Cinta Suci

Cinta Suci
BAB. 56 Acara Repsepsi pernikahan


__ADS_3

Pagi harinya orang tua Suci sudah ada di sana termasuk Gus Ilham, karena hari ini akan di adakan repsepsi pernikahan Suci dan Gus Adnan. Setelah selsai di olesi make up Suci menatap dirinya di cermin


" A...!"


" Uci apa yang kamu lakukan nak?"


Khodijah sangat bingung dengan suara Suci yang menggema di ruangan rias


" Bunda nggak liat wajah Uci? Bukan terlihat cantik tapi yang ada terlihat seperti Gadis lebih tua dari seumuran Uci. Uci nggak mau seperti ini."


Suci langsung menghapus make upnya sendiri pakai cairan penghapus bedak, lalu setelah bersih di keringkan pakai tisu. Sedangkan yang mendandani Suci hanya bisa menghela nafas berat, seumur-umur ia belum pernah mendapat pengantin wanita yang menghapus make upnya, tapi berbeda dengan Suci yang asal menghapus saja.


" Biar saya saja yang memakai make up sendiri."


" Baik ning."


Suci langsung memakai make up dengan telaten, sedangkan Gus Ilham dan Khodijah hanya menggeleng-gelengkan kepalanya


" Bun, Ilham keluar dulu."


" Iya Ham."


Gus Ilham langsung keluar dari kamar rias, karena istrinya memang di luar, ia hanya ingin melihat Suci, ia takut bikin masalah lagi, bagi Gus Ilham memang Suci itu tidak pernah tenang selalu bikin keributan, seperti sekarang ia tidak suka hasil riasnya. Suci selsai merias wajahnya, bahkan tukang make upnya saja melihatnya tidak berkedip, hasil make up Suci memang sangat cantik, memang sangat natural, tapi karena ia cantik jadi saat di make up jauh lebih cantik. Umi Mariyam masuk ke dalam kamar rias, ia tersenyum saat melihat Suci yang begitu sangat cantik


" Masa Allah putri umi cantik sekali."


" Umi, Gus Adnan mana, aduh Uci nggak bisa jauh-jauh dari Gus Adnan."


Tanpa malu-malu Suci mengakui kalau ia tidak bisa jauh-jauh dari Gus Adnan, jelas-jelas ia di kamar rias itu baru saja 1 jam, tapi rasa rindunya itu sudah menggebu-gebu


" Ih Uci, heran deh bunda sama kamu, nggak ada malu-malunya."

__ADS_1


Khodijah memang sangat heran sama putrinya itu, putrinya berbeda dengan putranya, semua sifatnya selalu saja bertolak belakang.


" Ngapain malu, lagian juga Gus Adnan suami Uci."


Umi Mariyam tersenyum bahagia, walau pun Suci terkesan blak-blakan, tapi ia bahkan lebih suka dari pada yang suka malu-malu tapi mau.


" Sampai kapan mau panggil Gus, nak? Kalian itu sudah menikah, jadi panggilnya harus mas."


" Mas?"


" Iya nak."


Suci menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ia merasa sangat aneh dengan panggilannya itu. Sudah 20 menit Suci selsai make up, tapi Gus Adnan masih saja belum terlihat


" Lama banget sih acaranya nggak di mulai di mulai, aku nggak betah lagi. Gus Adnan juga nggak keliatan-keliatan lagi."


Suci menggerutu sendiri, ia memang tidak betah dengan gaun yang di kenakannya


Suara decitan pintu membuat Suci menoleh ke arah samping, ia melihat Gus Adnan berdiri di sana, penampilan Gus Adnan yang berbeda membuat Suci tidak berkedip


" Aduh suamiku tampan banget!"


Suci teriak heboh, membuat Khadijah dan Umi Mariyam menggeleng-gelengkan kepalanya, sedangkan perias make up tadi hanya menahan tawa, ia seumur-umur merias pengantin baru sekarang mendapatkan pengantin yang sangat unik menurutnya. Gus Adnan juga sama seperti Suci, ia sangat terpesona dengan penampilan Suci, ternyata gaun yang ia pilihkan sangat cocok di tubuh istrinya. Gus Adnan langsung menghampiri Suci, ia langsung memegang dagu Suci, ia langsung membacakan do'a, setelah selsai ia langsung mencium kening Suci sangat lama, bahkan setetes air matanya jatuh di pipi, rasa suyukur ia begitu besar pada sang maha pencipta. Semua tidak akan seindah ini jika tanpa ridho dan karunianya.


