Dendam Cinta Sang Mantan

Dendam Cinta Sang Mantan
DCSM bab 39


__ADS_3

Makan bakso yang awalnya terasa hambar perlahan menjadi nikmat. Tidak hanya karena tambahan sambal dan kecap, namun dengan ocehan ngalor ngidul yang terjadi antara Mas Dian dan Mas Eksan yang menimbulkan gelak tawa. Ledekan dan candaan silih berganti mereka lontarkan.


Hingga sampai menjelang maghrib kami bertiga ada di warung Mbak Sumi. Jangan tanya berapa mangkok yang kami makan hingga mbak Sumi membiarkan kami berlama-lama disana.


Dua mangkok bakso dan satu mangkok mie ayam telah masuk ke dalam perut masing-masing mereka berdua. Entah terbuat dari apa perut mereka itu hingga seperti mekar layaknya karet.


"Kamu nggak nambah, Ar?"


Aku menggeleng, yang benar saja. Ini adalah mangkok bakso ke dua ku, itupun masih tersisa separuh karena perutku sudah terasa begah.


"Awas nanti sampai rumah kepikiran sama bakso dan mie ayam ya. Pasti sudah habis dan tutup kalau kamu entar mau lagi."


"Nggak ah Mas, ini juga nggak habis."


"Ya sudah, kita pulang yuk. Sudah maghrib ini, hehee kita terlalu lama diluar ternyata ya." Mas Dian menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Padahal lebih nikmat kalau didalam, ya Yan?" Mas Eksan menimpali ucapan Mas Dian dengan kalimat ambigu. Tak khayal sebuah timpukan bersarang di pundaknya.

__ADS_1


Aku segera beranjak dari tempat duduk ku. Jika tak ada yang mengawali pasti kami tak akan jadi pulang untuk kesekian kalinya.


Dengan diantar Mas Dian aku kembali ke rumah. Sementara Mas Eksan langsung kembali ke hotel.


"Jangan banyak mikir!! lepaskan semuanya. Besok pagi, mulai hari dengan segala sesuatu yang baru. Dunia tidak berhenti sampai disini. Aku yakin kamu bisa melakukannya."


Ucapan Mas Dian sebelum dia melajukan kembali motornya. Meninggalkan ku yang masih diam terpaku dihalaman.


Kemarin, tepatnya sehari sebelum keberangkatan Imam. Mas Pri ada menghubungi ku, dia bilang jika malam itu dia akan berangkat kembali ke negeri Jiran.


Malam yang semakin larut memaksa ku untuk memejamkan mata. Tak ingin terlambat besok pag akhirnya aku benar-benar melupakan kejadian hari ini dan kemarin. Berharap esok pagi segalanya telah berubah.


🍃🍃🍃🍃


"Pagi." Sebuah pesan masuk ke dalam ponselku.


Nomer yang tak ku kenal sebelumnya, membuat ku mengernyitkan dahi.

__ADS_1


Aku hanya melihat dari layar depan tanpa berniat untuk membuka nya. Rasanya sangat malas dan aneh.


Ku langkahkan kakiku menyusuri jalan menuju restoran tempat ku memulai hari ini. Dengan penuh semangat aku membulatkan telat dan menjadi seorang Arsita yang kuat dan tangguh.


Memasuki kawasan restoran, nampak samar bayangan Imam disana. Tersenyum dengan tatapan yang meneduhkan. Ku gelengkan kepala dan kembali pada kenyataan. Dia sudah jauh disana.


Tak bisa ku pungkiri segala bayangan tentangnya akan hadir membayangi hariku. Bagaimanapun, tempat ini dan juga hari hari panjang yang telah terlewati masih meninggalkan kesan yang begitu mendalam. Namun aku pastikan, semua tak akan mempengaruhi diri ini.


"Ar, sudah datang."


"Ya, bu."


"Sudah dikasih tahu sama Buna kan ya? kalau pagi ini akan ada reservasi jam sembilan." Bu Sri menghampiriku yang baru masuk dan meletakkan tas kecil yang selalu ku bawa saat bekerja, dalam kamar yang dialih fungsikan sebagai loker karyawan.


"Sudah, bu. Aku juga sudah dikirim data, apa saja yang belum sempat dipersiapkan semalam." Aku menunjuk ponsel yang terdapat pesan dari Mbak Buna.


Bu Sri mengangguk, setelahnya kami semua tenggelam dalam pekerjaan hingga sore kembali menjelang dan waktunya aku untuk melangkah pulang.

__ADS_1


__ADS_2