
Suci terus saja mengis di Pelukan Gus Adnan, ia sudah sangat lelah, ia sudah berusah untuk mejadi lebih baik, tapi mereka selalu saja memandang sisi buruknya saja. Ustaz Darma dan ke tiga ustaz lainya langsung membubarkan para santri yang sedang menonton drama di pagi hari. Sementara Gus Ilham langsung memberikan kode pada Gus Adnan dengan tatapan matanya untuk segera membawa Suci pergi dari sana, ia tidak ingin Suci melakukan kekerasan, ia memang sudah mengetahui siapa Suci sekarang, Suci sekarang bukanlah Suci yang dulu, Suci yang dulu selalu lemah lembut, tapi Suci sekarang jauh berbeda, ia selalu saja membuat kekasaran, karena ia saat itu melihat Suci dengan ke tiga sahabatnya bertemu di kedai, Gus Ilham bertanya pada mereka tentang Suci, ternyata Suci memang sudah melangkah ke jalan yang salah sangat jauh, karena Suci selalu ikut tawuran, sedangkan sebab kematian Reyhan, ia sama sekali tidak tau menau karena Suci saat itu tawuran dengan orang yang lemah. Gus Adnan hanya menganggukan kepalanya, tanpa aba-aba Gus Adnan langsung mengangkat tubuh Suci, ia membiarkan Suci yang masih menangis di dadanya untuk ia bawa ke kamar. Sedangkan di sisi lain ustazah Marwah mengepalkan tangannya, saat melihat perlakuan Gus Adnan yang biasanya sangat dingin, tapi sekarang terlihat begitu hangat dan lembut terhadap Suci.
" Kenapa Gus Adnan harus mencitai perempuan seperti dia? Gus Adnan sangat sempurna, kenapa harus mencintai Gadis yang sering terkena khasus hampir setiap hari." batin Ustazah Marwah
Gus Adnan langsung mendudukan Suci di ranjang, matanya menatap mata Suci dengan intens. Perlahan Gus Adnan mengusap kepala Suci yang tertutup hijab
" Tenangkan dirimu."
Hanya itu yang Gus Adnan ucapkan. Gus Adnan tidak menasehati atau pun membela Suci, ia paham jika berbicara dengan orang yang emosi adalah bukan waktu yang tepat dan menasehati Suci di saat emosi tidak akan membuahkan hasil, ia yakin akan ada perdebatan panjang. Gus Adnan langsung keluar dari kamar yang Suci tempati, bahkan ia juga mengunci pintu kamar itu, entah apa yang ada di pikiran Gus Adnan, yang jelas pikiran Gus Adnan jauh berbeda dengan pikiran orang lain. Suci sangat terkejut karena ia di kurung oleh Gus Adnan
" Ih! Suami macam apa coba?! Istrinya lagi marah itu di bujuk atau di nasehati, kenapa jadi di kurung coba?!"
Suci menggerutu sendiri, kenapa Gus Adnan tidak pernah ada manis-manisnya sedikit pun, Gus Adnan selalu saja seenaknya. Suci menepuk-nepuk pintu dengan sangat kasar sambil berteriak
Bruk...Bruk...
" Gus buka Gus!
Bruk... Bruk...
"Gus Buka!"
Tidak ada jawaban sama sekali dari luar, itu membuat Suci bersandar di pintu, ia sangat emosi saat ini, hinaan mereka terus terngiang-ngiang, apakah ia seburuk itu di mata mereka?
" Mereka pikir mereka suci? Hingga terus saja mengusik hidupku? Lagian urusannya hidup gue dengan mereka apa coba? Kalau nggak ada Gus Adnan sudah aku buat babak belur mereka."
Suci masih saja menggerutu sendiri, ia sangat kesal dengan orang-orang yang hanya melihatnya sebelah mata, bahkan perubahan ia selama tiga bulan lebih tidak pernah terlihat oleh merka, yang hanya mereka lihat adalah keburukan dan keburukannya. Suci mengingat ucapan Gus Adnan, tenangkan dirimu, seakan itu adalah senjata untuk menahan egonya sendiri, tanpa Suci sadari kini emosinya sudah memudar dan pikirannya jauh lebih tenang. Setelah lelah Suci duduk di lantai sambil bersandar di pintu, kini ia membaringkan tubuhnya di atas ranjang, ia merasa perutnya sudah sangat lapar, tapi Gus Adnan masih saja mengunci pintunya.
