Dendam Cinta Sang Mantan

Dendam Cinta Sang Mantan
DCSM bab 40


__ADS_3

Tinggal di kota kecil membuatku sama seperti anak gadis pada umumnya. Perjodohan dan gunjingan karena umur yang mereka anggap sudah waktunya menikah belum juga terlaksana.


Lima bulan telah berlalu setelah kepergian Imam dan Mas Pri dari kehidupanku. Lima bulan juga aku berhasil menunjukkan bahwa aku mampu berdiri tegak dengan kedua kakiku.


"Ar, bapak mau ada yang dibicarakan sama kamu."


Hari ini aku mengambil cuti jatah mingguan. Tadi siang, aku pergi bermain ke Kalibaru. Disana banyak sekali temanku dimasa masih sekolah dulu. Dari jam sembilan pagi aku berangkat hingga menjelang maghrib baru kembali kerumah. Banyak sekali yang aku lakukan disana. Silahturahmi adalah hal paling utama yang aku lakukan.


Bersama mereka mengundang gelak tawa dan cerita lama. Tak banyak perubahan yang terlihat dari teman temanku dulu. Selain status dan juga kehidupan yang tentunya berubah untuk sekarang ini. Bahkan diantara mereka sudah banyak yang mempunyai keturunan.


Aku hanya tersenyum dan mengatakan kalau belum ketemu jodoh atau belum waktunya aku menikah. Umurku masih terbilang muda, itu sih menurutku ya. Ingat menurutku!!

__ADS_1


Diusia yang belum juga menginjak 25 tahun membuatku tak begitu ambil pusing masalah pernikahan. Walau tak jarang terdengar desas desus karena statusku itu.


Aku duduk di kursi kecil dekat cendela. Sementara bapak dan ibu duduk berdampingan di sofa sederhana di rumah kami. Dari gelagat keduanya bisa ku tarik kesimpulan bahwa ada hal penting yang ingin mereka katakan. Dan itu pasti berhubungan denganku.


Dan benar saja. Ketika bapak mengatakan bahwa ada anak dari sahabatnya yang memintaku atau bahasa kerennya meminangku padanya.


Aku menghembuskan nafas kasar, mencoba untuk memenangkan hatiku sendiri. Tak ingin bersikap kasar pada orang tua yang memperjuangkan kehidupanku hingga aku sebesar sekarang.


"Aku bahkan tak pernah bertemu atau mengenalnya, pak. Bagaimana bisa langsung berpacaran apalagi langsung bertunangan."


Ya Tuhan. semuda itu bapak berucap. Dikira hati ini terbuat dari adonan tepung yang bisa dirubah bentuk dan isinya sesuka hati?

__ADS_1


Sebagai orang yang hidup didunia modern. Tentu aku mengenal cinta, dan rasa. Bukan seperti jaman mereka dulu yang terima saja ketika dijodohkan.


"Pak, aku masih muda. Masih banyak yang ingin aku raih. Jika aku menikah sekarang, belum tentu aku bisa mewujudkan keinginan ku itu."


"Justru karena sudah menikah itu, kan ada yang bisa membantu kamu untuk segera mewujudkannya." Kekeh bapak.


"Aku mau bertemu dia. Tapi untuk menikah, aku akan memikirkannya lagi. Aku nggak mau melakukan sesuatu yang tidak aku inginkan."


"Aku harap bapak dan ibu bisa mengerti dengan apa yang menjadi keputusanku. Menikah itu bukan cuma karena ada yang membantu berpikir, tapi juga menyatukan hati dan mimpi menjadi satu kesamaan. Jangan sampai karena keputusan mendadak yang aku ambil membuatku menyalahkan bapak jika suatu saat nanti terjadi sesuatu."


Aku menatap bapak dan ibu secara bergantian. Ingin rasanya aku marah namun sungguh aku tak tega. Bagaimanapun, mereka pasti memikirkanku . Dengan banyaknya gunjingan para tetangga menambah rasa gelisah didalam hati mereka berdua. Sebagai orang tua, aku sangat yakin perasaan mereka lebih rapuh dari pada aku yang terkesan cuek.

__ADS_1


"Sudah, sebaiknya kalian tidur. Lagi pula ini sudah malam. Tentang besok, gimana baiknya besok saja."


Aku beranjak pergi, meninggalkan kedua orang tuaku dan memilih masuk ke dalam kamarku sendiri. Merebahkan tubuh yang memang sudah terasa lelah.


__ADS_2