Dendam Cinta Sang Mantan

Dendam Cinta Sang Mantan
DCSM bab 42


__ADS_3

"Kenapa?" Mas Dian membawaku ke hotel tempat kami bekerja. Tepatnya di halaman belakang lobi atau didepan mes karyawan berada.


Disofa panjang tempat dulu Imam suka bermanja padaku. Ah mengenai Imam, dia sudah bekerja di sebuah kedai. Bersama dengan kakak iparnya, Imam menjadi salah satu pegawai disana.


Tak jarang dia menghubungiku melalui vidio call. Dia juga suka bercerita tentang keseharian nya selain bekerja. Kedai yang hanya buka dimalam hari tersebut nampak ramai. Bahkan Imam terlihat sangat bahagia disana, terlihat dari badannya yang nampak tambah berisi.


Kita lupakan soal Imam. Kembali ke bahasan awal. Mas Dian menatapku penuh selidik. Dia yang selalu dekat denganku dan berperan sebagai kakakku memang sangat peka dalam segala hal.


"Aku dijodohkan." Ucapku pelan.


"Yang tadi itu?"


Aku mengangguk. Jujur saja aku tak suka situasi saat ini. Bukan lagi jamannya Siti Nurbaya, namun kenyataan memang lah tak bisa lepas dari kejadian tersebut.

__ADS_1


Bahkan kebanyakan orang menganggap hal itu wajar dan bisa saja. Karena memang sering dan sudah umum dilakukan. Kecuali mereka yang sudah menganggap semua kemajuan dan modernisasi sehingga menolak hal yang memang sedikit mendiskriminasi kaum perempuan.


Aku adalah secuil dari orang-orang yang menolak adat tersebut. Bagiku, jodoh ku adalah masalah waktu dan takdir lah yang akan menentukan pilihan yang memang tepat untuk kita.


Aku tak menyukai tentang anggapan orang-orang tentang umur seorang wanita. Mereka bilang jika wanita terlambat menikah itu tak baik. Namun, banyak hal yang masih bisa diraih dan menikah bukanlah satu hal sebagai bagian akhir dari perjalanan seorang wanita demi mencapai apa yang dia inginkan.


"Masih jaman ya begituan? Aku kira sudah tidak ada di jaman ini. Kenapa orang tua kamu masuk kelompok itu sih?" Mas Dian menggaruk kepalanya, aku tahu dirinya sedang mencari kata yang tepat agar tak menyinggung ku.


"Orang tuaku memang kolot mas. Mereka cuma mendengarkan apa yang dipergunjingkan oleh orang lain tanpa mau bertanya apa yang ku inginkan. Namun aku juga tak bisa menyalahkan mereka, Mas. Mereka begitu juga demi kebaikan ku."


"Apa rencanamu sekarang?"


"Entah mas. Aku bingung untuk saat ini, tapi aku juga nggak bisa terus terusan berdiam diri. Cepat atau lambat bapak pasti akan meminta jawaban dari ku. Sedangkan aku tak sedikitpun ada perasaan sama itu tadi, siapa pula namanya. Astaga bahkan aku sudah lupa." Kekeh ku diikuti oleh Mas Dian.

__ADS_1


"Berpikir dengan tenang. Keputusan yang kamu ambil bukan hanya menyangkut kehidupanmu saat ini. Bukan juga keputusan sebulan dua bulan, namun justru seumur hidupmu."


Hingga larut malam aku masih berdiam diri di hotel. Bercerita dan bercengkrama dengan mereka semua membuat hatiku sedikit tenang.


Kembali aku teringat dengan se keresek buah rambutan yang tadi dirumah. Aku lupa untuk membawanya sedikit sebagai camilan. Senyum getir tersemat di bibirku. Sedikit kesal karena tiba-tiba dalam pikiranku hadir pemikiran yang konyol.


Bapak menukarkan ku dengan se keresek buah rambutan. Menggelikan bukan!! atau pemikiranku saja yang sedang tidak singkron.


Aku memang tidak berminat untuk dekat dan menjalin hubungan dengan lawan jenis setelah kepergian Imam dan Mas Pri. Kedua orang yang entah pantas ku sebut sebagai apa dalam kisah ini.


Aku pulang setelah jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Mas Dian masih setia mengantarkan ku pulang.


Berbohong kepada kedua orang tuaku hari ini bukanlah sesuatu yang ku sengaja. Namun aku tidak kuat dan tak mau untuk tetap berdiam dengan apa yang tak pernah membuatku nyaman.

__ADS_1


Ku rebahkan tubuhku di atas ranjang. Pikiranku berkelana tentang cinta, cita dan masa depan. Entah mana yang bisa ku raih terlebih dahulu dari ketiganya.


__ADS_2