
Tadi setelah kepergian Indra, ke dua mertuanya juga datang, mereka berdua menyemangati Suci untuk tetap tegar. Suci sangat senang saat ke dua mertuanya itu datang, tapi tidak dengan hati kecilnya karena tidak bisa melihat suaminya, kata mereka suaminya sedang ke jakarta untuk mendapatkan bukti-bukti pak Samsul. Setelah itu sorenya Suci di introgasi, ia tidak pernah terbayangkan dalam hidupnya ada introgasi semacam itu. Suci tidak mengaku bersalah, tapi yang mengitrogasinya lagi-lagi menyiramnya, itu membuat Suci sedikit tidak enak badan, dari tadi ia mondar-mandir karena muntah, terlebih makanan di pejara juga menurut ia sudah tidak layak di komsimsi, nasinya sudah keras dan lauk hanya dua potong tempe. Seumur hidup Suci belum pernah memakan seperti itu, itu membuat Suci merasa seperti penderitaannya itu belum cukup untuknya, tapi ia sama sekali tidak mengeluh, bahkan ia menganggap itu adalah pelajaran di masa lalu yang selalu seenaknya memukul orang atau tawuran. Setelah berkali-kali Suci muntah, ia langsung meringkuk di pojokan sel sambil berzikir dengan tasbih yang di berikan oleh suaminya, lantainya begitu terasa dingin dan tidak ada karpet atau pun bantal sama sekali, bahkan menurut Suci lebih baik jadi gembel dari pada jadi tahanan, jadi gembel masih ada dus untuk menghangatkan tubuhnya, tapi di sel tidak ada apapun. Setelah selesai zikir Suci memutuskan untuk memanggil petugas sipir yang sedang bermain kartu, ia sangat bosan terus berdiam, walau pun muka-muka petugas sipir sangat menyeramkan, tapi bagi ia biasa saja.
" Hey! Pak tua sini dong!"
Salah satu petugas sipir yang bernma Yono mendekati Suci
" Ada apa teriak-teriak?!"
" Uci bosen pak."
Petugas sipir itu hanya mengerutkan dahinya bingung, ia baru kali ini ada tahanan yang ngomong bosan? Petugas sipir juga tidak bodoh karena di sini adalah tahanan, bukan hiburan.
" Terus kamu mau apa?! Jangan harap mau bebas!"
" Santai dong pak! Enggak usah marah-marah, yang ada nanti bapak asam uratnya kambuh terus mati, nambah-nambahin tugas malaikat izrail saja!"
" Terus maunya apa?!"
" Ikut main dong pak."
" Main kartu remi?"
" Iya iyalah, bapak itu lagi main kartu remi terus saya ikut, emangnya di kira saya mau ikut main apa lagi? Orang bapak saja sedang main kartu remi!"
Pak Yono menatap Suci tidak percaya, bagai mana pun juga Suci memakai baju tahanan panjang dan memakai hijab, bisa-bisanya Suci meminta untuk ikut main remi.
" Enggak bisa! Kamu itu tahanan! Masa ikut gabung sama sipir!"
" Bilang saja takut kalah sama Uci?!"
" Saya bukan takut kalau kamu bisa ngalahin kita-kita di sini, tapi saya takut kamu kabur nanti."
" Iya Elah pak, kalau saya niat kabur saat di kepung oleh polisi waktu di gedung juga saya bisa untuk kabur pak, karena mereka tidak ada apa-apanya buat saya, tapi saya enggak mau kalau nanti polisi memojokan saya dan saya di bilang buronan. Ayo lah pak bolehin Uci ikut main."
Petugas sipir berpikir sejenak, terlebih saat mendengar penjelasan Suci, ia sedikit takut, walau pun di dalam sel itu adalah seorang wanita muda dan cantik, memakai hijab, tapi tidak bisa di bohongi, kalau aura Suci sangat menyeramkan, dari awal masuk jeruji besi, ia tidak melihat Suci meneteskan air mata, atau sekedar menyesal dengan perbuatannya, ia tidak menemukan itu semua di diri Suci.
" Ayolah pak, jangan kelamaan mikir, Uci enggak akan kabur."
