Cinta Suci

Cinta Suci
BAB. 60 Tamu tidak di undang


__ADS_3

Suci dan Gus Adnan sudah menempati rumah barunya sekitar 1 bulan lamanya, tidak ada pertengkaran di rumah tangga mereka, hanya saja Gus Adnan masih sama, masih bersikap datar dan memanggil dirinya saya, tidak ada yang berubah di setiap kata Gus Adnan, tidak ada kata romantis, tapi yang jelas Gus Adnan memang mencintai Suci dengan tulus. Pagi ini Gus Adnan dan Suci di minta untuk datang ke rumah Abinya, katanya ada tamu yang ingin bertemu dengan mereka berdua.


" Assalammualaikum."


Gus Adnan dan Suci langsung uluk salam bersamaan.


" Wa'alaikumsalam."


Umi Mariyam membukakan pintu dan menyuruh untuk mereka masuk. Gus Adnan dan Suci langsung masuk ke dalam, mereka langsung mengetahui siapa tamunya yaitu Ustazah Marwah dan seorang bapak-bapak, mereka yakin kalau itu adalah orang tuanya. Suci sedikit bingung, ada perlu apa Ustazah Marwa datang untuk menemui dirinya dan suaminya? Jika Ustazah Marwah ingin pindah ke pesantren, seharusnya bilang ke kakenya, kenapa nyasar ke pesantren lain? Lagi pula Gus Adnan juga sudah tidak menjabat sebagai ketua dewan santri di pesantren kakenya.


" Ustazah Marwah mau apa kesini?"


Suci seperti bisanya berbicara tidak sopan


" Emm, saya."


Ustazah Marwah menghentikan ucapannya. Gus Adnan langsung menggenggam erat tangan istrinya, ia memberi kode agar istrinya itu diam, dan biar mereka yang menyampaikan maksud kedatanganya.


" Ko Uci punya firasat buruk iya mas."


Suci berbisik ke telinga suaminya yang masih di dengar oleh yang lainnya.


" Makannya banyak istighfar."


" Tapi firasat Uci itu selalu benar mas, Uci kan anak indihome."


Gus Adnan sebenaranya sudah ingin tertawa, mendengar ucapan ngaco istrinya, memang istrinya itu wajib di ruqiyah, siapa tau sifat pecicilannya itu bisa berkurang.

__ADS_1


" Diam dulu iya sayang."


Suci di buat melayang dengan panggilan sayang dari suaminya, karena suaminya itu tidak pernah romantis sedikit pun dan selalu kaku.


" Iya mas sayang."


Suci langsung diam, ia duduk tenang layaknya putri keraton. Umi Aisyah dan Abi juga tidak bisa menahan senyumnya, menantu mereka memang luar biasa, luar biasa memalukannya.


" Jadi ada apa iya pak? Maaf sudah menunggu kami lama."


Gus Adnan langsung bertanya pada pak Husen. Pak Husen yang merupakan ayah dari Ustazah Marwah langsung angkat bicara


" Jadi begini pak kiai, bu nyai dan Gus Adnan. Gus Adnan pasti sudah mengenal putri saya Marwa, Marwah ini salah satu pengajar di pesantren yang sama dengan Gus Adnan. Marwah juga menjadi kepercayaan di sana."


Suci menyeritkan keningnya, ia tidak suka dengan ucapan pak Husen, yang terkesan menyombongkan status anaknya.


Entah mengapa Gus Adnan merasa teringgung, walau pun ia tidak tau maksud dari ucapan pak Husen, tapi ucapan pak Husen tidak sejalan dengan pemahamannya.


" Tolong jangan bertele-tele pak, langsung pada intinya saja."


Gus Adnan mulai sedikit kesal dengan pak Husen yang tidak berbicara langsung pada intinya saja. Pak Husen langsung membenarkan duduknya


" Jadi begini nak Adnan, saya selaku walinya Marwah ingin melamar nak Adnan, agar mejadikan Marwah mejadi istri ke dua nak Adnan. Marwah sudah lama menyimpan rasa pada nak Adnan, dan itu jelas akan mejadi dosa jika di biarkan. Saya bisa jamin kalau putri saya ini akan menjadi istri yang sholehah, rekam jejaknya sudah tidak bisa di ragukan lagi. Marwah tidak akan mejadi aib keluarga, dari status juga tentu lebih cocok jika nak Adnan bersama Marwah, dan kebetulan saya juga seorang ustaz di desa."


