
Dibelahan bumi lain. Tepatnya di negeri Jiran. Mas Pri masih bekerja sesuai dengan jadwalnya. Dia yang sudah mengetahui berita pernikahan Arsita langsung dari kekasihnya itu sendiri, berubah mood sejak kabar itu didengarnya.
Pri yang selalu menganggap Arsita adalah kekasihnya tak pernah rela dan tak mau menerima kenyataan. Namun dirinya juga tak bisa berbuat banyak.
Pertentangan kedua keluarga mereka menjadi pemicu. Cinta mereka terhalang restu. Namun tanpa orang lain ketahuilah, termasuk keluarganya sendiri. Cinta itu masih kokoh disana. Tak adanya kata putus diantara mereka berdua. Hanya ada kata menjauh untuk sesaat dan kembali jika sudah waktunya.
Namun harapan dan dunianya hancur malam itu. Dikala gadis pujaan hatinya mengatakan dirinya akan menikah. Pri tak habis pikir dengan semua hal yang dia alami selama ini. Baginya cukup sulit.
Arsita adalah gadis pertama yang mampu memporak porandakan hatinya. Sejak usia nya baru menginjak 12 tahun. Dirinya sudah tertarik pada gadis yang usia nya terpaut dia tahun di bawah nya itu.
Sejak saat ini, Pri kecil selalu menghabiskan liburan sekolahnya dirumah sangat paman yang kebetulan tetangga dekat Arsita. Hanya perlu beberapa langkah saja dan hanya perlu menatap jendela sudah membuat dirinya bisa menatap Arsita dengan segala kegiatannya.
__ADS_1
"Arrrgghhhh." Teriaknya di sebuah gudang diatas gedung yang tengah dia kerjakan.
Menjadi buruh kasar adalah kebanyakan pekerjaan bagi pemuda para pejuang devisa di sana.
"Kau kenapa Pri?" Seorang pekerja mendekatinya.
Pri hanya tersenyum getir, entah dia harus bagaimana mengungkapkan perasaan nya saat ini. Rasa kehilangan yang dulu pernah membayangi nya sekarang benar-benar telah terjadi.
Terbukti, dengan seberapa lama mereka berpisah. Tak seorangpun dari mereka yang menjalin cinta kemudian. Pri memang beberapa kali mencoba hubungan dengan gadis lain. Namun kegagalan yang selalu dia terima.
"Ceritakan kalau ada masalah. Kita ini sama-sama perantauan, ada kalanya butuh teman untuk saling bercerita. Biar beban yang kita tanggung sedikit berkurang."
__ADS_1
Wanto menghentikan pekerjaannya, dia mengajak Pri untuk beristirahat dan duduk di balik tembok demi menghindari sinar matahari yang terik kala itu.
Hanya ada 5 pekerja diatas gedung berlantai 8 tersebut. Mereka sedang membuat taman roots troops. Melihat keduanya yang mengambil waktu istirahat, membuat ke 3 teman yang lain pun ikut beristirahat dengan mereka.
Pri menarik nafas dalam dalam. Sungguh dia tak menduga akan mengalami hal ini sekali lagi. Dulu, sewaktu keluarganya meminta untuk menjauh dari Arsita, dia juga merasakan sakit. Namun kali ini sakitnya terasa lebih parah.
"Cewek ku nikah!!" Semua temannya tertegun dengan apa yang diungkapkan Pri. Termasuk Wanto, dia yang selama ini paling dekat dengan Pri sangat memahami situasi yang dialami pemuda itu saat ini.
"Yang kamu ceritakan waktu itu?" Dan anggukan kepala dari temannya yang terduduk lesuh itu membuatnya meraup wajahnya kasar. Dulu, entah kapan pastinya. Pri pernah bercerita kepadanya, tentang cinta dan rasa sayang yang temannya itu miliki. Meski sudah bertahun lamanya namun cinta itu masih terus tumbuh dan malah makin berkembang. Tanpa harus diungkapkan namun Wanto dapat merasakan. Bagaimana sang sahabat tersenyum dikala menyebut namanya. Pri yang sering kali menjadi sosok pendiam berubah jadi ceria jika bercerita tentang sangat kekasih.
Tak ada yang mampu mereka katakan. Masalah hati sangatlah rumit. Tak jarang orang akan kehilangan akal sehat jika sudah menyinggung masalah hati.
__ADS_1
Dan itu terlihat dari penampilan sahabatnya yang kusut bagai baju yang tergulung dalam mecin cuci.