
Pembicaraan yang ku lakukan dengan Imam setidaknya membuat hatiku sedikit lega. Aku masih belum bisa jujur kepada suamiku prihal masalah itu. Aku takut, sungguh takut Valdi punya pikiran lain dan aku tak mau itu terjadi.
Aku juga memikirkan apa yang Imam katakan. Bahwa pelepas kutukan itu adalah melakukan apa yang diucapkan oleh si pembuat kutukan. Namun aku juga tidak ingin bertindak bodo. Masih ada jalan, seandainya mas Pri mau memaafkanku. Walau kesempatan itu sangat tipis aku masih akan berusaha untuk mendapatkan maaf nya.
"Yank, belakangan ini aku sering melihatmu melamun. Apa yang sedang kamu pikirkan?"
Seperti biasa, malam ini menjelang tidur kami selalu berbicara. Hari ini Valdi sedang libur bekerja, dan kebetulan aku mengambil shif pagi. Tadinya aku ingin mengajak suamiku untuk jalan jalan. Walau bukan malam minggu, setidaknya aku ingin berkeliling menghabiskan waktu.
Namun suamiku malah menginginkan haknya. Pada akhirnya kami hanya menghabiskan waktu bergumal didalam kamar hingga lelah menghampiri.
Aku masih memeluknya erat. Menyalurkan rasa sayangku padanya yang entah sebesar apa. Rasanya, aku semakin menyayangi suamiku saat ini.
__ADS_1
"Tidak ada. Aku hanya memikirkan tentang kita."
"Kita? memang nya ada apa dengan kita?" Valdi menatap ku lekat. Aku mengalihkan pandangan dengan membenamkan wajahku kedada nya. Tak ingin rasanya dia terus menebak apa yang mengganjal dalam benakku.
"Sampai sekarang aku belum hamil. Aku takut, seandainya aku tetap tidak bisa hamil bagaimana? kamu akan meninggalkan ku?"
"Kamu bicara apa sih, yank. Kalau belum ya sabar saja. Itu artinya Tuhan masih ingin kita menikmati waktu berdua lebih lama lagi. Toh kita pacaran nya singkat saja sebelum menikah. Jadi, jangan terlalu banyak berpikir. Nanti kamu stress dan sakit, aku nggak mau itu terjadi."
Jawaban yang menenangkan sebenarnya, namun tetap saja aku tak bisa setenang itu.
Aku mendelik kesal, bagaimana bisa suamiku malah mengatakan hal itu disaat aku sedang gelisah. Ditambah lagi, tadi dirinya telah memintanya sebanyak dua kali.
__ADS_1
Cepat cepat ku balikkan badanku memunggunginya. Badanku sudah sakit semua rasanya walau hanya dengan dua kali permainan, namun sangat lama. Valdi tergelak, dikecup nya keningku dan ditariknya selimut agar menutupi tubuh ku.
Sementara dia beranjak ke kamar mandi. Aku mencoba memejamkan mata untuk menghilangkan segala beban. Namun kata kata Imam kembali terngiang ditelingaku.
"Sebaiknya kamu ceritakan semua yang terjadi pada suamimu. Jangan lagi menutupi apapun. Aku yakin suamimu akan mengerti dan kalian bisa memikirkan solusinya bersama. Jangan tunda terlalu lama, jangan sampai dirimu menyesal nantinya."
Aku menghembuskan nafas pelan. Mencari cara untuk bisa jujur kepada Valdi tentang apa yang mengganggu pikiran ku.
Kembali ku pejamkan mata ketika mendengar pintu kamar mandi terbuka. Valdi kembali mendekat, dielus nya rambutku pelan. Kemudian aku mendengar langkahnya menjauh. Suamiku keluar dan dengan skor mata ku intip pergerakannya. Valdi mendudukkan dirinya diteras kontrakan dengan pintu yang sedikit terbuka. Disulut nya rokok dan dihisap nya sumber nikotin tersebut dengan kepala mendongak ke atas. Entah apa yang sedang suamiku pikirkan.
Aku menjadi semakin serba salah. Menimang untuk jujur atau terus memilih diam. Hingga aku terlelap dengan banyaknya pikiran dan pertimbangan yang tak pernah kudapatkan jawaban nya. Aku hanya berharap ini akan segera berakhir dan semua bisa terlewati.
__ADS_1
Aku hanya ingin bahagia
TBC