Dendam Cinta Sang Mantan

Dendam Cinta Sang Mantan
DCSM bab 49


__ADS_3

Sejak pagi suara alunan musik terdengar memekakkan telinga. Selesai dengan ijab qobul yang dilaksanakan tepat jam 7 pagi. Orang-orang sudah disibukkan dengan berbagai persiapan untuk resepsi yang dimulai nanti siang.


Dalam undangan ternyata bapak sudah membubuhkan waktu. Kapan acara walimah'an dan kapan acara resepsi.


Aku yang memang menyewa perias pengantin pun sudah mulai didandani. Dengan wajah yang pas pasan aku ingin tampil beda dihari bahagia ku. Bahagia? entahlah aku harus bahagia atau tidak.


Waktu seakan berjalan begitu cepatnya, hingga di jam 10 malam tamu mulai sepi dan aku pun bisa beristirahat. Valdi yang kelihatan kelelahan lebih dulu masuk ke dalam kamar.


"Kamu sakit?" Kening dan badannya sangat panas.


"Nggak enak sekali badanku?" Ucapnya sambil menggenggam tanganku erat.


"Ya sudah,sekarang istirahat saja. Tadi sudah makan kan? biar ku ambilkan obat. Lalu kamu tidur."


Aku kembali beranjak ke luar kamar untuk mengambil obat. Dengan membawa segelas teh hangat, obat dan juga beberapa bolu. Aku kembali ke kamar.


"Ini, kamu bangun dulu. Minum obatnya."


"Maaf ya yank." Setelah meminum obatnya, kembali Valdi meraih tanganku untuk digengam. Bisa kurasakan panas yang menjalar dari genggaman tangan nya.

__ADS_1


"Maaf buat apa? jangan mikir yang aneh aneh. Sekarang istirahat dulu, biar lekas sembuh."


Valdi merebahkan tubuhnya perlahan, ku selimuti dia dan duduk di tepi ranjang. Tanganku diraihnya kembali sebelum dia memejamkan matanya.


Ku tatap wajah yang sedang terlelap disampingku lekat. Aku memang belum mencintai nya dengan sepenuh hatiku. Namun aku berjanji pada diriku sendiri untuk bisa menerima dan menempatkan dirinya dalam hatiku sejak saat ini.


Ku kecup keningnya yang sedikit berkeringat. Dia terlelap dengan cepat, mungkin pengaruh dari obat yang baru saja di minumnya.


"Aku belum tahu perasaan ku sebenarnya. Tapi aku janji mulai saat ini akan bertahan disisi mu. Entah karena cinta atau nggak. Aku pastikan akan selalu ada disini." Ku usap pelan buliran keringat yang keluar di dahinya. Valdi masih tertidur dengan lelapnya.


🍃🍃🍃🍃


"Kebo apaan?" Aku memilih duduk didekat sepupuku, Made namanya.


"Heleh, badan aja yang gede. Masa istilah gitu aja nggak ngerti." Telunjuknya menyentuh keningku pelan sambil didorong nya.


"Lah, emang nggak ngerti."


"Kalau kuda kudaan, tahu?"

__ADS_1


"Kuda lumping? emang ada malam malam begini, mas?"


"Adalah, harusnya kan kamu main kuda kudaan sana sama Valdi."


"Dia sakit, badannya demam. Sudah minum obat sih, sekarang sedang tidur."


"Ya, ampun. Malam pengantin harusnya main kuda kudaan lah ini malah sakit? gimana ceritanya." Mas Made tergelak.


Disaat itulah aku baru tersadar dengan pembicaraan kami sejak tadi. Ku layangkan tatapan penuh protes pada sepupuku itu. Namun bukannya terdiam, dia malah semakin kencang tergelak.


Aku kembali memasuki kamar setelah mendengar ponselku berdering. Buru buru aku mengambilnya karena tak ingin nanti mengganggu istirahat Valdi.


Kuraih ponsel diatas meja. Aku memilih untuk mendudukkan diri di kursi yang berada dipojok kamar. Dengan sedikit ragu aku mengangkat panggilan dari Mas Pri.


Ku pejamkan mata dan menarik nafas dalam dalam sebelum menyapanya. Ada ragu dan sedikit bimbang yang kurasakan saat ini. Ku lirik jam kecil di atas meja, waktu telah menunjukkan jam 11 malam. Itu artinya, disebrang sana sudah memasuki waktu tengah malam.


"Hallo, ya mas." Sapa ku pelan ketika tombol hijau sudah ku geser.


"Ar,... "

__ADS_1


__ADS_2