
Pov Valdi.
Aku menarik nafas kasar dan menghembuskannya perlahan. Sesak sekali rasanya dada ini. Aku tahu dan paham, sangat sangat paham malahan.
Cinta itu belum ku dapatkan walau aku telah berhasil mempersunting nya. Bahkan, keadaan pun seolah mendukungnya. Tepat dimalam pernikahan kami, aku malah sakit. Entah terlalu senang atau malah terlalu grogi. Yang pasti adalah aku bahagia.
Memiliki nya adalah impianku. Sejak pertama melihatnya melamar pekerjaan, disitulah aku telah jatuh cinta padanya.
Segala cara ku coba untuk bisa dekat dengannya. Walau hanya sekedar mengobrol itu tak mengapa. Dan aku berhasil. Kesempatan itu datang dikala dirinya kesulitan mencari kontrakan sementara waktunya terbatas karena harus bekerja.
Pada awalnya dia menginap dirumah saudaranya. Setiap hari harus menempuh jarak yang lumayan jauh demi mencapai tempat kerja. Karena itu dirinya berniat untuk mencari kontrakan baru agar lebih dekat dengan toko.
__ADS_1
Aku senang bukan kepalang, kesempatan yang ku tunggu akhirnya datang di depan mata. Aku menawarkan diri untuk membantunya mencari kontrakan. Hari pertama masih belum berhasil, dan memang sedikit sulit mencari untuk saat sekarang ini. Musim liburan dan musim banyaknya perusahaan yang merekrut pegawai baru membuat kontrakan dan tempat kost menjadi ikut kebanjiran penyewa.
"Belum dapat, tapi tak apa. Nanti siang aku mau keliling ke daerah lain, do'ain aja masih ada kamar kosong ya?"
Dia tersenyum senyum yang membuatku makin mabuk kepayang. Gigi gingsul di sebelah kirinya menambah kesan manis pada senyumnya.
"Maaf ya, aku ngerepotin kamu."
"Ah nggak juga, kan itung itung sambil jalan jalan." Cengir ku.
🍃🍃🍃🍃🍃
__ADS_1
Tiga hari berlalu aku masih tak menemukan kontrakan untuk Arsita. Akhirnya aku memberanikan diri untuk menawarkan kamar kost yang berada di tempat yang ku tempati saat ini.
Awalnya aku ragu, Dia berniat mencari kontrakan bukan kamar kost. Namun ternyata Arsita berniat untuk melihatnya terlebih dahulu.
Aku tinggal di kamar kost 3 lantai, setiap lantainya berisi 12 kamar. Dan kebetulan aku menempati kamar di lantai 3. Pagi itu, aku mengambil cuti karena telah melakukan janji dengan Ar. Gadis manis incaran ku itu mengatakan akan datang untuk melihat kamar kost yang aku tawarkan.
Tepat jam 9 lewat, Ar datang. Terlihat manis dengan pakaian santai dan rambut panjangnya yang dikuncir kuda. Berbeda dengan penampilannya ketika di tempat kerja.
"Kok siang? nggak takut telat nanti kamu? lumayan memakan waktu lo balak balik ke sini. Atau kamu membawa baju ganti sekalian ya?" Brondong ku saat tubuh nya berada di depan mataku.
"Aku libur kok, jadi sedikit santai." Jawabnya seraya mendudukkan diri tak jauh dari ku. Aku sengaja menunggunya di teras depan tangga lantai 3. Kebetulan pula kamarku berada tepat didepan tangga. Sedangkan kamar yang ku tawarkan padanya berada di sebelah kanan tangga.
__ADS_1
"Boleh liat kamarnya sekarang?"
Ah aku terpesona oleh penampilannya sekarang ini. Sampai kehabisan kata-kata. Biasanya akulah yang banyak bicara hanya untuk memancing nya berbicara, namun hari ini aku sungguh kehabisan kata-kata.