Dendam Cinta Sang Mantan

Dendam Cinta Sang Mantan
DCSM bab 72


__ADS_3

Valdi.


Aku terjaga ketika mentari tengah meninggi aku rasa. Karena hangat yang kurasakan dari sinarnya yang masuk dari cela jendela besar namun harus berbagi dengan beberapa orang dalam ruangan. Entah berapa banyak karena aku hanya bisa mendengarkan keriuhan mereka tanpa bisa melihat nya.


Apakah aku buta? kenapa susah sekali rasanya aku membuka mata.


"Ar, sarapan dulu. Aku sudah membelikan sarapan ada juga roti dan susu. Nanti ku pinjamkan termos pada teman teman untuk mempermudah kamu jika ingin membuat susu." Itu suara Andri. Dia masih disini menemani istriku.


"Kapan dia sadar? kenapa lama sekali sampai sekarang belum sadar juga." Suara yang sangat ku rindukan. Aku ingin memeluknya dengan erat.

__ADS_1


Rasa khawatir yang cukup tersirat dalam suaranya membuat dadaku semakin sesak. Ada apa denganku? apa aku juga akan lumpuh dan buta setelah ini? tidak!! aku harus sembuh dan kembali bangun agar bisa memeluk istriku.


"Jam 9 dokter akan datang kesini untuk memeriksa nya. Mungkin masih pengaruh obat hingga dia belum sadar juga." Sedikit tenang karena jawaban Andri bisa diterima dengan baik. Terbukti istriku diam dan kembali menggenggam jemariku kuat.


🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Dokter datang memeriksa ku, disaat itulah aku ingin memberontak dan terbangun. Walau sulit pada akhirnya aku bisa melihat cahaya samar dengan kedua mataku. Ku kerjapkan mata pelan untuk bisa menyesuaikan cahaya dan membuat tatapan ku kian fokus.


"Keadaannya sudah stabil, tak ada yang perlu di khawatir kan. Hanya saja pasien membutuhkan waktu istirahat yang lebih. Keluarga pasien ada disini?" Pemuda ber jas putih khas rumah sakit itu bertanya.

__ADS_1


Aku kembali memejamkan mataku karena perih terasa. Sakit di leherku juga tak main main ketika aku memaksa untuk menoleh tadi. Namun setidaknya sudah terbayar dengan wajah cantik istriku.


"Saya istrinya, dok."


"Baiklah, mari kita bicara diruangan saya. Ada beberapa hal yang perlu mbak ketahui tentang pasien."


Entah ekpresi apa yang ditunjukkan istriku. Hingga aku mendengar langkah kaki yang semakin menjauh. Ruang ini sangat berisik, karena bukan hanya aku yang menempatinya seorang.


"Kamu harus cepat sadar, Val. Kasihan istrimu, sejak semalam kayaknya dia kurang tidur. Untuk masalah yang lain, aku dan teman temanku akan membantu sebisa kami. Kamu tenang saja, kami nggak akan tinggal diam untuk itu. Namun sekarang aku hanya bisa meminta maaf karena telah membohongi istrimu. Aku mengatakan padanya kalau kamu kecelakaan motor. Walau motor kamu sendiri baik baik saja karena aku bilang kalau kamu memakai motor Ijal dan motor kamu di simpan dikost ku. Aku nggak punya alasan lain soalnya. Hanya itu yang terpikirkan dalam benakku semalam. Aku harap kamu ngerti, aku hanya tak ingin istrimu tambah terbebani oleh hal lian. Setidaknya biar dia hanya fokus merawat mu."

__ADS_1


Ucapan Andri terdengar lirih, sepertinya dia hanya berbisik padaku. Aku bersyukur masih mempunyai teman yang baik dan mau membantuku disaat aku terpuruk begini. Bersyukur dia lebih memikirkan perasaan istriku yang mungkin akan hancur kala tahu apa yang sebenarnya menimpaku saat ini.


Aku harus bangun dan kembali sehat. Hingga ketika masalah lain datang aku sudah siap untuk menanggung nya dan siap melindungi istriku dari segala tuduhan dan kesedihan nya. Aku sangat mengenal sifat Diyah. Wanita itu tak akan menyerah begitu saja dan pasti akan kembali datang dengan banyaknya tipuan. Karenanya aku harus segera sembuh.


__ADS_2