
Dua hari berlalu dan disinilah aku saat ini. Sebuah cafe yang letaknya 500 meter dari tempat ku bekerja. Cafe yang diperuntukkan bagi pengunjung dengan konsep acara keluarga. Bukan cafe romantis kebanyakan, tempat ini ku pilih sebagai tempat pertemuan ku dengan Mas Pri untuk pertama kalinya setelah aku berganti status satu setengah tahun yang lalu.
Berbagai pertimbangan ku lakukan sebelum memutuskan untuk bertemu di tempat ini. Selain karena dekat, statusku pun menjadi bahan pertimbangan selanjutnya. Masalah yang kami hadapi belumlah selesai, aku tak mau mengambil resiko untuk menambah beban pikiran.
Setelah berpamitan pada suamiku, aku berangkat menuju cafe. Jangan mengira kalau kami melakukan janji temu malam hari, tentu itu tak akan bisa ku lakukan karena masa cutiku telah habis. Khusus hari ini aku mengambil shif siang. Dan hari ini pula aku meliburkan diri dari laporan keuangan yang menyibukkan itu.
"Sudah tadi?" Suara itu membuyarkan lamunanku.
Suara yang pernah ku rindukan dulu, suara yang memabukkan walau hanya sekedar mengatakan sayang. Suara yang membuatku kalang kabut karena merindukannya.
Dengan mengenakan pakaian casual Mas Pri terlihat masih tampan. Tatapan nya masih se teduh dulu. Rambutnya sedikit panjang namun tertata dengan rapih.
"Hei, malah melamun. Liatin nya begitu."
__ADS_1
"Hehe, maaf mas. Habis Mas Pri masih ganteng aja." Aku menutup mulutku dengan telapak tangan. Tak seharusnya aku mengatakan hal itu. Otakku sedikit bergeser sepertinya.
"Bisa aja. Sudah lama kamu disini, Sit?"
"Baru kok, paling lima menit yang lalu."
Astaga kenapa dengan jantungku, kenapa masih berdetak tak karuan. Ku tarik nafas pelan untuk menetralkan debaran dihatiku yang semakin tak normal.
Bisa nggak sih jangan tersenyum begitu, mas. Tak tahukah dia aku sudah mati matian menahan rasa yang tak seharusnya tak boleh lagi ku rasakan ini.
Benar apa yang Imam ucapkan, hatiku masih bergetar. Cinta itu masih ada walau setipis kulit ari, masih tersimpan walau sudah bertahun-tahun lamanya harus terendap. Cinta tak pernah mati walau pernah ada kebencian yang mendasari.
"Aku sudah mendengar semuanya. Imam menceritakan sedikit tentang aduanmu kepadanya. Kenapa nggak langsung menghubungi ku saja? kenapa harus lewat Imam?"
__ADS_1
"Menghubungi mu langsung hanya akan menambah luka, mas. Lagi pula, nomer telfon mu juga sudah berubah. Mana mungkin aku bisa menghubungi mu. Belum lagi masih banyak hal lain yang harus aku urus. Maaf, hanya Imam yang bisa kuajak bicara waktu itu."
"Ya, karena dia juga pernah menjadi tempat spesial bagimu juga kan?"
Aku mendongak, menatap Mas Pri yang masih menatap ku dengan senyum yang masih terpatri di bibir manisnya.
"Kisah diantara kalian aku juga sudah mengetahuinya. Tak apa dan memang tak ada yang salah. Semua berhak bahagia dengan caranya sendiri. Tak terkecuali kita."
"Aku menemuimu dengan banyak alasan. Salah satunya karena aku melihatmu, melihat kamu bahagia tentu saja. Menyelesaikan tentang kita dan tentu saja aku merindukanmu. Rindu suaramu, tawamu dan semua yang ada padamu. Hanya sebatas itu, karena aku tahu batas ku dan porsi ku untuk itu. Tak apa kan?"
Aku mengangguk, berhadapan langsung dengannya semua kata yang ku persiapkan sebelumnya seakan hilang entah kemana.
Mungkin benar kata orang, cinta pertama itu sulit dilupakan. Sangat sangat sulit.
__ADS_1