
Hari Jum'at, sesuai dengan apa yang Imam katakan dalam pesannya. Hari ini tepatnya setelah jam tiga sore bis yang ditumpangi nya akan lewat dan berhenti di pembelian tiket di lokasi timur balai desa. Kita kira 500 meter dari restoran.
Dua hari lalu, tepatnya dihari Rabu. Imam resmi mengundurkan diri dari hotel tempat kami mengais rezeki. Dia juga menggunakan waktu itu untuk berpamitan dengan semua rekan rekannya.
Bersama dengan Mas Eksan dan Mas Dian aku menunggunya di loket pemesanan tiket. Dengan membawa dua kotak pia khas Glenmore aku menunggu dengan sedikit gugup. Berulang kali Mas Dian dan Mas Eksan mencoba membuat lelucon untuk aku tersenyum.
"Ingat permintaan dia sebelum pergi kemarin kan?" Mas Dian mendekatiku dan memeluk pundakku.
Aku mengangguk, paham ke arah mana dia akan berujar.
"Nah, mumpung masih ada waktu. Sambil menunggu cobalah tenangkan dirimu terutama hatimu. Buat rileks, sebisa mungkin jangan tunjukkan kegelisahanmu padanya. Kamu tahu, rasa sayangnya padamu cukup besar. Jika memang kamu ingin dia sukses, maka sekarang lah waktu nya." Kembali dia berujar.
__ADS_1
Pelan, namun semua yang Mas Dian katakan adalah kebenaran. Aku tak boleh egois, masa depan dan impiannya pun perlu untuk diperjuangkan. Dan disini lah posisiku sebenarnya, mendukung segala jalan yang ingin dia tempuh.
Mas Eksan ikut mendekat. Duduk ditengah dua lelaki baik hati dan penuh perhatian membuatku tersenyum. Ada saja tingkah mereka yang mengundang gelak tawa. Mereka seolah tak peduli dengan usia yang tidak lagi muda.
"Bentar lagi bis nya datang. Hanya berhenti sebentar karena ada paketan. Jadi kalian jangan buang waktu ya, biasanya sopir memburu waktu untuk jemput penumpang di loket daerah lain." Bu Hani yang aku tahu adalah pegawai yang menjaga loket tersebut melongok ke arah kami duduk. Sejak awal kami memang memberitahu tentang maksud kami datang ke sini.
Dan benar saja. Tak sampai 30 menit bis dengan logo nama"LORENA" terlihat membunyikan klakson dan berhenti tepat didepan ruko.
Ku serahkan kotak pia yang terbungkus plastik hitam. Tak ada kata yang mampu kami ucapkan, hanya tatapan mata kami yang saling mengunci untuk beberapa detik. Detik berikutnya Mas Eksan dan Mas Dian memeluk Imam bergantian. Hingga akhirnya sang sopir membunyikan klakson tanda bis akan kembali melaju.
Imam menatapku sekilas sebelum dia memelukku erat. Sebuah kecupan hinggap di pipi kananku dan juga pucuk kepalaku. Setelahnya dia berbalik dan kembali masuk ke dalam bis.
__ADS_1
Perlahan bis melaju meninggalkan aku yang masih berdiri di pinggir jalan dengan Mas Dian yang merangkul pundakku.
Terngiang ucapannya beberapa menit yang lalu. "I love you, jaga dirimu baik baik. Jangan sesali yang sudah usai dan jadilah dirimu yang baru setelah ini. Lepaskan masa lalu yang hanya akan bisa mengikatmu tanpa kepastian. Melangkahlah untuk meraih apa yang kamu ingin gapai."
"Sudah hilang, kita sebaiknya balik." Mas Dian membangunkanku dari keterdiamanku. Aku mengangguk paham.
Dua motor yang kami kendarai melaju meninggalkan loket setelah kami mengucapkan terimakasih ke pada Bu Hani.
Bukan kembali ke restoran atau kerumah ku. Tapi kedua pria yang selalu menjagaku seperti seorang adik itu membawaku masuk ke warung bakso mbak Sumi.
Pikiranku yang memang sedang tidak singkron pun hanya bisa menurut. Hari itu aku merasakan bagaimana rasanya kehilangan. Pelukan singkat yang dia berikan tadi membuat dadaku semakin sesak.
__ADS_1
Kami memang tidak berpacaran, karena aku telah menolaknya. Namun prilaku dan sikap Imam padaku tak pernah berubah. Dia masih dan tetap menunjukkan kasih sayangnya padaku secara terang-terangan. Dan kini aku kehilangan semuanya.