Dendam Cinta Sang Mantan

Dendam Cinta Sang Mantan
DCSM bab 20


__ADS_3

Waktu berjalan sangat cepat. Tak terasa sudah sebulan lamanya anak anak magang tersebut berada disini. Berbaur menjadi satu dan menjadi bagian dari kami semua. Canda, tawa bahkan perdebatan pun mewarnai setiap harinya.


Seperti pagi ini. Ketika waktunya pengambilan jatah breakfast. Terjadi perdebatan kecil diantara tamu. Sejak awal tamu menginap sudah dijelaskan dan diberi kertas kupon pengambilan jatah breakfast setiap harinya.


Setiap kamar hanya mendapatkan jatah 2 piring sarapan dan 2 minuman. Itu adalah servis gratis yang diberikan oleh pihak hotel pada setiap tamu.


Namun terjadi kesalah pahaman. Dimana, sebuah keluarga yang terdiri dari 5 orang meminta jatah lebih. Bahkan para room boy dan juga Mbak Ina selalu kasir pagi hotel pun telah menjelaskan. Namun keluarga tersebut masih membuat keributan sampai ke restoran.


Beruntung, mbak Ani selaku supervisor restoran telah kembali aktif setelah cuti lamanya. Dengan penuh kesabaran Mbak Ani menjelaskan. Walau pada akhirnya hanya diberi satu porsi tambahan saja.


Aku kembali ke depan tepatnya ke tempat kasir restoran. Disana ada sebuah kamar yang dijadikan kantor. Tempat di mana Pemilik hotel tinggal saat berkunjung ke restoran.


Ditempat yang tak begitu luas tersebut. Mbak Ani sudah menungguku dengan senyumnya.


"Mau ambil kupon tambahan ya, Ar?" tanyanya seraya meletakkan bolpoin yang dipegang nya.


"Iya mbak. Kan buat laporan hari ini."


"Kalau ada masalah begini ini terkadang yang bikin pusing. Menurut ketentuan yang berlaku kan emang tidak bisa lagi nambah. Kalau mau ya harus beli walaupun sama itu menu breakfast. Tapi jika sudah ketemu dengan tamu yang super pelit dan perhitungan begini pasti ribet ujungnya." Mbak Ani tertawa diujung kalimat yang dia ucapkan.


"Padahal kan cuma nambah sekitar Tiga puluh ribuh rupiah ya mbak. Harus bikin ribut dari hotel sampai dibawah ke sini."

__ADS_1


"Tiga puluh ribu juga uang, Ar. Jaman sekarang mana ada orang yang tidak butuh uang."


"Ada yang nggak butuh mbak, malah uangnya setiap hari datang dan tak terpakai mungkin." Aku tergelak dan menerima kupon yang disodorkan oleh Mbak Ani.


"Siapa?"


"Pak Halim, mbak. Bukannya uangnya tiap hari datang dan kita yang memutarnya ini." Aku tergelak ketika Mbak Ani memukul lenganku dengan buku yang dipegangnya.


Aku berlalu kembali ke dapur. Membuka laporan yang harus ku kerjakan dengan catatan belanjaan yang kemarin malam telah dibuat mbak Buna.


"Yank." Aku menoleh ketika Imam sudah berdiri dihadapanku dengan menyodorkan ponsel miliknya. Aku mengernyit, dan dengan isyarat mata bertanya padanya.


"Ada yang mau bicara denganmu." Imam mendudukkan dirinya disampingku.


"Sebentar lagi dia juga ngubungi. Sabarlah sebentar." Ucapnya tanpa melihat kearahku.


Aku hanya menarik nafas pelan dan kembali dengan laporan yang hanya tinggal sedikit lagi selesai dan meletakkan ponselnya tepat didepanku.


"Kamu tau yank, kalau lagi serius begini terlihat kamu yang berbeda."


"Maksudnya?"

__ADS_1


"Kamu yang lagi serius begini nampak imut dan cantik."


"Haa, jadi hari biasanya aku tidak cantik gitu?"


"Cantik sih, yank. Tapi galak dan terlihat judes kamu. Terkadang aku takut hanya dengan melihat tatapan matamu saja."


"Heleh, pasti ngegombal lagi. Sana kerja sana, memangnya di hotel sudah beres apa kerjaan kamu? kok malah duduk santai disini."


"Aku kan lagi split, yank. Ini sudah selesai jam pagi ku. Nanti malam jam 6 baru mulai kerja lagi sampai jam 10.Sudah lupa hemm?"


Aku hanya melempar cengiran karena benar-benar lupa jadwal kerja dia hari ini.


"Aku tinggal ke kamar ya!! Nanti ponsel kamu antar kalau sudah beres jam kerja kamu saja. Aku mau tidur sekarang." Imam beranjak dari duduk nya.


"Kalau ada yang nelfon gimana?"


"Kamu angkat saja, kasih tau kalau aku sedang tidur atau apa sajalah terserah kamu, yank."


"Ya, tapi kalau pesan aku nggak balas ya."


"Iya, aku ke kamar dulu ya. Jangan lupa makan."

__ADS_1


Cup


Kecupan hangat berlabu dikeningku. Sudah biasa menjadi terbiasa. Dan semua orang pun tau dengan itu. Bahkan sudah bukan rahasia umum lagi kalau Imam sering terlihat keluar dengan berboncengan sama Diah di luar jam kerja. Namun semua menganggap nya biasa saja. Terlebih aku tak pernah mempermasalahkan nya.


__ADS_2