Dendam Cinta Sang Mantan

Dendam Cinta Sang Mantan
DCSM bab 63


__ADS_3

Kakiku terasa lemas tak bertenaga. Tulang persendian ku bahkan terasa bagai seonggok barang tak berguna. Bukan cuma kakiku dan bibirku yang tak mampu bergerak. Seluruh tubuhku terasa mati semua.


Dia, didepan sana aku bisa menyaksikan bagaimana tubuh suamiku tergeletak lemas diatas brangkar. Selang infus terlihat menancap di pergelangan tangan kirinya.


Tepat jam 1 malam, Andri datang menjemputku. Dia yang waktu itu hanya mengatakan bahwa Valdi membutuhkan aku tak banyak bicara. Bahkan disepanjang perjalanan dirinya yang terkenal ceriwis itu berubah menjadi pendiam. Aku yang memang sedang kalut tak begitu mempedulikan nya. Dalam benakku hanya ada wajah suamiku seorang.


"Dia kenapa?" Tanyaku lirih.


Andri dan beberapa teman entah siapa mereka membantu memapah tubuhku yang lemas. Mereka mendudukkan ku di sebuah bangku disamping brangkar.


"Kecelakaan." Aku mendongak, manatap Andri yang berusaha memalingkan wajahnya dari ku.


Ku edarkan pandanganku ke sekeliling ruangan. Baru ku sadar, wajah wajah itu berusaha untuk menghindar.

__ADS_1


Ku genggam erat jemari Valdi yang bebas. Ku usap kening nya yang terdapat luka dengan perban yang lumayan lebar disana. Sakit sekali hatiku melihatnya tak berdaya seperti ini. Suamiku yang selalu tersenyum menyambut kepulanganku dengan dekapan hangatnya hanya diam membisu dengan mata yang tertutup rapat.


Keadaan tak memungkinkan ku untuk terus bertanya. Terlihat mereka juga lelah, Andri bersikeras untuk menemaniku malam ini. Sementara yang lainnya berlalu pergi setelah berpamitan padaku.


"Aku akan berjaga di luar ya, Ar. Jika butuh sesuatu panggil saja. Atau kamu bisa kirim pesan saja padaku." Aku mengangguk, namun tatapanku masih tertuju pada tubuh suamiku.


Ruang rawatnya berada di kelas 3, ruang yang diperuntukkan bagi pasien bersama. Terdapat banyak kasur pasien yang berderet dikanan dan kiri suamiku. Hanya ada satu buah meja dan satu bangku disana.


Menjelang pagi aku segera membasuh wajahku. Semalaman aku nggak tidur, hanya diam menatap wajah suamiku yang ternyata masih betah menutup mata.


Andri datang dengan membawa bungkusan. Sepertinya dia telah keluar tadi, terbukti dengan adanya plastik belanjaan dengan logo sebuah minimarket disana.


"Aku belikan sarapan, Ar. Ada juga roti dan susu, nanti aku akan meminjamkan termos ke teman teman. Buat persediaan menyeduh susu atau teh."

__ADS_1


"Kapan dia akan sadar, An? kenapa lama sekali?" Aku tak menggubris ucapan Andri tentang makanan, aku lebih mengkhawatirkan kondisi suamiku. Sejak aku menginjakkan kakiku disini hingga kini sudah menunjukkan jam 6 pagi dirinya masih tetap betah terdiam dengan mata terpejam.


"Nanti jam 8 dokter akan datang mengecek kondisinya. Mungkin pengaruh obat makanya dia belum bangun juga."


"Ceritakan padaku yang sebenarnya. Suamiku jarang sekali naik motor dengan kencang. Apalagi, motor yang dia gunakan bukan miliknya."


Andri terdiam, dia hanya menatapku lekat. Nampak sekali kebingungan dimatanya, namun aku tetap menunggunya untuk bercerita.


"Nanti ku ceritakan. Untuk sekarang lebih baik kamu fokus untuk merawatnya, dia membutuhkanmu. Ar, yang perlu kamu ingat, apapun yang kamu dengar nanti. Percayalah, Valdi mencintaimu." Aku menatap penuh tanya. Kalimat Andri sangat membingungkan untukku saat ini. Atau mungkin otakku yang terasa penuh ini tidak lagi sanggup berpikir.


"Dia bahkan rela di pukuli begini demi mempertahankan dirinya. Aku tak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Namun aku yakin Valdi tak melakukan seperti yang mereka tuduhkan padanya. Dia tak akan menghianatimu, karena dia sangat mencintaimu Arsita."


Andri bermonolog dalam hati, sambil menatap pasangan yang saling menggenggam dihadapannya. Tepatnya Arsita yang menggenggam erat tangan suaminya.

__ADS_1


__ADS_2