Dendam Cinta Sang Mantan

Dendam Cinta Sang Mantan
DCSM bab 76


__ADS_3

Pagi ini aku melangkahkan kakiku ke toko dengan sedikit tenang. Banyak hal yang menjadi kekhawatiran ku beberapa waktu terakhir sudah bisa ku pecahkan. Paling tidak, solusi untuk membereskannya sudah ada dalam genggaman ku.


Seperti nanti malam, Diyah mengirimkan pesan kepada suamiku. Meminta bertemu untuk saling bicara. Aku langsung meng iyakan ajakan itu, walau disana tak ada namaku disebut untuk ikut hadir. Namun aku akan memaksa datang karena hal ini sudah kunantikan sebelumnya.


Aku menyambut antusias ajakan pertemuan itu. Bahkan Andri pun sudah ku beritahu bagaimanapun dia juga saksi yang bisa membantuku nantinya.


"Bagaimana keadaan Valdi, Ar? sudah baikan?"


"Sudah lumayan lebih baik sekarang Ndah. Cuma jalannya belum bisa terlalu jauh dan kelamaan berdiri. Katanya masih suka kesemutan gitu. Tapi kalau masalah lainnya udah baik sih."


"Syukurlah kalau gitu, harus sabar dan banyak latihan jalan sih. Jangan terburu-buru biar lama asal sembuh."


"Iya, makasih ya Endah sudah peduli sama suamiku."


"Sama-sama, Ar. Kita itu sesama perantauan Ar, kalau bukan teman siapa lagi coba? saudara juga pada jauh." Aku mengangguk meng iyakan ucapan Endah.

__ADS_1


🍃🍃🍃🍃🍃🍃


Sesuai kesepakatan, tepat jam 7 malam aku dan Valdi masuk ke dalam rumah kost Diyah. Nampak disana ada 3 orang laki-laki bersama Diyah. Wajah terkejut jelas terlihat dari mereka semua atas kehadiranku. Tak mengapa, karena aku ingin melihat sejauh mana mereka akan memerankan sandiwara ini.


"Kenapa dia ikut? dia siapa?" Tanya entah siapa yang jelas aku tak mengenal 3 orang laki-laki itu.


"Ini istriku, aku sengaja mengajaknya. Karena aku tak ingin lagi ada hal yang tersembunyi diantara kami."


"Istri?" Ucapnya membeo sambil menoleh keras ke arah Diyah dan lelaki disampingnya yang aku yakini sebagai kakaknya Diyah.


"Apa apaan ini!! kamu sudah punya istri tapi masih menghamili Diyah. Dasar nggak punya otak." Umpat nya dengan mata yang mendelik hampir melomoat keluar.


"Dari awal aku sudah bilang kan, kalau aku nggak pernah melakukan apapun dengan Diyah. Dia yang selalu mengejarku sejak dulu tapi aku selalu menolaknya. Sekarang kalian ingin aku mengakui apa yang tak pernah aku perbuat. Tentu saja aku tidak akan pernah mau melakukannya."


"Bajingan!!, kamu pikir kamu siapa? seenaknya lepas tanggung jawab."

__ADS_1


"Ada bukti bahwa memang suamiku yang melakukannya?" Aku bersuara untuk pertama kalinya.


"Buktinya itu di perut Diyah sudah ada bayinya. Masih perlu bukti apalagi?"


"Perut buncit karena hamil bukan satu satunya bukti yang bisa digunakan untuk menjerat suamiku. Itu tidak cukup kuat, ada rekaman, foto atau saksi disaat suamiku melakukan hal itu kah? atau hanya menurut perkiraan."


"Tes DNA bisa dilakukan tapi harus menunggu kandungannya lebih besar." Lanjutku


"Diyah tak bisa menunggu, kamu pikir dia bisa menahan malu dengan perut besarnya tanpa suami?"


"Kalau begitu kenapa dia mau melakukan hal itu jika sadar akan resikonya?"


"Apa maksud kamu? jangan sok tahu!! Suamimu harus bertanggung-jawab atas kehamilan Diyah."


"Tidak akan pernah, dan jangan bermimpi untuk itu. Suamiku tak akan pernah bertanggungjawab atas apa yang tidak pernah dia lakukan. Sebelum kalian menuduh sebaiknya kalian liat bukti bukti yang ada. Diyah mengatakan bahwa dirinya dan Valdi bertemu dia bulan yang lalu, dan mereka berakhir dihotel C. Aku sudah mengecek ke hotel C memang ada nama suamiku menginap disana namun dia berada di kamar melati bukan kamar Anyelir seperti pengakuan Diyah. Dan yang menginap dikamar hotel Anyelir itu bernama Nuraliman. Berdasarakan CCTV juga bisa dipastikan bahwa suamiku sendiri di dalam kamar hotel nya. Baru disubuh tiba Diyah menghampiri kamar suamiku yang ternyata awalnya dipesan oleh nya dengan memakai nama suamiku. Apakah ini benar, Diyah?"

__ADS_1


__ADS_2