Cinta Suci

Cinta Suci
BAB. 40 Penyebab kematin Rey


__ADS_3

Gus Adnan berkali-kali menghela nafas saat tangisan Suci mejadi semakin terisak dan terus menyalahkan diri sendiri, ia tidak tau kenapa Suci menyalahkan dirinya sendiri atas meninggalnya Reyhan, tapi ia hanya bisa menasehati Suci, walau pun Suci anggapnya angin lalu. Suci berjam-jam di pemakaman itu, walau pun Gus Adnan juga sudah berkali-kali menasehati Suci, tapi Suci tidak menghiraukannya, Suci terus saja menangis hingga lelah. Suci berdiri dari sambil menghapus air matanya dengan kasar


" Boleh minta antarkan Uci ke suatu tempat?"


" Tentu saja, saya akan mengantarmu kemana pun kamu ingin pergi."


" Terima kasih Gus."


Suci dan Gus Adnan berjalan berhiringan untuk menuju mobil, setelah di depan mobil tiba-tiba Samuel memberhentikan motornya, ia langsung mendekati Suci


"Apa kabar Uci?"


Samuel bertanya dengan senyuman manis di bibirnya


" Lo kalau mau balas dendam tentang masalah Rey yang sudah memasukan ke dua temen lo ke penjara, nanti saja, gue nggak sempat ngeladenin lo. Gue masih ada urusan yang belum gue selsaiin."


" Gue sama sekali nggak mau balas dendam. Kalau gue pengen menghacurkan hubungan kalian, gue nggak akan bilang pada Rey saat lo ada di apartemen Raka. Gue memang nggak berani menolong lo langsung, tapi setidaknya gue ngabarin Rey untuk menolong lo."


Mata Suci membulat tidak percaya pada Samuel, ia tau saat itu melihat wajah Samuel yang terlihat kuatir, tapi ia tidak percaya kalau Samuel akan berpihak pada orang lain dari pada temannya sendiri


" Jadi lo yang mengabari Rey saat itu?"


" Nggak perlu terkejut, Rey adalah orang baik, kebaikan gue masih tidak ada apa-apanya dari pada kebaikan Rey yang selama ini dia berikan untuk keluarga gue. Lo yang sabar iya, ini semua ujian, lo jangan berlarut dalam kesedihan. Rey hanya ingin lo bahagia, gue harap lo bisa iklasin Rey, walau pun gue tau memang berat kehilangan orang yang di cintai oleh kita, karena gue pernah ngerasain saat di tinggal papa. Lo sekarang mau kemana? Kalau ada waktu lo mampir ke apartemen Rey, papa Rey ingin berbicara sama lo."


" Gue harus selsaiin masalah gue dulu, setelah itu gue baru akan ke apartemen Rey. Sekali lagi terima kasih atas kebaikan lo."


" Oke, apa lo perlu bantuan? Untuk mencari anggota lo?"

__ADS_1


" Gue nggak mau ngelibatin siapapun Sam, ini masalah gue sendiri."


" Baiklah, kalau lo butuh bantuan kabarin anggota Reki, gue juga kebetulan bergabung dengan mereka, kalau begitu gue pamit, lo hati-hati."


" Iya Sam."


Samuel langsung melajukan motornya. Suci dan Gus Adnan langsung melajukan mobilnya. Setelah Suci mengatakan alamat yang di tuju, mereka tidak ada pembicaraan di dalam mobil, Suci diam membisu sambil menatap jendela, sedangkan Gus Adnan hanya fokus ke arah jalan sambil sesekali menatap ke arah Suci. Tidak lama mereka sampai di rumah yang di tuju oleh Suci. Suci dan Gus Adnan turun dari mobil, tidak lupa Suci juga mebawa maf laporan dari rumah sakit. Gus Adnan melihat Suci sangat berbeda, tatapannya tajam dan memiliki aura kebencian, yang tadinya menangis, tapi sekarang tidak ada air mata di pipinya dan seolah-olah Suci tidak terjadi apa-apa. Suci langsung menekan bell pintu dengan tidak sabar, ia berkali-kali menekan bell pintu itu


Cklek


Pintu itu terbuka, menampilkan seorang asisten rumah tangga


" Eh non Suci."


