
Pov Imam.
"Apa yang kau lakukan itu salah, Pri. Aku tahu kamu sakit hati dan nggak terima dengan keputusannya. Tapi, apa kamu nggak berpikir bagaimana posisinya saat ini? dia lebih tersiksa darimu. Tekanan dan penolakan yang diterimanya dari keluargamu bukanlah satu satunya hal paling menyakitkan yang dia terima. Kamu bahkan tidak pernah berpikir tentang bagaimana keluarganya? bagaimana sakitnya dia? namun kamu masih menambahkan luka dalam batinnya semakin parah."
Pri tertunduk, wajahnya tentu saja pias dengan rasa bersalah yang timbul didalam hatinya.
"Aku mencintainya, kau tahu itu."
"Tapi cintamu membuatnya tersiksa. Dia juga mencintaimu asal kau tahu itu. Namun dia selalu mencoba untuk memendamnya. Dia tidak ingin membuatmu dalam masalah dan membiarkan hatinya sendiri yg hancur."
__ADS_1
"Jika dia mencintaiku kenapa dia meninggalkanku? aku masih berusaha dan selalu mencari cara untuk mencari jalan keluar. Tapi dia malah pergi."
"Kau gila!!" Imam tersenyum miring. "Kau pikir, Arsita tidak merasakan sakit ketika mengambil keputusan itu? kau pikir hanya dirimu saja yang merasakan rasa kecewa itu? naif sekali kau Pri."
"Kau bilang mencintainya? mencintai seperti apa yang kau janjikan padanya?. Pernah kamu bertanya, bagaimana sakitnya dia? bagaimana perasaannya selama kau gantung tanpa pernah ada kepastian yang kau berikan. Dan kamu masih mengatakan bahwa dia yang telah menghianatimu?. Kau bodoh!!. Yang kamu tahu hanya hatimu dan sakitmu."
Imam memukul angin untuk meluapkan kekesalannya. Tak mungkin juga dirinya akan mengajak Pri berduel hanya untuk melepaskan emosinya. Imam masih berpikir waras untuk tidak terlalu dalam ikut campur. Dia hanya berusaha jadi penengah.
"Brengsek!! kau itu laki-laki, sementara dia?. Tekanan untuk nya lebih besar dari pada yang kamu rasakan. Dia perempuan yang punya batas waktu menikah dan desakan dari keluarganya. Walaupun tidak ada, kamu pikir dia nggak punya pemikiran untuk hidup bahagia seperti teman temannya yang lain?. Arsita gadis normal yang juga butuh perhatian, butuh perlindungan. Sementara kamu? apa yang kamu lakukan selama ini? menjauh dan menggantung nya tanpa kejelasan. Andai kamu jadi dia, apa kamu akan tetap bertahan?"
__ADS_1
Imam menendang kursi disamping Pri. Mereka berdua berjanji untuk bertemu. Imam tidak membohongi Arsita dengan mengatakan bahwa dirinya mendapatkan nomer Pri dari Rudi. Pri baru kembali kemarin dan itu yang belum Arsita ketahuilah, karena keduanya belum saling menghubungi kembali setelah pembicaraan waktu itu.
🍂🍂🍂🍂
Imam menghembuskan nafsu nya kasar. Dia sungguh bingung dengan kekesalan yang dialami nya kini. Baginya, Arsita adalah gadis baik yang tak pantas untuk menerima perlakuan menyakitkan berkali-kali dari orang yang sama. Namun dirinya juga tak lagi mampu untuk melupakan kekecewaan nya kepada Pri.
Dia yang memang sengaja mengalah waktu itu dan memilih pergi karena ingin keduanya saling membuka diri dan kembali bersama. Menghadapi segala rintangan dan saling menggenggam nyatanya malah berpisah.
Imam bahkan tak menyalahkan Arsita dengan keputusannya untuk menyerah. Dia sendiri juga tak bisa bertahan tanpa kepastian selama bertahun-tahun lamanya. Arsita juga berhak bahagia.
__ADS_1
Namun, melihat betapa kacaunya Pri hari itu membuat Iman pun miris. Keduanya adalah orang orang yang paling dekat dengannya. Baik Pri dan Arsita memiliki tempat tersendiri disudut hatinya.
"Aku sudah berupaya semampuku. Namun takdir kalian menang hanya sampai disini. Mungkin perpisahan ini juga jalan terbaik untuk kalian berdua. Kedepannya tak lagi ada prasangka dan dendam. Ku harap semua berakhir dan kalian bahagia dengan pasangan kalian masing-masing."