
Valdi
Aku sangat bersyukur pada akhirnya bisa terbangun. Walau tak langsung sembuh namun aku bisa berinteraksi dengan istri dan teman temanku yang datang menjenguk ku. Hingga di dua minggu aku terbaring di ranjang dengan bau obat yang sangat kental itu aku bisa bernafas lega setelah dokter menyatakan aku bisa pulang dan rawat jalan.
Aku menyerahkan kartu ATM, tabungan yang memang ku simpan sejak lama itu akhirnya ku serahkan pada istriku. Aku tak ingin membebani nya dengan biaya mahal perawatan ku di rumah sakit. Walau aku tahu, tabunganku belum seberapa dibanding yang dia miliki. Namun setidaknya istriku tak menanggung nya sendiri.
"Pakai ini, yank."
Dia hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Wanita yang membuatku jatuh cinta dan tak pernah ingin melepaskannya apapun yang terjadi itu selalu dapat membuat ku tenang hanya dengan melihat senyum nya.
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Keadaan ku belum sembuh total. Bukan hanya tubuhku yang lemah tapi juga tangan dan kedua kakiku. Bahkan untuk sekedar ke kamar mandi pun aku harus berjalan merambat dan perpegangan pada tembok. Rasanya, kakiku benar-benar tak lagi punya tenaga untuk bergerak.
__ADS_1
Kegigihan istriku membuat semangat ku selalu bangkit. Tiap malam dia membalurkan ramuan beras kencur. Menurutnya itu adalah ramuan yang bisa menghangatkan kaki ku dan merangsang otot nya agar lebih rilex dan bertenaga. Di pagi hari, dia akan mengompresnya dan membawaku untuk sekedar berjemur dihalaman.
Aku yang sudah kehilangan semangat kembali termotivasi atas perlakuannya itu. Istriku kembali aktif bekerja dan pada suatu hari dirinya meminta ijin untuk bertemu dengan mantan kekasihnya dulu.
Dengan perasaan yang sedikit tak rela aku mengijinkan nya. Satu hal yang sangat ku takutkan adalah kepergiannya. Namun aku sadar dengan kondisi ku saat ini, bukan hanya membuatnya susah namun aku juga menghambat kebahagiaan nya.
Asal Arsita bahagia aku rela melakukannya jika dia memang ingin aku melepasnya.
Rona bahagia nampak jelas di wajah cantiknya ketika pulang dari pertemuan mereka. Aku menyambutnya dengan senyum seolah tak pernah ada gelisah yang membayangi hatiku beberapa saat lalu.
"Bahagia sekali." sindirku sedikit ketika istriku datang dengan membawa makan siang di tangannya.
"Iya, kami bicara banyak hal. Nanti aku ceritakan ya, sekarang kamu makan terus minum obatnya." Ucapnya seraya menyodorkan sendok dengan nasi dan lauk yang sudah ada di dalamnya.
__ADS_1
"Kamu nggak makan?"
"Tadi kebetulan kami makan siang sekalian. Terus aku bungkusin buat kamu." Jawabnya dengan binar yang sesungguhnya menyakitkan hati ku.
"Sudah yank."
"Sedikit lagi. Siapa yang mau menghabiskan ini? aku sudah kenyang, ayo dua suap lagi ya." Rayunya membuatku tak bisa menolaknya.
Sebuah kecupan dihadiahkan padaku ketika makanan di piring yang dibawahnya tadi telah berpindah tempat ke perutku. Aku tergelak gemas dan senang dalam waktu bersamaan. Setelah menelan obat aku menyandarkan tubuhku di sandaran tempat tidur. Memperhatikan nya yang sedang berdandan untuk bersiap berangkat bekerja.
"Aku sudah siapkan air panas. Jika ingin membuat susu, teh atau kopi semua sudah ku sediakan di meja. Ada kue, roti dan juga camilan untuk mengganjal perut sementara menungguku pulang kerja nanti. Ada request nggak buat nanti malam? pengen makan apa?"
"Pengen makan kamu kalau boleh, yank."
__ADS_1
"Boleh, tapi nanti kalau sudah benar-benar sembuh ya." Ucapnya seraya mendekat dan memelukku erat.