
"Pembentukan sel darah putih nya lebih banyak dibanding sel darah merah. Dan itu mempengaruhi peredaran darahnya. Sepertinya suamimu juga mempunyai riwayat penyakit serius yang berhubungan dengan alat reproduksinya. Untuk masalah keseluruhan semuanya baik dan tidak ada yang perlu di khawatirkan. Hanya saja, kinerja tulang terutama kakinya akan sedikit terhambat. Biarkan dia beristirahat dengan baik."
Penjelasan dokter pagi ini seakan menghantam kepalaku. Fakta yang memang tak pernah ku ketahui dari suamiku. Bukan cuma dia yang bersalah karena tidak pernah bercerita padaku, namun juga salahku yang tidak pernah mencari tahu tentang suamiku bahkan hal pribadi seperti ini.
Fokusku teralihkan dengan kedatangan pak Hari. Lelaki paruh baya sopir toko tempatku dan Valdi bekerja. Siang ini aku akan membawa suamiku pulang.
Setelah dokter mengatakan bahwa tak ada yang perlu dikhawatirkan aku pun segera meminta ijin keluar dari rumah sakit. Kondisi yang memang belum begitu sembuh membuat dokter melarang sebenarnya. Namun aku tetap nekat, setelah dirawat selama seminggu tanpa adanya perubahan membuat kami mengambil keputusan nekat tersebut.
"Yang, ada sedikit tabungan. Kamu ambil saja di ATM pakai itu untuk biaya rumah sakit." Ucapnya pelan.
Aku hanya tersenyum dan mengangguk. Namun tak sedikitpun aku melakukan apa yang dikatakan suamiku. Masih pantang untukku mengambil uangnya tanpa dirinya. Walaupun sudah ada ijin, namun aku tetap pada prinsip ku.
Selesai dengan segala masalah Administrasi, aku bersama Pak Hari membawa suamiku pulang. Di kontrakan, aku yakin dia akan cepat pulih. Dengan udara yang sejuk tanpa bau obat, juga dengan suasana yang lebih tenang.
"Pak Hari, makasih banyak ya pak. Sudah dibantu jemput Valdi."
__ADS_1
"Iya, kalau butuh apa apa kasih tahu aja. Wong aku ya santai kerjaannya. Paling antar barang ke toko cabang sama antar jemput karyawan setelahnya ya aku nyantai. Kamu itu jangan terlalu sungkan."
"Iya, Pak. Makasih banyak sekali lagi."
Sepeninggal Pak Hari aku kembali masuk ke dalam kontrakan. Ku buka semua jendela agar sirkulasi udara menjadi lancar.
"Ada yang kamu inginkan?" Aku mendekat, mendudukkan diri disebelah Valdi yang bersandar di kasur dengan bantal sebagai penyangga nya.
"Hem" Di ulurkan nya tangan memintaku untuk memeluknya.
"Kangen, yank."
"Tiap hari juga ketemu, kangen apanya."
"Maaf ya."
__ADS_1
"Sudahlah, semua sudah terjadi. Yang terpenting sekarang kamu harus sembuh dulu. Aku nggak suka liat kamu begini."
"Aku tahu, tapi kamu nggak marah sama aku kan? "
"Marah, tapi jika pun aku marah semua sudah terjadi. Jadi sudah nggak ada gunanya, aku cepat sembuh itu biar kalau aku pengen marah bisa segera tersalurkan. Kalau begini mana bisa aku marahin orang yang sedang sakit."
Dekapan Valdi semakin erat. Aku tersenyum walau perih kurasakan. Namun aku harus kuat. Apapun yang terjadi ke depannya, aku harus mampu berdiri tegak dan menggandeng tangan suamiku. Tak peduli apapun yang terjadi nanti.
Kenyataan pahit dan segala hal yang menyakitkan telah ku alami. Kini, harus bertambah beberapa masalah lagi bukankah itu tak akan menjadi masalah.
Syok, tentu saja. Kabar dan berita yang ku terima membuatku terguncang. Namun aku percaya dengan suamiku. Ditambah dengan keterangan yang ku peroleh dari dokter membuatku semakin yakin.
"Istirahatlah, aku mau buatkan bubur untuk mu."
Ku kecup keningnya yang perlahan memejamkan mata.
__ADS_1