
Ku coba memejamkan mata ini. Namun tetap saja tak pernah bisa, ku toleh jam yang menggantung di dinding kamar. Waktu telah menunjukkan jam dua dini hari.
Aku mendudukkan diri ditepi ranjang. Beruntungnya, aku menempati kamar tamu seorang diri. Mbak Rini seperti memberi ruang untuk aku merenung.
Tadi, ketika aku telah selesai berganti pakaian dan mulai merebahkan tubuhku. Sempat aku mengirim pesan kepada kedua lelaki yang berhasil membuat pikiranku kacau malam ini.
Bahkan, keduanya dengan segera membalas pesanmu seolah mereka memang sedang menantikan nya.
Kembali ku hidupkan ponsel yang tadi ku taruh dinarkas. Ku buka kembali semua pesan mereka berdua. Ku coba lagi bertanya pada hatiku sendiri. Apa dan siapa sebenarnya aku inginkan. Namun tak juga aku dapatkan jawabannya sampai detik ini. Bahkan jika ditanya aku punya cintakah? dan pada siapa cinta itu berlabuh?. Tidak tau adalah jawaban yang bakal keluar dari dalam mulutku.
Ting
Sebuah notif masuk kedalam ponsel yang memang masih ku pegang. Sedikit terperanjat namun aku segera bisa menguasai diriku.
__ADS_1
"Kok belum tidur? lagi chatingan sama siapa?"
Adalah Imam yang mengirim pesan padaku. Aku tersenyum simpul, dia tetap saja seperti itu. Tak pernah berubah, selalu saja mengira aku sedang berselancar didunia maya dengan orang lain. Meski begitu aku tak pernah marah. Ku anggap tindakannya adalah bagian dari perhatiannya padaku.
"Kagak bisa tidur. Tadi aku mengecek pesan saja siapa tau ada yang ke lewat. Kamu sendiri kenapa belum tidur?"
"Sama, aku juga kagak nggak bisa tidur. Rasanya kesal kalau menutup mata." Balasnya yang membuat aku sedikit mengernyitkan dahi.
"Saat aku menutup mata dan mencoba untuk tidur. Aku malah merasa benci dengan apa yang aku lihat ketika mataku terpejam." Aku masih terdiam, mencoba menerka apa yang Imam maksud dalam pesan yang dia kirimkan.
"Ketika mataku terpejam, aku akan melihat bayanganmu dengannya, yank. Dan itu membuat aku ingin marah namun tak mampu. Aku tau, kehadiranku disisimu hanyalah sebagai pelengkap disaat dirinya tak berada di sisimu. Aku hadir sebagai bagian yang mengisi kekosongan dan akan kembali pergi ketika sang pemilik datang untuk mengambilnya kembali. Kau tau yank? bagaimana aku menekan perasaanku sendiri tadi disaat melihatmu berinteraksi dengan nya. Ingin rasanya aku marah namun aku tak mampu melakukannya bukan?"
Aku masih terdiam, apa yang Imam katakan adalah kebenarannya. Aku tak mampu memberikan kepastian kemana hatiku ini akan berlabuh. Keduanya sama artinya buatku. Aku tak pernah mampu melepaskan masa lalu ku, namanya masih ada di sesi terdalam hatiku. Namun untuk terus menggantung perasaan Imam terlalu lama aku pun tak mungkin tega.
__ADS_1
"Yank, tidur lah. Ini sudah hampir pagi!!, jika kamu tak tidur sekarang maka besok kamu akan terganggu ditempat kerja. Paksakan untuk memejamkan mata walau sejenak."
"Kamu juga tidur kan setelah ini?"
"Tentu, aku akan mencoba memejamkan mataku dan hanya menghadirkan bayanganmu disana. Tidur lah!! Aku sayang kamu." Pungkasnya.
"Aku tau, selamat tidur juga untuk mu." Namun pesan tersebut tak pernah ku kirimkan padanya. Aku tidak ingin memberi harapan tanpa bisa ku pastikan kebenarannya.
Kuletakkan kembali ponsel ku diatas narkas. Kembali ku rebahkan tubuh yang lelah ini. Percayalah, hati dan perasaan ku lah yang sangat amat lelah.
Ku tatap langit-langit kamar, berharap aku bisa tertidur dengan lelap dan melupakan apa yang terjadi hari ini.
"Cinta itu apa?"
__ADS_1