__ADS_1
Setelah lama berpikir, petugas sipir itu membuka pintu sel. Suci langsung keluar dengan senyum bahagia, ia mendekati mereka yang sedang bermain remi dan memulainya permainan itu bersama ke tiga sipir lainnya, tapi Suci juga mengajukan persyaratan kalau yang kalah harus menuruti yang menang, mereka semua juga setuju dengan ucapan Suci. Suci memenangkan permainanya berkali-kali, membuat ia senang.
" Itu Uci menang lagi! Makannya jangan meremehin Uci!"
Suci tertawa sambil mencoret-coret wajah ke tiga petugas sipir, entah kenapa ia melupakan beban berat yang menimpanya hari ini, saat di ruang introgasi.
" Aduh pak sipirku yang sangar, ko sekarang jadi lucu iya?"
Suci lagi-lagi tertawa, saat melihat karya indah di wajah ke tiga petugas sipir karena ulahnya. Sedangkan ke tiga petugas sipir itu hanya menatap tajam pada Suci, tapi Suci tidak peduli, lagian hanya tatapan tajam dari orang lain, bukan dari suaminya.
" Jangan lupa iya yang kalah harus menuruti yang menang! Itu sesuai perjanjian!"
Salah satu sipir yang bernama pak Dani itu langsung bertanya pada Suci
" Memangnya kamu mau apa Suci?"
" Uci mau bantal, selimut, cemilan, coklat, dan makannan yang enak pak, habis makanan di sini bikin Uci mual, tadi Uci muntah-muntah."
Awalnya pak Yono mau bilang kurang ajar, karena permintaan Suci yang terlalu banyak, tapi saat mendengar Suci muntah-muntah, ia merasa iba
" Kamu mau sekalian saya beliin obat untuk masuk angin enggak?"
" Baiklah kamu ngobrol-ngobrol saja sama pak Dani dan pak Supri, saya mau beli kebutuhan kamu dulu, oh iya cemilannya mau apa?"
" Kripik singkong."
" Baiklah."
Pak Yono langsung pergi membeli sesuatu yang di minta Suci, sedangkan kini di sana hanya tersisa dua sipir.
" Kenapa kalian mau jadi sipir pak? Kalau tahanannya ada yang beringas, kalian yang mejadi santapan mereka."
" Itu sudah resiko, kami juga butuh uang untuk melajutkan hidup."
Suci mengangguk saat mendengar jawaban dari pak Supri.
" Kalian mau enggak kerja sama ayah Uci?"
__ADS_1
" Kerja apaan Suci?"
" Kerja jagain dan ajak main si Meri, si Parta dan si Alan."
" Mereka adik-adik kamu?"
Suci yang mendengar pertanyaan dari pak Supri, ia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
" Mereka adalah satu keluarga, kalau si Meri ibunya, kalau si Parta, ayahnya, kalau si Alan, anaknya."
" Iya saya juga mau Uci kalau kerjaannya cuma jagain doang gitu, emang mereka kenapa? Apa mentalnya terganggu?"
" Sembarangan bapak kalau ngomong!"
" Iya terus kenapa mesti di jagain dan di ajak main?"
" Karena mereka harimau peliharaan ayah, ayah Uci itu."
Suci belum selsai bicara, pak Supri langsung berteriak.
" Suci...! Yang ada kita yang di terkam oleh mereka!"
" Baik ko pak mereka, tapi iya kalau muka bapak sangar begitu, paling juga beberapa menit sudah di mangsa. Hahaha...!"
Suci tertawa saat melihat ekspresi ke dua petugas sipir itu. Tidak lama pak Yono membawa kantong plastik yang di minta Suci, ia langsung menyerahkannya pada Suci
" Ini Suci, semuanya sudah kumplit, saya juga sudah beliin obat untuk masuk angin, sana deh masuk ke sel, saya mau ambil bantal sama selimut."
Suci mengambil kantong plastik yang di berikan pak Yono sambil tersenyum.
" Terima kasih pak, bapak memang yang terbaik deh."
Suci mengacungkan ke dua jempol pada pak Yono, lalu ia langsung masuk lagi ke sel. Pak Yono memberikan bantal dan selimut.
" Ini Suci."
Suci langsung mengambil selumut dan bantal
__ADS_1
" Terima kasih pak."
" Iya sama-sama Suci."