Dendam Cinta Sang Mantan

Dendam Cinta Sang Mantan
DCSM bab 15


__ADS_3

"Jadi?"


Aku mengangguk, sore ini sepulang kerja. Aku janjian sama Mas Dian mau makan bakso di timur proyek. Tempatnya lumayan dekat, baksonya juga terkenal enak.


Buka di jam 9 pagi, bakso Pak Samidi yang memang ramai pengunjung itu akan tutup di jam 20.00 malam. Tak seperti warung bakso biasanya. Walaupun tamu yang datang sering tak kebagian. Pak Samidi tidak pernah menambah stok jualannya. Menurutnya, rezeky sudah ada yang mengatur. Mau dikasih banyak syukur sedikitpun Alhamdulillah.


Pernah suatu hari ada pelanggan yang bertanya kenapa tidak ditambah stoknya padahal waktu masih menunjukkan pukul 18.00 sore. Dengan tenang beliau menjawab" Kalau habisnya cepat berarti saya punya waktu lebih panjang buat istirahat. Kalau habisnya lama, itu artinya saya kurang bersabar. Kalau saya nambah stok, takutnya pelanggan yang datang hari ini besok tidak datang lagi kan sayang bahannya terbuang. Jadi sudah cukuplah setiap hari segini."


Kata bijak yang terkadang sudah jarang ditemukan sekarang ini.


Kembali ke aku dan Mas Dian.


Dengan berboncengan kami berdua berangkat ke warung bakso. Sesampainya disana, Mas Dian segera memesan dan aku mencari tempat duduk.


Di sebuah meja pojok kami berbincang sambil menunggu pesanan bakso kami datang. Pengunjung sore ini lumayan banyak sehingga kami harus menunggu antrian terlebih dahulu.


"Lanjutkan ceritanya yang semalam Ar.Terus terang aku penasaran dengan gaya berpacaran kalian."


Dibukanya bungkusan kacang telor yang tersedia di meja sebagai camilan sambil menunggu.

__ADS_1


"Kirain sudah lupa, eh masih aja ingat."


"Semalam aku tidak bisa tidur karena penasaran. Makanya cepetan cerita." Satu, dua kacang telor masuk kedalam mulut mas Dian.


"Aku.."


"Hayoloh, kalian lagi ngapain berdua disini. Selingkuh ya?"


"Sembarangan, lagi makan lah emang lagi ngapain. Lagian jadi orang kok kayak Jailangkung aja. Main nongol kagak tau dari mana datangnya." Mas Dian mendelik ke arah Mas Eksan yang tiba-tiba sudah berada di depan kami. Bahkan dengan santainya mas Eksan mendudukkan diri disebelah ku.


"Kok nggak ngajak ngajak?" Ucapnya tanpa menjawab pertanyaan Mas Dian.


Aku hanya tersenyum, sementara Mas Eksan tampak acuh dengan ucapan Mas Dian.


"Tenang saja, tidak perlu repot repot. Aku sudah pesan kok tadi sebelum nyamperin kalian kesini. Paling nanti pulangnya kalian tambahin ya buat bayarnya."


Mas Dian mendengus, membuatku terkikik geli.


"Bodo amat lah." Mas Eksan tersenyum penuh kemenangan. Tak lama pesanan kami pun datang.

__ADS_1


"Ar, kalau sambil makan sambil cerita bisa nggak?"


"Makan saja dulu mas. Kalau keburu dingin kan jadi nggak enak. Lagian nanti kagak fokus aku ceritanya kalau sambil makan."


"Cerita apaan sih, kalian kok main rahasia begini."


"Kepo aja!! kalau pengen tau nurut. Diem dan makan bakso dengan tenang baru nanti dengerin cetitanya."


Mas Eksan memendelikan matanya. Kami pun terdiam menekuni mangkok berisi bulatan daging nikmat ini tanpa suara.


Setelah semua isi mangkok tandas berpindah tempat. Kami pun mulai untuk bercerita.


"Aku sebenarnya tidak pernah melakukan komitmen apapun dengan Imam. Boleh dibilang kami hanya pasangan ditempat kerja saja seperti yang terjadi sekarang atau yang kalian semua lihat. Tak pernah ada kata cinta dari kami berdua. Mungkin lebih tepatnya ini hanya rasa sayang yang kami rasakan."


Baik Mas Dian dan Mas Eksan terbengong mendengar ceritaku. Namun mereka berdua tetap berdiam mendengarkan ku kembali bersuara. Ku menghela nafas perlahan sebelum akhirnya menghembuskannya dengan pelan.


Apapun yang kuceritakan adalah kebenaran yang aku dan Imam jalani. Puncaknya sebulan yang lalu setelah aniversary ke 3 hubungan yang entah bisa disebut sebagai apa ini.


Waktu itu..

__ADS_1


__ADS_2