__ADS_1
Cklek....
Pintu itu terbuka lebar menampilkan sosok Gus Adnan yang sambil membawa nampan. Suci langsung duduk saat melihat Gus Adnan
" Makan dulu!"
Gus Adnan langsung meletakan nampan di meja, lalu langsung mengambil meja lipat, ia meletakannya di atas kasur, baru nampan itu ia letakan di meja lipat
" Gus nggak mau nyuapin Uci?"
" Allah menciptakan tangan untukmu dengan sempurna!"
" Sekali muka tembok tetap saja muka tembok!" batin Suci
Suci tidak berbicara lagi, ia langsung makan, ia juga tidak bertanya pada Gus Adnan sudah makan atau belum, karena sangat kesal pada Gus Adnan. Setelah selsai Gus Adnan langsung meletakan nampan itu di meja samping ranjang, setelah itu langsung melipat lagi meja lipatnya, setelah ia letakan, sekarang Gus Adnan duduk di samping ranjang
" Saya paham kamu marah, saya mengerti bagai mana perasaan kamu, tapi saya juga tidak akan membenarkan tindakan yang sudah kamu lakukan. Uci, kamu punya saya, saya tidak akan pernah meninggalkan kamu sendiri. Jangan pernah kamu bertindak sendiri, berbagilah dengan saya, saya itu suami kamu, kita hadapi semua masalah itu bersama."
" Saya tidak ridho istri saya di rendahkan. Jika di tanya apakah saya marah? Jelas jawabannya saya sangat marah, tapi saya tidak ingin amarah menguasai diri saya, begitu pun dengan istri saya. Saya tidak mau kalau kamu di kuasai dengan amarah. Uci, mari kita buktikan jika kamu tidak seburuk yang mereka pikirkan, kita buktikan pada mereka jika pernikahan kita atas ridho Allah. Saya mencintai kamu karena Allah, bagi saya hanya seorang Suci Almuhamaira yang pantas saya perjuangkan."
Suci tidak bisa menahan air matanya, setiap kata yang di ucapkan oleh Gus Adnan seakan seperti memiliki nyawa, ucapanya yang tegas itu membuat ia yakin kalau itu bukan bualan semata.
" Uci tidak seburuk yang mereka pikirkan kan Gus?"
Suci bertanya dengan lirih.
" Kamu itu sangat sempurna Uci, sama sekali tidak ada yang kurang. Serahkan semuanya pada Allah. Allah tidak akan menguji kita di luar batas kemampuan kita."
__ADS_1
" Apa Gus dosen piskologi iya?"
Gus Adnan tidak mengerti, kenapa Suci tiba-tiba bertanya tentang itu
" Saya sebagai dosen matematika bagian statistik dan analisis."
Suci tercengang saat mendengar jawaban dari suaminya, ia pikir suaminya akan mejadi dosen bahasa arab.
" Benar Gus?"
" Iya, Uci."
Gus Adnan langsung menghapus sisa air mata Suci
" Jangan menangis, air mata kamu itu sangat berharga."
Suci hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, ia tidak percaya kenapa ucapan Gus Adnan sama persis seperti ucapan Reyhan, hingga akhirnya ia mengingat Reyhan kembali sambil meneteskan air mata lagi. Gus Adnan bingung kenapa Suci menangis lagi
" Apa ada kata-kata saya yang salah?"
Suci hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu ia langsung membaringkan tubuhnya dengan kepala di pangkuan Gus Adnan sambil nyembunyikan kepalanya di perut Gus Adnan, dan tangannya yang melingkar di perut Gus Adnan
" Biarkan Uci seperti ini sebentar Gus, Uci ingin tidur, Uci sangat ngantuk."
" Baiklah, kamu tidur sekarang."
Gus Adnan mengelus pelan kepala Suci sambil membaca ayat suci Al-Qur'an
__ADS_1
" Suci, saya akan berusaha mejagamu semampu saya, saya tidak akan membiarkan kamu menanggung penderitaanmu sendiri." batin Gus Adnan
Gus Adnan menatap wajah Suci yang terlihat sedikit karena kepala Suci yang di sembunyikan di perutnya, ia merasa sangat bahagia saat melihat wajah polosnya