
"Kamu serius?" Wajah Imam nampak memerah setelah aku menceritakan apa yang kualami dimalam pertamaku waktu itu.
Matanya nampak menatap ku dengan lekat. Saat ini, kami sedang melakukan vidio call. Imam mendesak ku untuk bercerita. Dia tak pernah puas dengan penjelasanku yang mengatakan hanya ingin tahu kabar Mas Pri saja.
"Kenapa kamu baru menceritakan sekarang, bahkan mungkin kamu akan tetap menutupi nya jika aku tak memaksamu bercerita. Arsita, aku menyayangimu sejak dulu. Kamu bahkan tahu itu!! Aku nggak perduli bagaimana aku dan kamu berakhir. Namun sayang itu tetap ada disini." Imam menunjuk dadanya sendiri.
Sorot mata marah membuatku bergidik ngeri. Aku memilih memendam segalanya sendiri karena mengira semua adalah akibat dari kesalahanku. Dan menganggap wajar, dengan apa yang Mas Pri katakan. Karena pada kenyataannya aku memang telah membuatnya menderita.
__ADS_1
"Aku menjagamu dengan hatiku, Ar. Aku tidak pernah menyentuhmu seperti yang ku lakukan pada pacarku yang lain. Kamu special buatku, aku tak ingin menyakitimu dengan memaksakan apa yang ku mau. Tapi sekarang kamu membuat aku menyesalinya. Menyesali keraguan untuk menjadikanmu milikku dulu."
Imam menyugar rambutnya kasar dan meraup wajahnya frustasi. Aku sempat dibuat bingung dengan tingkahnya. Beruntung, dirinya kini tengah berada di Jajag, dirumah kedua orang tuanya tanpa sangat istri. Iman yang sedang mengunjungi ibunya yang sedang sakit malah harus direpotkan dengan urusanku. Dia satu satunya orang yang berusaha keras mendapatkan kabar Mas Pri dari teman temannya yang lain.
Mas Pri sengaja menghilangkan jejak dari teman teman terdekatnya termasuk Imam. Beruntungnya, ada Rudi yang masih mau membantu Imam.
Imam menggeleng. Ditariknya nafas dalam, mata itu nampak sangat marah namun pandangannya tetap teduh seperti dulu. Aku bahkan sempat merindukan dekapannya kala menenangkan ku. Namun segera ku tepis perasaan sesat itu. Aku sadar, diriku bukan lagi Arsita yang bebas begitupun dengan Imam. Bahkan untuk yang satu ini aku tak sanggup untuk menceritakan kepada suamiku sendiri.
__ADS_1
Aku takut, sangat sangat takut. Melihat reaksi Imam saja begini, bagaimana dengan Valdi. Aku tidak bisa melihat tatapan kecewa itu darinya. Aku bahkan menyayanginya entah sejak kapan. Valdi yang selalu berusaha membuat ku bahagia dan selalu menjadikanku yang utama. Dia bahkan tak pernah marah ataupun melarangku berteman dengan sahabat sahabatku yang lain. Walaupun dia tahu, kebanyakan dari mereka adalah laki-laki.
"Walaupun dia memaafkanmu itu tak akan merubah apapun. Kecuali, kamu melakukan seperti apa yang dia katakan waktu itu. Dalam kondisi marah dan jiwanya terluka, Pri meluapkan segala emosi yang dimilikinya. Cintanya begitu besar untuk mu. Namun takdir kalian sangatlah rumit."
"Dalam masalah ini, akupun nggak bisa menyalahkan siapapun. Kalian berdua terbelenggu oleh cinta yang tertanam sejak kalian kecil hingga dewasa. Wajar saja jika rasa itu sangatlah dalam. Namun tindakan Pri juga tak bisa ku benarkan. Dia seharusnya tidak pernah mengucapkan kutukan itu untuk mu."
Imam tak pernah melepaskan tatapannya padaku. Aku tak kuasa untuk membendung segala rasa yang berkecamuk dalam hatiku. Ada sesal, marah benci dan juga rindu menjadi satu. Namun rasa bersalah pada suamiku lah yang sangat mendominasi saat ini. Aku bahkan tak punya keberanian untuk berharap lebih. Dengan segala apa yang ku alami sekarang.
__ADS_1
Haruskah aku menyerah?