" Uci memang belum bisa mejadi muslimah yang baik, tapi Uci akan selalu belajar mejadi istri yang baik untuk mas."


Gus Adnan sangat terkejut saat Suci memanggilnya dengan panggilan mas


" Coba ulangi."


" Mas Adnan."

__ADS_1


Gus Adnan tersenyum saat mendengar Suci memangulanginya lagi, lalu ia langsung mengajak keluar


" Ayo keluar."


" Iya mas."


Gus Adnan dan Suci berjalan pelan menuju pelaminan, lantunan sholawat Thola'al Badru dan tabuhan marawis mengiringi langkah mereka, semua pasang mata menatap ke arah mereka, seperti sepasang raja dan ratu yang akan duduk ke persinggahan. Ribuan tamu undangan dan juga para santri ikut dalam kebahagiaan keduanya, do'a dan harapan turut menyertai mereka. Setelah beristirahat, Gus Ali menghampiri putrinya dan Gus Adnan dengan raut wajah bahagia dan sedih. Gus Ali kini langsung memeluk Gus Adnan, tangannya menrpuk-nepuk bahu Gus Adnan


" Nak, ayah tidak akan meminta sedikit pun harta yang kamu miliki, ayah tidak akan meminta gelar apapun yang kamu miliki, ayah hanya minta tolong jaga putri ayah, bahagiakan putri ayah, dan jangan pernah biarkan ada setetes pun air mata di wajahnya. Ayah percaya kamu nak. Ayah percaya bahwa kamu bisa mengarahkan Suci ke jalan yang di ridhoi Allah. Tolong jadikan putri ayah satu-satunya bidadarimu di dunia dan di akhirat."


Kesedihan terbesar seorang ayah adalah saat memberikan tanggung jawab putrinya pada lelaki lain. Seorang ayah memang akan terlihat tegar, tapi tidak dengan hatinya, karena lelaki selalu menyembunyikan kesedihannya.


" Uci."


" Iya Ayah."


Gus Ali langsung memeluk putrinya erat, setelah itu ia langsung mengecup kening putrinya cukup lama, ia menatap putrinya dengan tatapan hangat


" Tanggung jawab Ayah sudah berahir saat Adnan mengucapkan akad atas namamu nak. Sekarang baktimu pada suamimu nak. Jadilah istri yang berbakti dan selalu menjaga kehormatan suamimu, semoga rumah tangga kalian selalu ada dalam ridho Allah."


Suci langsung memeluk Ayahnya erat sambil menangis


" Maafkan Uci, karena belum bisa membahagiakan Ayah. Maaf karena Uci selalu membuat hati ayah terluka, maaf karena Uci belum bisa berbakti pada ayah. Terima kasih sudah mendidik Uci, membahagiakan Uci, selalu melindungi Uci dan menyerahkan Uci pada orang yang tepat. Uci sayang Ayah sampai kapanpun, Ayah adalah cinta pertama Uci."


Gus Ali melepaskan pelukan mereka, lalu langsung mengusap air mata putrinya, ia mengecup kening putrinya sekali lagi. Putri kecil yang 19 tahun lalu ia sambut dengan suka cita, kini harus ia lepaskan pada lelaki yang Insya Allah bisa membawa kebahagiaan pada putrinya.


" Tidak pernah sekalipun Ayah terbebani dengan kehadiran kamu nak, membahagiakanmu adalah kewajiban ayah. Kamu adalah anugrah terindah yang sudah Allah titipkan pada kami, rasa sayang Ayah tidak akan berkurang sedikit pun."


Setelah mengatakan itu kini para tamu undangan masih terus berdatangan, Suci sudah sangat lelah dan capek, ia masih menunggu sabatnya yang masih saja belum kunjung datang. Bukan hanya ke tiga sahabatnya yang ia undang, tapi juga sahabat Reyhan pun ia undang. Bagai mana pun juga ia tetap bersahabat dengan sahabat Reyhan, sudah cukup kehilangan Reyhan, setidaknya ia tidak kehilangan tiga sahabatnya, bahkan ia juga meyuruh Sisil untuk membawa Samuel juga


" Temen-temenku masih saja belum datang, sudah capek, mana tamunya ribuan lagi, haduh sudah seperti pembisnis saja." batin Suci

__ADS_1


__ADS_2