Cinta Suci

Cinta Suci
BAB. 24 Percakapan Gus Adnan


__ADS_3

Gus Adnan melangkahkan kakinya menuju rumah kiai Habibi. Keberadaan Gus Adnan di pesantren itu tentu menjadi perhatian, karena selain ustaz, beliu juga anak dari kiai besar pemimpin pesantren Alhusna, tentu kehadirannya lebih di hormati dari ustaz lainnya. Masih menjadi tanda tanya besar alasan Gus Adnan mengajar di pesantren itu. Jika hanya untuk mengabdi, tentu mengabdi di pesantren orang tuanya lebih masuk akal, tapi tidak ada yang berani menanyakanya, mereka hanya mensyukurinya. Jelas harus di syukuri, kapan lagi ada seorang Gus yang luar biasa menawan di tambah dengan karismanya yang begitu kuat untuk mejadi tenaga pengajar di sana, semua wanita pun pasti akan tergoda saat melihatnya, tapi sayang sifatnya begitu dingin dan tidak bisa tersentuh, itu kenapa para santriwati hanya mengagumi Gus Adnan dalam diam. Sudah bukan rahasia lagi jika santriawati mencintai ustaznya, apa lagi ustaznya Gus Adnan yang sangat tampan


" Masa allah calon suamiku."


" Suami idamanku."


" Suami impianku."


Begitulah bisik-bisik para santriwati saat Gus Adnan melewatinya. Gus Adnan terus berjalan hingga Gus Adnan sampai di depan pintu rumah kiai Habibi


" Assalamualaikum."


Ceklek


" Wa'alaikumsalam, masuk mas."


Gus Ilham memang sudah terbiasa memanggil Gus Adnan dengan panggilan mas, karena bagai mana pun juga ia lebih muda tiga tahun dari Gus Adnan, usia Gus Ilham masih 25 tahun. Di dalam ada kiai Habibi dan Gus Wahyu. Gus Adnan langsung menyalami kiai Habibi dan Gus Wahyu sambil mencium telapak tangan mereka


" Bagai mana Adnan, apa Suci masih sering berbicara kasar padamu?"


" Alhamdulilah kiai, sekarang Suci sudah lebih sopan tutur bahasanya, hanya saja Suci masih keras kepala."


Memang semejak Suci setor hapalan, tutur bahasa Suci jauh lebih sopan, walau pun sering berbicara dengan nada tinggi, tapi menurutnya sudah jauh lebih baik


" Suci memang seperti itu Adnan, saya juga tidak tau sifatnya turun dari siapa, semoga kamu kuat dengan sifat Suci."


Gus Wayu berbicara seperti itu memang paktanya, entah sifat Suci itu turun dari siapa, di keluarganya tidak ada yang nakal seperti Suci yang nakalnya sudah benar-benar di luar batas wajar


" Kakek hanya minta agar Adnan membimbing untuk mejadi lebih baik dan jadikan Suci muslimah yang sesungguhnya."

__ADS_1


" Itu sudah jadi tugas saya kiai, insya Allah perlahan Suci akan berubah menjadi lebih baik. Saya minta do'anya dari kiai dan sekeluarga."


Kiai Habibi langsung mengangguk, tanpa di minta pun ia selalu berdo'a untuk kebaikan mereka berdua


" Ngomong-ngomong kapan Suci mau di kasih tau mas?"


" Saya ikut sama kiai saja kapan baiknya."


" Kakek serahkan sepenuhnya sama kamu Adnan, tanggung jawab Suci sudah sepenuhnya milik kamu."


Gus Adnan mengangguk sambil tersenyum pada kiai Habibi


" Saya ingin Suci mencintai Allah dulu, sebelum Suci belajar mencintai saya, biarlah Allah yang membimbing Suci menemui kebenaran."


" Kamu memang lelaki yang sangat bijak Adnan."


" Saya hanya ingin yang terbaik untuk Suci, Om."


" Oh iya Adnan, om minta maaf atas perihal Suci berpacaran, jujur saja kami kecolongan."


Memang keluarga kiai di sini tidak tau menau kalau Suci memiliki pacar, bahkan kaka Suci saja tidak tau kalau Suci memiliki pacar


" Tidak apa-apa om, saya lihat Suci itu adalah Gadis yang baik, hanya saja Suci membutuhkan bimbingan yang lebih."


