Dendam Cinta Sang Mantan

Dendam Cinta Sang Mantan
DCSM bab 23


__ADS_3

#Cinta itu datang tak kenal tempat, waktu dan juga suasana. Cinta juga, akan masuk menyatukan sesuatu yang mustahil menurut manusia itu sendiri. Namun, siapa sangka kekuatan cinta itu lebih dasyat dari hanya sekedar tatapan mata.#


...🌸🌸🌸🌸🌸...


"Ar, lebaran besok ada acara nggak?" Mbak Rini mendekatiku.


"Kenapa mbak?"


" Sekali kali main ke rumah ku napa"


"Kalau aku main, emang mau dikasih apa mbak?"


" Kita masak masak dirumah, Ar. Tapi kamu harus nginap dirumah. Kita berangkat kerja dari rumahku bareng."


"Nanti aku coba pamit dulu sama ibu ya mbak. Gimana gimana nya nanti ku kabari lagi." Ucapku pada akhirnya.


"Iya, beneran ya Ar. Nanti kita main ketempat Imam juga." Cengirnya.


Aku hanya mendelik mendengar ucapannya. Aku tak pernah berpikiran sampai ke sana.


Hanto datang menginstrupsi lamunanku. Orderan yang dibawanya semua adalah bagianku. Pada akhirnya aku tak lagi punya waktu untuk merenung ataupun melamun.


"Mbak, nanti siang jatah makan kita apa kalau boleh tau?"


"A.. " Baru saja aku ingin menjawab, namun ucapanku terhenti begitu Bu Sri sudah memberikan jawabannya.

__ADS_1


"Makan aja yang ditanya, sini ini kalian kalau sedang senggang mbok ya nanya. Bu sedang sibuk apa? ada yang bisa dibantu kek apa gitu. Malah yang ditanya makanannya duluan. Kalau aku ngambek masak, kalian tau rasa ya nanti."


"Kan cuma bertanya bu. hehehe." Hanto menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Sudah, yang penting nanti siang ada makanan yang bisa dimakan. Sekarang bantuin itu siapin sendok sama gapunya, pesananmu sebentar lagi juga selesai."


"Iya bu iya. Astaga ini juga kan lagi disiapin."


Aku tersenyum mendengar perdebatan mereka. Suatu hiburan tersendiri sebagai pelipur jenuh. Ada saja perdebatan yang kadang membuat ku tertawa bahkan sampai menangis.


"Mbak, boleh minta sambelnya?" Hanto mendekatiku dan berbicara setengah berbisik.


"Buat apa emang sambel aja, To?" Tanyaku heran.


"Semalam dirumah ada pengajian mbak. Nah ada sisa beberapa potong daging ayam. Aku membawanya kesini, buat tambahan lauk makan siang nanti.


" Sambel mentah?( sambel terasi dengan tomat + cabe langsung digerus tanpa direbus ataupun digoreng)


"Kalau boleh sih mbak."


"Bukannya nggak boleh, To. Tapi waktu makannya masih lama, sedangkan sambel mentah tidak akan bisa tahan lama. Dia akan berubah bau dan rasanya, tak lagi segar seperti saat ini."


"Oh gitu to mbak, ya sudah kalau nggak bisa mbak."


"Kalau emang mau ya nanti To. Pas waktu ngambil jatah itu sekalian tak buatin. Kalau emang kamu maunya sambel mentah lo ya. Kalau maunya dibawa sekarang ya mending ambil sambel mateng aja. Tuh masih diatas wajan, aku baru saja selesai buat."

__ADS_1


(Sambel mateng adalah sebutan untuk sambel yang semua bahannya di goreng atau terlebih dahulu. Setelah semua bahan digerus halus, semuanya akan kembali digoreng sambil ditambah bumbu.)


"Boleh deh mbak, mana aja yang mbak mau kasih saya mah tinggal bawa aja." Cengirnya menampakkan gigi giginya yang besar besar itu.


"Ilih, piye to. Kok nggak ada pendirian, tak getok pakai ulekan kamu nanti ya. Kalau mau sambel mateng ya sana kamu ambil sendiri, nggak usah manja aku lagi sibuk." Sewot ku.


Bukannya marah, Hanto malah terkekeh seraya beranjak mengambil wadah kecil untuk sambel nya.


"Eh eh kamu ini, lama sekali didapur To. Ternyata malah godain ayank ku, minta tak tinju apa gimana?" Imam datang seraya memelototkan matanya.


Aku tertawa geli mendengar perdebatan mereka yang unfaedah itu.


"Yank, jangan mau dong deket deket sama Hanto. Ckck aku cemburu ini." Rajuknya seraya meraih gelas dan mulai meracik minuman yang di ordernya.


"Iya iya. Lain kali kalau dia datang aku tutup muka pakai panci biar kagak liat dia ya."


Ku tata pesanan Hanto di piring saji dan memberikan pada Hanto untuk di tata dalam nampan.


Terdengar gelak tawa dari teman teman lain yang mendengarkan ucapanku. Aku hanya tersenyum menanggapi tatapan protes Imam.


"Jangan nakal." Ucapnya seraya mengecup puncak kepalaku.


Setelahnya dia melenggang pergi dengan membawa minuman pesanan tamu hotel bersama Hanto yang juga sudah selesai dengan nampan besarnya berisi makanan.


"Hee, cium cium mulu kerjaannya ya. Tempat kerja juga, nanti tak kasih pantat wajan baru tau rasa. Ini lagi, mau aja di cium." Bu Sri datang dengan wajah garangnya.

__ADS_1


#Cinta itu tidak mengenal tempat dan waktu bu, benerkan ya wkwkwwk


__ADS_2