali, adik dari Gus Ilham dan cucu dari kiai Habibi."
Seketika Suci membulatkan matanya saat Gus Adnan mengetahui semuanya
" Benarkan yang saya katakan?"
" Iy-iya Gus."
Suci menjadi gugup saat identitasnya di ketahui
" Sampai kapan kamu mau berulah?"
" Uci tidak akan berulah kalau misalnya Uci tidak di usik."
Suci pikir Gus Adnan akan membahas masalahnya dengan ustazah Sarah
" Suci, saat kamu berpacaran, itu sama saja kamu menjerumuskan orang tua kamu ke neraka. Sebagai seorang wanita harus bisa menjaga kehormatannya, berpelukan dengan lelaki yang bukan makhrom, sama saja dengan menjatuhkan harga diri kamu sendiri!"
__ADS_1
Suci di buat tercengang dengan ucapan Gus Adnan, ia pikir akan membahas tentang ustazah Sarah, tapi ternyata Gus Adnan membahas tentang masalah pacaran
" Hah?!"
Hanya kalimat itu yang Keluar dari mulut Suci. Gus Adnan bingung melihat ekspresi Suci
" Kenapa terkejut?!"
" Uci pikir Gus mau bahas tentang ustazah Sarah, tapi kalau mau bahas tentang pacaran, itu hak Uci, lagian Uci nggak pernah macam-macam."
Setelah mengatakan itu Suci berbicara lagi dengan sangat pelan, tapi masih bisa di dengar oleh Gus Adnan
" Bagai mana mau macem-macam kalau Reyhan saja tidak mau aku ajak macam-macam."
" Apa kamu bilang?!"
" Mmmm... Itu Gus."
Suci tidak melanjutkan kalimatnya lagi, ia hanya sedikit kesal dengan Gus Adnan
" Huh, dasar tuh telinga benar-benar di pasang, hingga kata-kataku terdengar." batin Suci
Gus Adnan menghela nafas berat saat mendengar ucapan Suci, tidak heran kalau Suci begitu mencintai Reyhan, karena Reyhan tidak melakukannya dengan berlebihan
" Apa tujuanmu menutupi identitas itu agar kamu bisa bertindak sesuka hati?!"
" Uci tidak ingin menyeret keluarga ayah, Uci tidak ingin membuat kakek malu dengan kelakuan Uci."
" Kalau kamu tidak ingin membuat ke dua orang tua kamu malu dan kakemu malu, seharusnya kamu berlakulah seperti santri lainya."
Suci hanya bisa menghela nafas berat saat mendengar ucapan dari Gus Adnan, ia tidak bisa berkata-kata, karena ucapan Gus Adnan memang benar, lalu ia langsung mengalihkan pembicaranya
" Sudah selsaikan permasalahannya?"
" Belum."
" Lalu apa lagi yang Gus inginkan?"
" Saya minta kamu tinggalkan pacar kamu."
" Apa! Telinga Uci nggak salah dengarkan?!"
" Iya saya minta kamu tinggalkan pacar kamu."
" Nggak Gus! Uci tidak bisa meninggalkannya, hanya Reyhan yang berhak untuk mengatur Uci tentang hubungan Uci dengannya, hanya dia yang bisa memutuskan Uci, kalau Reyhan tidak memutuskannya, sampai kapanpun dan bahkan restu orang tua tidak di dapat, Uci akan teteap bersama Reyhan!"
Gus Adnan menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskanya perlahan, ia mencoba meredamkan amarahnya
" Suci, tapi kamu tidak boleh berpacaran! Ini memang keputusan pesantren, kalau kamu masih kekeh ingin pacaran, artinya kamu masuk pesantren ini tidak dengan niat baik!"
__ADS_1
" Uci memang masuk pesantren ini karena paksaan ayah, tapi yang membuat Uci yakin masuk pesantren ini adalah karena Reyhan. Reyhan menyuruh Uci untuk mengikuti kata orang tua."
" Suci, seharusnya kamu berlaku layaknya seperti namamu, jangan membuat ulah dan keributan. Bersikap baik dan mengikuti ajaran Allah. Apa kamu tidak malu dengan namamu Suci?!"
" Sifat Uci tidak ada kaitanya dengan nama Gus!"
" Baik, tapi saya minta kamu jangan berulah! Atau kamu mendapatkan hukuman dari saya langsung!"
" Terserah! Uci sudah lelah dengan aturan pesantren."
Suci menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan kasar, ia memang sudah lelah dengan aturan pesantren, terutama masalah tadi siang dengan keluarganya, otaknya sudah hampir meledak, dan sekarang di tambah lagi dengan Gus Adnan yang menyuruhnya untuk memutuskan hubungannya dengan Reyhan
" Suci, kalau sudah ada yang halal, kenapa kamu harus menentang dan mengambil yang haram?"
Suci mengerutkan keningnya sambil berpikir, karena tidak mengerti maksud dari pembicaraan Gus Adnan
" Maksud Gus Adnan apa sih? Kapan aku memakan makanan yang haram, atau meminum minuman yang haram, walau pun aku nakal, tapi aku bukan wanita seperti itu." batin Suci
Setelah lama berpikir, Suci langsung mejawab pertanyaan dari Gus Adnan
" Gus, walau pun Uci bandel, Uci masih tau batasan, Uci tidak pernah meminum alkohol atau pun makan makana haram, hanya saja Uci kecanduan."
Suci menghentikan ucapanya, itu membuat Gus Adnan membulatkan matanya
" Kecanduan apa Suci?! Kamu jangan melakukan yang nggak-nggak!"
" Hahaha! Uci hanya kecanduan Reyhan, semua yang ada di tubuh Reyhan membuat Uci kecanduan."
Suci tertawa sambil berbicara, wajahnya sangat tetlihat ceriah saat mengatakan Reyhan. Gus Adnan sangat marah saat mendengar jawaban dari Suci
" Apa yang kamu lakukan dengannya?!
" Sudah Uci bilang kalau kita hanya berpelukan, bahkan Uci minta cium saja tidak boleh!"
Suci yang sadar dengan jawabannya yang jujur, membuat ia menutup mulutnya. Malu, itulah yang Suci rasakan sekarang
" Ah, nie mulut kenapa bilang jujur, yang ada nanti Gus Adnan mengira aku wanita murahan." batin Suci
" Uci memang hanya memiliki satu pacar Gus, Reyhan adalah pacar pertama dan terakhir Uci. Uci memang belum melakukan apapun selain berpelukan, sungguh."
Suci mengatakan sungguh dengan mengangkat tanganya yang membentuk hurup V
" Dia mungkin pacar pertama dan terakhirmu, tapi saya adalah suamimu yang sudah sah menikahimu." batin Gus Adnan
Gus Adnan bersyukur karena Suci masih bisa menjaga harga dirinya, tapi kalau pun Suci tidak bisa sesuci seperti namanya, Gus Adnan akan tetap menerima Suci dengan baik, bukan karena sebuah perjodohan, tapi di saat ia menerima untuk menikainya, di situ ia sudah siap dengan resiko yang ia ambil dan sekarang ia juga mencoba merubah Suci ke jalan yang benar
" Baik saya percaya, kamu bisa kembali ke asrama, tapi ingat kalau kamu dalam pengawasan saya, jadi berhenti berbuat ulah kalau kamu tidak ingin mempermalukan keluargamu."
" Iya Gus!"
__ADS_1
Suci langsung pergi dari sana dengan perasaan marah