Dendam Cinta Sang Mantan

Dendam Cinta Sang Mantan
DCSM bab 52


__ADS_3

Waktu terus berlalu tanpa bisa ku kendalikan. Semuanya yang harus terlewat pun benar-benar lewat dan terlupakan. Demikian juga tentang perasaan bersalah yang aku alami.


Sudah tiga bulan berlalu sejak hari pernikahan ku. Aku dan Valdi pun telah kembali ke kota tempat kami mencari rezeki.


Satu minggu yang lalu, tepatnya di hari sabtu. Imam menghubungi ku, dia mengabarkan tentang kelahiran putranya. Bahagia nampak disetiap tutur katanya padaku. Muhammad Imam Arsad nama anak itu. Dipanggilnya, Arsad atau Ar.


Aku hanya menggeleng mendengar alasan dibalik nama yang diberikan untuk sang putra. Imam mengatakan padaku jika dirinya rindu, rindu memanggil nama Ar disetiap harinya. Alasan yang nggak masuk akal bukan? aku bahkan sempat mengira kalau otak Imam sedang bergeser kala menemukan alasan tersebut. Namun begitulah dia, akan tetap kekeh untuk melakukan nya.


Bahkan sangat istri sempat mengatakan kalau suaminya berharap anaknya bisa seimut aku.


"Tau nggak mbak, aku sempat cemburu dulu. Disaat melihat kedatangan mbak pas resepsi pernikahan ku itu. Pandangan Mas Imam kan beda banget. Dari sana, aku berpikir kalau mbak itu pacarnya Mas Imam."


Aku terdiam, rasanya bingung harus menjawab gimana.


"Aku bertanya pada Mas Imam. Jawabannya tetap sama, katanya kalian cuma berteman saja. Tapi sorot mata Mas Imam itu beda banget kalau sedang ngobrolin tentang mbak Ar. Rasanya memang ada sesuatu dengan kalian. Makanya aku meminta pindah ke Nganjuk, mbak. Kalau masih ada di Jajag, aku takut mbak datang mengambil Mas Imam dariku. Nasibku bagaimana mbak?"


aku tergelak, kata kata Lita istri Imam sangat menggelitik telingaku. Aku bahkan bingung harus menyebutkan apa hubungan kami saat dulu. Namun aku memilih untuk tidak lagi mengungkitnya. Biarlah, kenangan dulu tetap menjadi kenangan yang tersimpan di balik cerita Hotel dan Restoran MJ.

__ADS_1


"Kami memang berteman, bahkan sangat dekat. Dia tau tentang aku begitupun sebaliknya. Kami terbiasa bercerita, dan itu sudah berlangsung sejak lama. Sejak kami berdua sama-sama bekerja di satu tempat. Makanya, aku harap kamu bisa memilah kedekatan kami. Dan jangan sampai memendam curiga apapun itu. Lagi pula, aku sudah menikah sekarang. Mana mungkin aku akan merebut nya darimu. Ada ada saja, ya ampun." Aku kembali tergelak,


Tak salah memang apa yang ditakutkan oleh Lita. Dan itu sangatlah wajar terjadi, sebagai seorang perempuan apalagi yang sudah menjadi istri sangat rentan dengan pemikiran itu.


"Ar."


"Ya."


Suara gelak tawa terdengar disebrang sana. Aku mendengus atas kelakuan Imam. Ku alihkan panggilan ke mode vidio, hingga bisa ku lihat dengan jelas pemandangan manis keluarga kecil mereka.


Arsad terlihat berada di dalam gendongan Lita yang sedang tersenyum. Ibu muda itu nampak sehat dengan badan yang masih terlihat berisi.


"Kalian kapan berencana pulang ke sini?"


"Nunggu kalau dia sudah kuat dibawah pergi jarak jauh dulu. Sekarang masih terlalu kecil." Lita menjelaskan. Aku mengangguk paham.


"Cepet bikin sendiri sama kamu, Ar. Buat yang lebih gembul dari Arsad." Celetuk Imam

__ADS_1


"Dikira gorengan apa bisa langsung jadi. Udah usaha juga kok, tapi mungkin memang belum waktunya."


"Iya juga, kalian baru beberapa bulan nikah. Mending naiknya aja banyakin, mumpung belum ada yang ngerecokin kan."


"Naik odong odong." Delikku kesal.


Lita beranjak, istri Imam itu meminta ijin untuk menyusu i Arsad. Bayi menggemaskan itu nampaknya sudah mulai mengantuk dan harus.


"Ar, kau masih berhubungan dengan Pri?"


Setelah kami hanya berdua, Imam beralih ke teras rumahnya. Lelaki ayah muda itu nampak semakin gemuk. Terlihat dari lengan dan dadanya yang kencang juga pipinya yang semakin berisi. Nampaknya dia sangat bahagia, dan aku bersyukur untuk itu.


"Sudah nggak, sejak malam itu."


"Kamu sudah mencoba menghubunginya?" Aku menggeleng.


"Dia mengganti nomer ponsel, juga semakin gila. Kerjaannya suka mabuk sekarang, dia kembali seperti dulu. Dimasa dia terpuruk karena penolakan keluarganya atas kamu. Tapi sekarang lebih parah. Aku sendiri bingung harus menyebut dia apa sekarang. Terkadang dia begitu ramah menyambut ku namun terkadang juga kasar. Aku susah mengenalinya lagi."

__ADS_1


Aku terdiam, sungguh tak habis pikir dengan apa yang dilakukan Mas Pri disana. Separah itulah aku menyakiti nya? Tapi bukankah kami berdua sama-sama tersakiti.


__ADS_2