
Jam baru menunjukan angka setengah satu siang ketika langkah kakiku memasuki dapur restoran. Dengan senyum yang memang selalu ku suguhkan aku memasuki wilayah yang menjadi tanggung jawab ku selama 8 jam kedepan.
"Lo, kok sudah datang. Ku kira kamu akan nambah jam, Ar?" Mbak Buna terkejut melihat kedatangan ku.
Sudah menjadi kebiasaan, jika ijin atau sehabis libur maka akan ada jam molor masuk kerja. Entah itu setengah jam atau bahkan sampai dua jam tergantung kebutuhan.
"Sudah beres mbak. Diam dirumah juga jenuh, jadi ya berangkat aja. Siapa tau disini ada yang perlu dibantu." Ucapku setelah menaruh tas kecil yang selalu ku bawa kerja hanya untuk menyimpan ponsel.
"Halah kamu ini. Mbok ya istirahat dulu dirumah sana. Kok malah kesini lebih cepet. Emang nggak capek apa kamu Ar?"
Aku hanya tersenyum menanggapi ocehan Mbak Buna, namun terselip rasa bersalah karena telah membohongi orang sebaik dirinya. Namun hanya ini cara yang bisa ku lakukan setidaknya untuk saat ini. Entah lain kali aku akan memikirkan cara yang lebih baik lagi.
"Lo, kok udah datang to kamu Ar. Katanya sibuk? apa sudah kelar?" Bu Sri datang dengan membawa dua ekor ikan gurami ditangannya.
__ADS_1
Sepertinya dia baru dari kolam ikan samping untuk mengambilnya.
"Orderan bu?" Tanyaku tanpa berniat menjawab pertanyaannya.
"Iya.Asem manis sama rica-rica. Terus satu lagi bakar, itu lagi dibakar dibelakang sama Bu Tima."
Kulihat dimeja panjang tempat terakhir makanan sebelum dikeluarkan pada tamu sudah tertata rapih lalapan beserta sambalnya. Sepertinya Mbak Buna sudah menyelesaikannya.
"Asem manisnya udah ada belum bu?" Aku berjalan ke dapur kotor dan menghampiri Bu Sri yang sibuk membumbui ikan ikan yang dibawa nya tadi.
"Ya sudah aku buat asem manisnya kalau gitu bu." Ku ambil wajan kecil dan melangkah ke arah chiller untuk mengambil perlengkapan asem manis. Buah nanas, wortel, timun juga potongan cabe merah telah tersedia disana. Hanya saja, bahan bahan perlengkapan tersebut dibedakan menurut cara mengirisnya.
Kuambil dua wajan kecil sekaligus. Satu untuk asem manis dan satu lagi untuk bumbu rica-rica. Kami biasanya membuat sedikit banyak pada suatu waktu. Hingga ketika ada orderan hanya butuh memanaskan atau menambahkan ornamen yang belum masuk dalam bumbu.
__ADS_1
"Sudah ada kemangi nya?" Mbak Buna bertanya sambil membawa kertas nota belanjaan untuk besok.
"Sudah mbak, ini aku bawa sekalian tadi." Ku tunjuk daun kemangi yang ku letakkan dalam wadah kecil sambil menunggu bumbu dan ikan matang.
Ini orderan belanjaan buat besok ya, Ar. Nanti kamu cek ulang sebelum pulang. Aku tadi hanya memeriksa sedikit, belum sempat ke gudang depan juga." Terangnya.
Mencatat bahan yang perlu dibelanjakan setiap harinya adalah tugas ku dan mbak Buna juga. Tapi lebih banyak dia yang mengerjakannya karena waktu malam lah yang sering kali diadakan pengecekan barang.
Pergantian shift pun datang. Mbak Buna dan teman lainnya yang shift pagi berpamitan pulang. Seketika dapur bersih kembali hening karena hanya ada 4 orang saja yang berjaga.
"Bu, aku mau cek barang di gudang depan dulu ya. Mumpung sepi, dan nitip bagian ku nanti jika ada tamu." Ucapku dengan anggukan kepala yang kudapatkan dari mereka.
Aku memasuki gudang dan menyalahkan lampunya. Mulai mengecek satu persatu barang yang yang ada. Mbak Wiwin menyusul ku masuk, ada sales minuman yang datang dan dia sedang mendata minuman apa saja yang habis.
__ADS_1
"Mbak Win, order ya. Kertasnya ku taruk meja kasir." Adalah suara teriakan yang aku kenal. Aku hanya tersenyum pada mbak Wiwin yang menatap ku sekilas.
"Hanya suaranya kenapa aku berdebar? jangan bilang aku jatuh cinta beneran" Pelaku membatin lirih