Pembantu rumah tangga itu bernama bi Asih, ia sudah mengenal Suci satu tahun yang lalu saat Jonatan kritis, Suci pernah datang kemari dan mengaku sebagai teman Ellen


" Ada non bersama ke dua temanya sedang ngobrol, mari non, den, silahkan masuk."


Bi Asih langsung mempersilahkan masuk karena saat itu Suci bilang mengaku teman Ellan. Suci dan Gus Adnan masuk mengikuti bi Asih hingga mereka sampai di depan Ellen yang sedang tertawa bersama ke dua temannya


" Non Ellen, ada non Suci mencari non."


Ellen dan ke dua temannya menghentikan tawanya, kini menatap Suci dengan perasaan yang terkejut. Ellen langsung berdiri


" Untuk apa lo kemari?!"


Bi Asih di buat tercengang saat nada bicara majikan mudanya yang membentak Suci, ia buru-buru pergi ke arah dapur, tapi bukan ke dapur, melainkan bi Asih menguping, karena ini pertama kalinya selama ia bekerja majikan mudanya berbicara dengan nada kasar

__ADS_1


" Gue kesini hanya ingin menuntut ke adilan."


Suci berbicara dengan nada tenang, tapi tatapan matanya menajam, siapa saja yang menatapnya bergidik ngeri, termasuk Ellen dan ke dua temannya


" Lo mau nuntut ke adilan tentang Rey?! Atau lo mau nuntut ke adilan tentang anggota 4S?!"


" Dua-duanya, karena mereka tidak salah dalam hal ini. Gue akan buat lo menyesal karena sudah berani sama gue."


" Hahaha.... Hahaha... Lo bilang mau membuat gue menyesal?! Walau pun gue mati di tangan lo seperti lo membunuh Jonatan, gue nggak akan pernah menyesal! Gue hanya membalas apa yang gue rasain selama ini! Gue hanya ingin lo rasain bagai mana perasaannya kehilangan orang yang kita sayangi!"


Bi Asih menutup mulutnya tidak percaya, kalau seorang Gadis kecil dan mungil membunuh Jonatan, lebih tidak percaya lagi dengan majikan mudanya yang tega membunuh orang lain juga


" Apa mereka itu tidak takut dosa, ya Allah jadi ngeri, gimana kalau saya salah sama non Ellen, bisa mati juga saya." batin Bi Asih


Temen bi Asih mencolek bi Asih


" Serius banget liat apaan dan kenapa non Ellen tertawa seperti kerasukan?"


Bi Asih langsung menyuruh teman kerjanya untuk diam dengan memberikan istarat memakai tangan. Suci diam, ia masih tetap dengan tatapan yang sama, ia bisa melihat kalau tawa dan bicara Ellen sedikit ketakutan, hanya saja Ellen menutupinya dengan rasa bangga kalau Ellen berhasil membuat ia kehilangan orang yang di sayangi. Gus Adnan berkali-kali istigfar, ia tidak percaya kalau Suci membunuh sesaorang, walau pun Suci nakal, tapi ia yakin kalau ini adalah kesalah pahaman


" Gue tanya sama lo Suci! Kenapa lo bunuh Jontan?! Lo dendam sama gue karena pernah membully lo?! Tapi harusnya lo sakitin saja gue, jangan Jontan!"


" Gue sama sekali tidak dendam sama lo, walau pun gue sering di bully sama lo, tapi gue nggak nyangka, kalau lo tega membunuh Rey. Rey tidak ada kaitannya dengan masalah Jonatan, seharusnya lo sakitin gue seperti lo membully gue, kalau lo memang kurang puas untuk menyakiti hidup gue."


" Gue nggak pernah ingin menyakiti siapapun kalau lo ngggak bunuh Jonatan!"


" Lo belum punya bukti kuat untuk menuduh gue membunuh Jonatan, tapi lo sudah membunuh Rey! Di mana letak hati nurani lo Ell?! Harusnya lo mencari tau tentang kebenaran dulu sebelum lo membunuh Rey! Rey nggak salah apa-apa sama lo, harusnya lo berterima kasih pada Rey, karena Rey sudah membantu Jonatan untuk membalas dendam, walau pun Rey tidak menyakitinya, tapi Rey menjebloskannya dalam penjara! Tapi lo, lo membalas Rey dengan kematiannya, lo sadis Ell!

__ADS_1


__ADS_2