
#Ketika dirimu bertanya apa itu cinta? seharusnya kau sudah bisa menebak apa yang ada didalam hatimu sendiri. Hatimu adalah jawaban yang benar dibandingkan dengan jawaban yang keluar dari bibirmu sendiri#
...🌸🌸🌸🌸...
Februari malam hari valentine.
Ku menghela nafas perlahan sebelum akhirnya menghembuskannya dengan pelan.
Apapun yang kuceritakan adalah kebenaran yang aku dan Imam jalani. Puncaknya sebulan yang lalu setelah aniversary ke 3 hubungan yang entah bisa disebut sebagai apa ini.
Waktu itu adalah malam valentine. Sudah berjalan 3 bulan hubunganku dengan Imam. Dihari itu juga, Imam mengajakku untuk merayakan malam yang kebanyakan orang sebut sebagai malam kasih sayang.
Senang?
Tentu saja, wanita mana yang tidak akan merasa senang kalau diajak kencan. Dari sore aku telah bersiap, menurut rencana Imam akan menjemputku di jam 19.00 malam. Tak banyak aku bersolek, karena memang aku tak begitu suka berdandan.
Ku tatap ponsel yang masih menampilkan layar hitamnya. Pertanda belum ada nya pesan apapun yang masuk. Hingga jam menunjuk angka 8 malam pun, Imam belum juga datang.
Pada akhirnya aku mendesah, ternyata semua gagal dan dia pasti melupakan janjinya. Namun kembali lagi aku hanya terdiam tanpa mau bertanya.
Malam valentine ku akhiri seperti malam biasanya. Tertidur dalam selimut dan memeluk guling.
__ADS_1
...🌸🌸🌸🌸...
"Pagi." Ucapku ketika baru menginjakkan kakiku ke dalam dapur.
"Pagi." Timpal mereka dan kembali sibuk berkutat seperti biasanya.
"Ar, kamu masuk pagi?" Mas Roy datang sambil mengambil pesanan breakfast untuk tamu.
"Iya mas, kenapa?"
"Ku kira valentinan kamu, Ar."
"Valentine juga mesti kerja mas, Mas Roy sendiri kok tumben masuk pagi?"
"Ah iya ya, aku lupa mas.Maaf."
Mas Roy mendengus, Bu Sri terkikik geli melihat ekpresi Mas Roy.
"Mentang mentang sudah punya pasangan aja, jadinya ngeledek orang lain."
"Aih kagak gitu juga kali mas, beneran aku lupa tadi. Lagian ya aku juga kagak kemana-mana Mas, tidur dirumah." Ucapku sambil mencetak nasi goreng untuk breakfast.
__ADS_1
"Lah, kok bisa. Bukannya semalam kalian keluar ya?"
"Tidur aku mas, malah kagak percaya."
"Terus Imam keluar sama siapa dong semalam?" Ucapnya seraya menutup mulutnya. "Eh aduh kan!!" Rutuknya.
Aku hanya tersenyum menanggapi nya. Namun percayalah hatiku sudah merasa tidak nyaman. Tapi ada sesuatu di sudut hatiku yang merasa legah. Pada awalnya, aku hanya merasa kurang peka. Namun ternyata ada hal lain yang aku sendiri tak tau.
"Sudah sana antarkan dulu itu. Nanti keburu dingin makanannya, malah ngoceh." Bu Sri menginterupsi.
Aku menghembuskan nafas pelan. Sedikit sesak namun lega. Aku benar-benar tak tau apa sebenarnya yang aku rasakan.
"Nggak usah ngelamun!! kamu kerja disini ini didapur. Bahaya kerja didapur itu bisa sepuluh kali lipat sama bahaya kerja melayani tamu yang datang di restoran. Harus fokus kalau sedang bekerja. Masalah lainnya nanti saja kamu pikirkan kalau sudah selesai jam kerjamu."
"Orang aku juga nggak apa apa kok, Bu" Kilahku.
"Halah, ndak apa apa gimana. Yang namanya orang diselingkuhin itu sakit. Masih jadi pacar aja begitu, kalau aku jadi kamu sudah ku bikin mukanya itu jadi ulekan sambel. Biar tau rasa dia."
"Tau rasa pedesnya sambel ya bu?" Candaku.
"Sak karepmu wes Ar. Yang penting kamu ndak sedih sedih gitu. Awas kena pisau tanganmu nanti."
__ADS_1
Bu Sri berlalu meninggalkan ku. Aku mencerna sedikit kata katanya. Memang sedikit ada benarnya sih. Untuk apa aku memikirkan sesuatu yang belum tentu menjadi milikku.