Suci langsung menatap tajam pak Husen, bisa-bisanya pak Husen melamar suaminya, apa lagi sampai merendahkan dirinya secara tidak langsung, tidak tau kah pak Husen jika ia juga seorang ning? Suci sudah gatal ingin menghajar pak Husan dan termasuk Ustazah Marwah juga, ternyata Ustazah Marwah itu tidak sebaik pikirannya, sayangnya Gus Adnan semakin mengeratkan pegangan tangannya agar tetap diam.


" Saya rasa juga nak Suci setuju dengan ucapan saya, apa lagi jaminannya adalah surga. Nak Suci bisa belajar mejadi muslimah yang baik pada Marwah, jika nanti Marwah jadi madunya nak Suci. Marwah juga bisa membantu nak Suci untuk melayani nak Adnan."

__ADS_1


Tidak ada respon apa pun dari Gus Adnan, ia membiarkan pak Husen untuk menyampaikan isi hatinya, sedangkan umi Mariyam dan Abinya sangat terkejut dengan ucapan pak Husen.


" Bagai mana nak Adnan, kamu mau kan mejadi suami dari putri saya?"


Gus Adnan belum juga berbicara, tapi Suci langsung melepaskan genggaman tangan Gus Adnan, ia langsung berdiri dan sambil berkacak pinggang.


" Saya menolak! Hei pak tua! Anda punya otak nggak sih?! Enggak tau mau malu banget! Sampai mati pun saya nggak akan mau di poligami! Enak saja anda mengambil kesimpulan kalau saya setuju suami saya menikahi Ustazah Marwah! Jangan pernah bermimpi! Dan buat Anda Ustazah Marwah! Saya pikir anda itu wanita alim dan wanita baik, ternyata anda itu munafik! Anda tidak punya malu apa bagai mana?! Bisa-bisanya anda melamar suami saya, itu cinta atau ambisi hah?!"


" Saya sudah mengenal Gus Adnan lebih dulu, apa saya salah untuk memperjuangkan cinta saya?"


Seperti biasanya Ustazah Marwah selalu berbicara dengan lemah lembut. Gus Adnan langsung menarik tangan kanan Suci yang sedang berkacak pinggang dengan lembut, ia tidak ingin kalau istrinya di kuasai dengan amarah, ia takut sifat bar-bar istrinya itu muncul


" Uci, duduk dulu iya, biar saya yang berbicara dengan mereka."


" Mas diam saja, ini urusan perempuan."


Suci menepes tangan suaminya, ia langsung berkacak pinggang lagi


" Jelas sangat salah! Karena cinta itu tidak bisa di paksakan! Mas Adnan itu milik saya! Dan kamu tidak berhak secuilpun atas dirinya!"


" Saya lebih baik dari pada kamu Suci!"


Suci berusaha untuk menahan emosinya yang sudah meledak-ledak, sebenarnya ia sudah ingin mencincang wanita yang belaga so alim itu, tapi mengingat sekarang ia sedang di rumah mertuanya, ia tidak ingin di cap menantu tidak punya ahlak.


" Kamu bilang baik?! Apa seperti ini yang di bilang baik?! Penampilan kamu memang sangat baik, tapi hati kamu buruk! Kamu iri kan sama saya?! Itu membuktikan kalau saya lebih baik dari kamu!"


Umi Mariyam mengusap lembut punggung Suci, ia paham kalau Suci sangat marah, semua wanita pasti tidak akan ridho kalau suaminya berpoligami, termasuk ia, ia juga kalau di posisi Suci pasti akan sangat marah, tapi bedanya Suci bersikap selalu kasar dan bar-bar, sedangkan ia dari dulu hingga sekarang selalu bersikap lembut. Pak Husen langsung menyindir kelakuan Suci

__ADS_1


" Lihatlah nak Adnan, istri kamu sangatlah buruk, bahasanya juga sangat kasar, sangat tidak mencerminakan jika dia seorang ning. Muslimah yang baik itu selalu mejaga perbuatan dan ucapannya, tapi istri kamu bahkan tidak bisa menjaga nama baik suaminya sendiri."


__ADS_2