Cukup lama Gus Adnan berbicang dengan keluarga Suci, hingga Gus Adnan memutuskan untuk berpamitan, karena ada tugas yang belum di urus dan tugas mahasiswanya juga belum di koreksi. Setelah melihat Gus Adnan pergi, Gus Ilham langsung berlari menghampiri Gus Adnan


" Mas, tunggu!"


Gus Adnan berhenti menunggu Gus Ilham yang berjalan menghampirinya, hingga Gus Ilham berdiri di depan Gus Adnan

__ADS_1


" Maaf mas kalau saya lancang, tapi sepertinya mas harus lebih mendekati Suci, soalnya dari kejadian perdebatan kemarin, saya bisa melihat kalau Suci sangat mencintai lelaki itu, walau pun saya tidak tau lelaki yang Suci cintai seperti apa."


Gus Adan langsung tersenyum sambil menepuk bahu Gus Ilham, ia berusaha tenang walau pun perdebatan kemarin dengan Reyhan sangat membuatnya emosi


" Saya pun melihat hal yang sama pada lelakinya, tapi kenapa saya harus takut? Mau bagai mana pun lelaki itu mencintai Suci, tetap saja saya yang akan jadi imamnya, karena Suci sudah sah menjadi istri saya."


Gus Ilham juga ikut tersenyum melihat jawaban dari Gus Adnan. Sebenarnya Gus Ilham tidak ingin membela siapapun di sini dan ia akan setuju lelaki mana pun yang Suci ambil untuk menjadi suaminya selama lelaki itu bisa menjaga, membimbing untuk lebih baik dan mencintai Suci dengan tulus, tapi karena sekarang Suci sudah sah jadi istri Gus Adnan, ia tidak ingin kalau Suci semakin membuat kekacauan dan takut kalau Suci mengecewakan ke dua orang tuanya


" Apa mas pernah ada rasa menyesal? Karena Suci jauh dari kata baik, semua yang Suci lakukan selalu melanggar agama."


" Saya sama sekali tidak menyesal, saat saya akan mengikat Suci dengan hubungan pernikahan, saya sudah siap apapun resikonya nanti, terlebih lagi saya percaya kalau Suci yang terbaik untuk saya, karena semua orang itu tidak ada yang sempurna Ilham, setiap orang ada kekurangan dan kelebihan, maka dari situ setiap pasangan harus saling melengkapi."


" Terima kasih mas, karena sudah menerima adik saya apa adanya, jujur saya sangat menyesal karena telah meninggalkan Suci, andai saja saya bisa menjaga Suci dengan baik di rumah, mungkin semuanya tidak akan seperti ini."


Gus Ilham menarik nafas berat, ia memang sangat menyesal karena tidak bisa membimbing Suci dengan baik, seharusnya ia sebagai kaka, bisa membimbing Suci dengan baik


" Tidak perlu berterima kasih Ilham, tidak perlu menyesali semua yang sudah terjadi, saya tau kamu sibuk di sini, saya tidak menyalahkan kamu atau keluargamu tentang Suci. Saya akan berusaha untuk merubah Suci agar lebih baik lagi."


Gus Adnan memang tidak pernah menyalahkan siapapun tentang sifat Suci, walau pun Suci bertolak belakang denga Gus Ilham dan keluaranya, tapi ia percaya kalau Suci bisa menjadi muslimah yang lebih baik lagi


" Iya mas."


" Kalau begitu saya pergi dulu Ilham."


" Iya mas."


Gus Ilham hanya menatap kepergian Gus Adan dengan perasaan bersalah, ia sangat bersalah karena tidak bisa membimbing Suci untuk lebih baik, mungkin kalau ia bisa membimbing Suci untuk lebih baik, semua permasalahan ini tidak akan pernah terjadi


" Semoga mas bisa sabar menghadapi sifat Suci yang sangat nakal dan semoga mas bisa merubah Suci untuk lebih baik lagi." batin Gus Ilham

__ADS_1


Gus Ilham langsung masuk lagi ke dalam rumah


__ADS_2